Ayo ikut serta dalam simposium Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN) dalam ajang Temu Ilmiah Psikologi Sosial di Bali 21-23 Januari 2015

Ada kabar gembira untuk anggota konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, bahwa kita diberi kesempatan untuk mendapatkan 1 sesi bertema psikologi ulayat dalam Temu Ilmiah Psikologi Sosial di Bali 21-23 Januari 2015 (http://temilnasips2015.com/). Para anggota konsorsium bisa mengirimkan abstrak paling lambat tanggal 3 Januari 2015 ke email: sekretariat.kpin@gmail.com Mari sumbangkan pemikiran ilmiah anda untuk nusantara tercinta… Selamat Natal bagi yang merayakan dan selamat tahun baru 2015 untuk kita semua. Semoga perjalanan kita sebagai ilmuwan psikologi ataupun praktisi di bidang psikologi dapat berguna bagi masyarakat kita!

Advertisements

Sejarah Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Pada awal tahun 2012, dua orang kolega yang sama-sama pernah menjadi editor jurnal psikologi di Indonesia, Idhamsyah Eka Putra dan Eko A. Meinarno, bertemu dan berdiskusi mengenai masa depan publikasi ilmiah Indonesia. Fokus utama dan pertama mereka adalah permasalahan dalam publikasi jurnal psikologi, yaitu memikirkan bagaimana caranya bisa ada pengelolaan jurnal secara profesional yang tidak terkendala dengan dana dan keterbatasan jumlah artikel.

Banyak jurnal psikolologi di Indonesia mati, matisuri, ataupun tidak jelas penerbitannya karena permasalahan-permasalahan tersebut di atas. Ada juga jurnal yang sudah bagus, tetapi setelah ditinggal oleh editor (pelaksana), jurnal ini menjadi hilang dan tidak jelas. Dalam diskusi, Idhamsyah Eka Putra dan Eko A. Meinarno menyimpulkan bahwa salah satu penyebab kacaunya pengelolaan jurnal karena tidak adanya penghargaan (di samping permasahan lainnya seperti ketersediaan dana), termasuk penghargaan dalam kepantasan pemberian honorarium/bayaran tim kerja jurnal.

Saat memikirkan bagaimana caranya dapat menghargai pengelola Jurnal dengan pantas, merangkul kebutuhan universitas akan  ketersediaan jurnal, mengatur penerbitan jurnal dengan baik, serta mengatasi permasalahan dana, Idhamsyah Eka Putra  menemukan ide membangun Jurnal yang berasal dari berbagai institusi. Ide ini diterima positif oleh Eko A. Meinarno yang kemudian Dia mengembangkan idenya jauh melampaui produksi jurnal tetapi juga hasil-hasil aktivitas ilmiah lainnya. Mereka sepakat bahwa nantinya bentuk pengelolaan seperti ini akan dapat memiliki proses regenerasi yang baik, jurnal tetap hidup, dan para pendidik dapat tetap aktif memberikan konstribusi yang terpublikasi dengan baik.

Ide tersebut disampaikan ke Prof. Sarlito W. Sarwono dan disambut dengan baik. Kemudian Prof Sarlito W. Sarwono dan Idhamsyah Eka Putra membawa ide ini ke rekan-rekan Universitas Sumatera Utara (USU) yang saat itu sedang ada pertemuan Ilmiah. Niat awal USU akan membangun Jurnal baru, tetapi setelah diberikan pemaparan perihal pengelolaan jurnal oleh berbagai institusi, USU kemudian menyambut baik ide ini. Saat itu USU menyambut baik ide pengelolaan jurnal dari berbagai institusi,

Prof Sarlito W. Sarwono memulai mencari jurnal yang dapat dijadikan proyek awal. Yang dipikirkan oleh Prof Sarlito W. Sawono saat itu adalah menggunakan jurnal yang sudah memiliki nama dan sudah memiliki izin publikasi, yaitu Jurnal Psikologi Ulayat (JPU). JPU awalnya dibangun atas kerjasama antara Himpsi Jaya, Bina Nusantara, dan YAI Persada. Setelah menemukan jurnal yang dijadikan sebagai proyek perdana, Prof sarlito W. Sarwono di bawah institusi Universitas YAI Persada mengundang institusi-institusi lainnya untuk bertemu. Pada tanggal 8 Mei 2012, berkumpullah beberapa institusi dan tercetuslah nama wadah aktivitas ini sebagai konsorsium.

Dalam pertemuan di Universitas Pelita Harapan, tanggal 19 Juni 2012, konsorsium menandatangani Nota Kesepahaman Jurnal Psikologi Ulayat (JPU) serta mengesahkan Eko A.Meinarno sebagai Ketua Editor  JPU. Sebelumnya, Eko A. Meinarno telah memaparkan pandangan ke depan konsorsium sampai 2030 dalam pertemuan di Universitas YAI Persada. Secara singkat, konsorsium merupakan wadah ilmiah dari kegiatan penelitian sampai publikasi jurnal, buku, ataupun modul.

Pada akhir tahun 2014 konsorsium sepakat untuk mengembangkan kerjasama lebih luas dan membentuk nama Konsorsium Ilmiah Psikologi Nusantara (KPIN). Fakultas/Program Studi Psikologi yang tergabung menandatangani Nota Kesepahaman KPIN dan Nota Kesepahaman Ketua KPIN (lihat https://konsorsiumpsikologiilmiahnusantara.wordpress.com/2014/12/27/penandatanganan-nota-kesepahaman-kpin/).

MANUSIA MODERN

Sarlito Wirawan Sarwono

Kabinet Jokowi berjudul “Kabinet Kerja”, semboyannyapun “Kerja, kerja, kerja!”. Bagus! Sejauh ini pun masyarakat sudah melihat kehadiran pemerintah dalam menyelesaikan berbagai masalah seperti pemulangan TKI dengan pesawat Hercules TNI AU, penenggelaman kapal-kapal ikan liar oleh TNI AL, pembangunan pemukiman baru untuk pengungsi Gunung Sinabung dan masih banyak yang lain.

Tetapi membangun bangsa tidak cukup hanya oleh pemerintah. Rakyat harus terlibat, bahkan rakyatlah sokoguru utama dari pembangunan. Tugas pemerintah adalah menciptakan suasana yang kondusif untuk rakyat bekerja optimal guna membangun negara di sektornya masing-masing. Tetapi rakyat tidak cukup hanya disuruh “Kerja, kerja dan kerja!” saja. Banyak rakyat yang seumur hidupnya bekerja membanting tulang, setiap hari, sejak remaja sampai tua-renta, tetapi kehidupannya tidak beranjak dari “di bawah garis kemiskinan”.

***

Pada tahun 1970-an, seorang sosiolog dari Universitas Harvard, AS, bernama Alex Inkeles, mengamati bahwa banyak negara berkembang yang tidak berkembang, alias macet-cet, seperti jalan Ciawi-Puncak di masa liburan dan lebaran. Inkeles kemudian meneliti lima negara berkembang dan satu negara maju (Argentina, Chili, India, Bangladesh, Nigeria dan Israel) dan menyebarkan angket ke berbagai lapisan dari atas sampai paling bawah dan dari berbagai pekerjaan. Maka ia menemukan bahwa negara-negara yang macet justru yang punya SDA (Sumber Data Alam) yang melimpah, tetapi SDM (Sumber Daya Manusia) mereka tidak mempunyai “Mentalitas Modern” (pastinya Indonesia juga seperti itu).

Adapun mentalitas Modern, menurut Inkeles ditandai oleh sembilan ciri, yaitu: (1) menerima hal-hal yang baru dan terbuka untuk perubahan (2) bisa menyatakan pendapat atau opini mengenai diri sendiri dan lingkungan sendiri atau hal di luar lingkungan sendiri serta dapat bersikap demokratis, (3) menghargai waktu dan lebih banyak berorientasi ke masa depan daripada masa lalu (4) punya rencana dan pengorganisasian, (5) percaya diri, (6) punya perhitungan, (7) menghargai harkat hidup manusia lain, (8) lebih percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (9) menjunjung tinggi keadilan, yaitu bahwa imbalan  haruslah sesuai dengan prestasi.

Sekarang marilah kita lihat bagaimana ciri-ciri mental orang Indonesia. Mochtar Lubis (budayawan Indonesia, pemenang penghargaan Ramon Magsasay), dalam pidato budayanya di Taman Islail Marzuki, tahun 1977 menceritakan 10 sifat yang melekat pada manusia Indonesia, yaitu (1) munafik atau hipokrit, (2) enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, (3) sikap dan perilaku yang feodal, (4) masih percaya pada takhayul, (5) artistik, (6)  lemah dalam watak dan karakter, (7) malas, bekerja hanya kalau terpaksa, (8) suka menggerutu, (9) pencemburu, pendengki, dan (10) sok.

Tentu saja tidak semua manusia Indonesia seperti yang digambarkan oleh Muchtar Lubis. Karena itu saya termasuk salah satu pengritik beliau, ketika pidato budaya itu diterbitkan sebagai buku (“Manusia Indonesia”). Tetapi setelah sekian puluh tahun berlalu, saya pikir-pikir betul juga kata Muchtar Lubis, dan masih berlaku sampai hari ini. Tentu bukan untuk semua orang Indonesia, tetapi jelas untuk sebagian besar orang Indonesia. Orang Indonesia masih memberlakukan “jam karet”, Caleg dan Calon Kepala Daerah minta dukungan dukun atau mandi di bawah air terjun keramat, koruptor yang ditangkap KPK malah senyum-senyum dan memakai baju koko atau berjilbab di pengadilan seakan-akan dia paling siap masuk surga, pejabat tingkat atas mewajibkan setoran dari pejabat-pejabat tingkat bawahnya, lebih percaya kepada “yang di atas” (baca: nasib) dari pada perencanaan dan ilmu pengetahuan, merasa dirinya (baca: agama, etnik atau golongannya) sendiri yang benar dst. Hanya sifat artistik orang Indonesia yang positif, yang sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Sisanya merugikan semua untuk pembangunan bangsa.

Menyadari kenyataan bahwa mentalitas orang Indonesia masih jauh dari modern, dalam rangka “Revolusi Mental”, Presiden Jokowi meminta sebuah tim yang dipimpin oleh Prof. Dr. Paulus Wirutomo, sosiolog dari UI, untuk merumuskan ciri-ciri mental yang paling diperlukan oleh orang Indonesia untuk menjadikannya modern dan mampu bersaing.

Maka tim itu pun mengundang berbagai golongan masyarakat, dari pengusaha sampai rohaniwan, dari mahasiswa sampai cendekiawan, untuk dilibatkan dalam berbagai FGD (Focus Group Discussion) sesuai dengan bidangnya masing-masing, dengan tujuan untuk menjaring dan menyaring nilai-nilai yang paling diperlukan, yang kongrit dan yang operasional untuk membangun bangsa ini. Hasilnya adalah enam nilai Modern versi Indonesia, yaitu (1) Citizenship (sebagai warga negara sadar akan hak dan kewajibannya dan aktif berpartisipasi untuk masyrakat), (2) Jujur (dapat dipercaya), (3) Mandiri (dapat menyelesaikan persoalan sendiri, tidak hanya bergantung kepada pemerinah atau pihak lain), (4) Kreatif (mampu berpikir alternatif, mampu menemukan terobosan, berpikiran flexibel),  (5) Gotong Royong, dan (6) Saling Menghargai (yang kuat menghargai yang lemah, yang mayoritas menghargai yang minoritas, yang laki-laki menghargai yang perempuan, yang generasi senior menghargai yang muda dan seterusnya, dan tentu saja sebaliknya).

***

Secara teoretis, di atas kertas, keenam nilai modern untuk bangsa Indonesia sudah pas dengan kebutuhan Indonesia sekarang. Sudah sesuai dengan ciri-ciri manusia Modern versi Alex Inkels dan sangat kompatibel (saling melengkapi) dengan Pancasila. Masalahnya, bagaimana mengoperasionalkan nilai-nilai itu sampai ke tingkat lapangan? Alex Inkeles sendiri mengusulkan proses pendidikan, tetapi pendidikan terlalu lama untuk bangsa ini, sementara kebutuhan di Indonesia sudah sangat mendesak. Perintah Presiden untuk menalangi dana ganti rugi kepda korban Lapindo, belum-belum sudah dibom dengan formalitas (sumber dana dari mana dsb), apalagi di tingkat lapangan, pasti banyak permainan dari Ketua RT/RW, lurah, camat, bahkan mungkin sampai bupati, sehingga dana jatuh ke tangan yang tidak berhak. Ala maaak…..

Penerbitan Jurnal Psikologi Ulayat

Jurnal-Psikologi-Ulayat

Jurnal Psikologi Ulayat, Vol.1.No.1/Oktober 2012
Percetakan: Penerbit Kanisius, Yogyakarta

  1. Psikologi Ulayat – Sarlito Wirawan Sarwono
  2. Resiliensi dan Altruisme pada Relawan Bencana Alam – Gloria Gabriella Melina, Aully Grashinta, Vinaya
  3. Analisis Hope pada Atlet Bulutangkis Indonesia Juara Dunia Era ’70 & ’90 – Esther Widhi Andangsari & Pingkan C.B. Rumondor
  4. Kesenjangan Aspirasi Karir antara Remaja dan Orangtua – Entin Nurhayati
  5. Self Efficacy dan Kecemasan Pegawai Negeri Sipil Menghadapi Pensiun – Christian & Clara Moningka
  6. Perilaku Inovatif – Rusdijanto Soebardi
  7. Pengaruh Gaya Berpikir, Integritas dan Usia pada Perilaku Kerja yang Kontraproduktif – Mira Permatasari
  8. Dinamika Psikososial Istri sebagai Pekerja Seks Komersial Seijin Suami – Asep Guntur Rahayu & Tatie Soeranti
  9. Strategi Coping Perempuan Korban Pelecehan Seksual Ditinjau dari Tipe Kepribadian “Eysenck” – Devi Jatmika
  10. Pengaruh Stres Internal dan Stres Eksternal pada Coping Diadik Negatif –  Yonathan Aditya Goei
  11. Pengajaran Nilai Toleransi Usia 4-6 Tahun – Miwa Patnani
  12. Pengaruh Perspektif Waktu (Time Perspective) Terhadap Kualitas Relasi Sosial – Evanytha

Jurnal Psikologi Ulayat, Vol. 1. No.2 / Februari 2013
Percetakan: Penerbit Rajawali, Jakarta

  1. Hubungan Persepsi Anak Mengenai Dukungan Sosial Orangtua
    Dengan Sikap Anak Terhadap Perilaku Mengkonsumsi Buah – Mina Henrietty Anindia & Endang Fourianalistyawati
  2. Pengambilan Keputusan Seorang Istri Dalam Pernikahan Poligami – Sri W. Rahmawati
  3. Pengaruh Gratitude Terhadap Kepuasan Pernikahan – Sherla Novianty & Yonathan Aditya Goei
  4. Dampak Penghasilan Istri pada Kepuasan Pernikahan Dewasa – Pingkan C. B. Rumondor, Greta Vidya Paramita, Nangoi Priscilla Francis, Putri Lenggo Geni
  5. Asertivitas Seksual dan Perilaku Seks Pranikah pada Mahasiswa – Natalia Tholense & Wahyu Rahardjo
  6. Kecemasan dan Depresi pada Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Terapi Hemodialisis – Riselligia Caninsti
  7. Peran Pendidikan Agama dan Kewarganegaraan di SMA Dalam Meningkatkan Karakter Tangguh, Kompetitif dan Dinamis – Antonina Pantja Juni Wulandari & Astrini
  8. Proses Resiliensi Jurnalis Radio 68H Pasca Bom Buku 15 Maret 2011 – Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
  9. Resiliensi Taruna STP dari Keluarga Pelaku Utama Perikanan – Sri W. Rahmawati & Mira Rizki Wijayani
  10. Gambaran Resiliensi Remaja Penderita Luka Bakar di Panti Asuhan – Nesya Ayu Pertiwi, Vinaya, Yusuf Hadi Yudha
    Akibat Setitik Kejahatan, Rusak Kebaikan Sebelanga – Subhan El Hafiz
  11. Validasi Konstruk Inventori Adaptasi Inovasi Kirton Dalam Bahasa Indonesia – Gracia Tobing, Veronika Efata Angelina, Dea Franceline, Morina Yuandary Anwar, Christiany Suwartono, Magdalena Halim

Galeri Penandatanganan Nota Kesepahaman KPIN, 2014

Laporan Kerja Ketua Tim Penyunting JPU 2012-2014

Dalam pertemuan 17 Desember 2014, Ketua Tim Penyunting Jurnal Psikologi Ulayat memaparkan proses penyuntingan berikut tantangannya. Lebih detil, silahkan lihat dalam tautan berikut 2014 12 17 Laporan Kerja Tim Penyunting JPU

Lihat juga penerbitan Jurnal Psikologi Ulayat di https://konsorsiumpsikologiilmiahnusantara.wordpress.com/2014/12/28/penerbitan-jurnal-psikologi-ulayat/