Choice Theory Ditinjau dari Pandangan Budaya (PIC Jurnal, Yonathan Aditya)

Ada banyak aliran dalam psikoterapi/konseling, salah satunya adalah choice theory/reality therapy (CTRT). Choice theory adalah teori psikologi yang dikembangkan oleh William Glasser. Glasser mendifinisikan choice theory sebagai teori psikologi baru untuk kebebasan manusia. Reality therapy di pihak lain adalah psikoterapi/konseling yang dilakukan berdasarkan pada choice theory.

Artikel ini mencoba membahas kesesuaian choice theory dengan budaya Indonesia khususnya dari pandangan Kristen dan bagaimana menyikapinya jika ada ketidak sesuaian. Tentu saja tidak mungkin membahas choice theory secara komprehensif dalam tulisan singkat ini, oleh karena itu tulisan ini hanya akan membahas filosofi dasar dari choice theory.

Choice theory pada dasarnya berusaha menjelaskan cara kerja otak dalam memproses informasi hingga akhirnya berujung dalam tingkah laku dan juga apa yang mendasari tingkah laku manusia.

Choice theory mempunyai dua filosofi dasar yaitu fenomenologis dan eksistensial. Fenomenologis artinya setiap orang mempunyai persepsi yang unik (perceived world) mengenai kejadian yang ada di dunia (real world). Persepsi yang dimiliki masing-masing orang bisa sama atau berbeda dari orang yang lain. Menurut Glasser persepsi ini lebih penting daripada kejadian nyata yang ada di dunia, karena persepsi inilah yang akan mempengaruhi tingkah laku seseorang. Misalnya Amir, Ali, dan Anto baru saja menerima hasil ujian matematika mereka, dan kebetulan mereka semua memperoleh nilai 8. Sekalipun mereka mendapat nilai yang sama respon mereka ternyata berbeda: Amir sangat senang, Ali sedih, sedangkan Anto ketakutan. Tingkah laku mereka berbeda sekalipun mereka mengalami kejadian yang sama (real world) karena persepsi mereka (perceived world) berbeda. Amir sangat senang karena dia tidak pernah mendapat nilai 7 dalam ujian matematika, sehingga nilai 8 adalah pencapaian yang luar biasa. Ali sedih karena nilai matematikanya selalu diatas 9, mendapat nilai 8 adalah kemunduran. Di pihak lain Anto takut karena orang tuanya selalu menghukum dia jika mendapat nilai matematika dibawah 9. Dengan mengetahui persepsi (perceived world) mereka barulah tingkah laku mereka dapat dimengerti dengan lebih baik.

Aspek fenomenologis dari choice theory ini dapat membawa implikasi pada tidak adanya kebenaran mutlak. Setiap orang bisa dan berhak mempunyai persepsi yang berbeda dari orang lain tentang kejadian yang sama. Dengan demikian tidak ada persepsi yang benar dan salah, semuanya menjadi relatif. Bahkan Kathleen Glasser dalam buku yang ditulisnya bersama William Glasser sebelum William Glasser meninggal yang berjudul Take Charge of Your Life berpendapat orang-orang yang religius yaitu mereka yang percaya pada adanya kebenaran mutlak cenderung bermasalah. Glasser dan Glasser berasumsi mereka yang percaya pada adanya kebenaran mutlak akan cenderung memaksakan pendapatnya pada orang lain, sehingga menyalahi aspek fenomenologis ini.

Hal diatas dapat menjadi tantangan bagi orang Indonesia yang merupakan kaum agamis. Kaum agamis percaya pada adanya kebenaran mutlak. Ada beberapa kepercayaan dasar yang dianggap benar dan tidak bisa diganggu gugat. Apakah karena kaum agamis percaya pada kebenaran mutlak maka mereka tidak bisa menggunakan choice theory? Jika karena adanya pertentangan suatu teori harus ditolak, maka hampir semua teori psikologi akan ditolak karena hampir semua teori psikologi mempunyai ketidakcocokkan dengan doktrin agama.

Salah satu prinsip yang perlu diingat untuk mengatasi dilema ini adalah prinsip bahwa semua kebenaran adalah kebenaran Tuhan. Jadi tidak peduli di manapun kebenaran itu ditemukan, maka kebenaran itu adalah kebenaran Tuhan. Begitu juga dalam choice theory, pasti ada kebenaran dalam teori ini karena kalau tidak teori ini sudah ditinggalkan. Dengan demikian ada kebenaran dalam teori ini yang dapat dimanfaatkan. Kembali ke masalah aspek fenomenologis dari teori ini, memang sampai tahap tertentu persepsi itu relatif, tergantung dari pemahaman pribadi yang bersangkutan.

Problem akan timbul jika pandangan ini ditarik ke arah ekstrim, hingga berpendapat tidak adanya kebenaran mutlak. Oleh karena itu prinsip fenomenologis dari choice theory ini tidak akan menjadi masalah buat kaum agamis, jika mereka menyadari relativisme ini tidak mutlak. Ada batasan dari relativisme ini dan kebenaran mutlak itu ada. Selain itu hal lain yang sering dicampur adukkan adalah dugaan bahwa mereka yang memegang kebenaran mutlak (kaum agamis) selalu memaksa orang lain untuk mempunyai paham yang sama. Padahal percaya pada adanya kebenaran mutlak dan memaksakan orang lain untuk menganut paham yang sama adalah dua hal yang berbeda. Bisa saja seseorang mempercayai adanya kebenaran mutlak tapi tetap menghargai orang lain yang mempunyai pandangan yang berbeda. Demikian pula mungkin saja ada orang yang tidak percaya pada adanya kebenaran mutlak, tapi memaksakan orang lain harus mempunyai pandangan yang sama dengan dirinya. Dengan demikian memaksakan pendapat pada orang lain tidak selalu berhubungan dengan kepercayaan pada kebenaran mutlak. Oleh karena itu dugaan bahwa mereka yang mempunyai kebenaran mutlak selalu bermasalah juga tidak benar.

Prinsip kedua dari choice theory adalah Eksistensialisme. Glasser berpendapat setiap orang mempunyai kehendak bebas. Mereka berhak menentukan apa yang akan dilakukannya, selama hal itu tidak menganggu orang lain untuk menjalankan kehendak bebasnya. Dengan kata lain tidak ada seorangpun yang boleh dan bisa merampas kehendak bebas orang lain. Pendapat Glasser ini mirip dengan pendapat Frankl. Frankl berpendapat di kamp konsentrasi Nazi, para tawanan hampir kehilangan segalanya, satu-satunya hal yang tidak dapat dirampas adalah kehendak bebas. Jika para tawanan tidak takut dengan resikonya maka para sipir penjara tidak bisa memaksa mereka melakukan sesuatu yang tawanan itu tidak sukai.

Aspek kedua dari Eksistensialisme ini adalah tanggung jawab. Glasser menekankan karena setiap orang bebas melakukan apa yang dipilihnya maka dia harus bertanggung jawab atas pilihannya itu. Setiap pilihan akan selalu konsekuensinya. Oleh karena setiap orang bebas menentukan pilihannya, maka orang itu harus siap memikul tanggung jawab atas pilihan yang diambilnya.

Prinsip choice theory bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang dilakukannya, juga dapat menjadi persoalan jika dilihat dari konsep dasar beberapa agama mislanya Kristen: seperti sampai sejauh mana manusia bisa memilih dan dimana letak kedaulatan Tuhan. Salah satu konsep kekristenan tentang akibat dari kejatuhan manusia dalam dosa adalah pilihan manusia selalu cenderung kearah yang negatip. Untuk menyelesaikan pertentangan ini dapat dipakai cara seperti penyelesaian pertentangan kekristenan dengan prinsip pertama choice theory diatas.

Sampai tahap tertentu manusia memang memiliki kehendak bebas, mereka misalnya bisa memilih mau menonton bioskop atau belajar, berselingkuh atau tetap setia kepada pasangannya. Masalah akan muncul jika prinsip ini diekstrimkan dan menganggap seolah-olah manusia adalah Tuhan bagi dirinya sendiri dan tidak mengakui keterbatasannya. Oleh karena itu penganut Kristen dan agama lain yang mempercayai adanya kedaulatan Tuhan perlu menyadari adanya keterbatasan dalam kehendak bebas manusia jika mereka menerapkan choice theory. Manusia sesungguhnya tidak benar-benar bebas memilih, kebebasan mereka dibatasi oleh kedaulatan Tuhan dan juga oleh natur manusia yang berdosa.

Melalui penjelasan singkat di atas, diharapkan kita bisa menyadari adanya beberapa hal yang perlu disesuaikan jika kita akan menerapkan choice theory dengan benar dan sekaligus konsekuen dengan kepercayaan yang kita anut.

Daftar Pustaka:
Glasser, W (1998). Choice theory: A New psychology of personal freedom. New York: Harper Perennial.
Glasser, W (2000). Counseling with choice theory. New York: Harper Collins.
Glasser, W (2011). Take charge of your life: How to get what you need with choice theory psychology. Bloomington: iUniverse.
Jones & Bultman (2011). Modern psychotherapies: A comprehensive Christian appraisal. Downers Grove: Intervarsity Press.
Wubbolding (2000). Reality Therapy for the 21st Century. Philadelphia: Brunner-Routledge.

Advertisements

KULIAH UMUM PSIKOLOGI SOSIAL UNIVERSITAS BUNDA MULIA – JAKARTA (by PIC event KPIN, Clara Moningka)

Kerjasama dengan Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara sangat memberikan dampak positif bagi paras anggotanya. Pekan lalu, 13 Februari 2015, Program Studi Psikologi Universitas Bunda Mulia, mengundang Saudara Eko Meinarno untuk sharing mengenai peran budaya dalam psikologi. Acara ini disekenggarakan berkat kerjasama Prodi Psikologi UBM dengan KPIN. Saudara Eko menyampaikan betapa budaya sangat mempengaruhi cara pandang manusia dan masyarakat, sehingga perlu kepekaan bagi para akademisi psikologi dan praktisi psikologi pada unsur budaya dalam mengkaji sesuatu. Kita seringkali menggunakan teori barat sebagai kiblat, dan hal itu tidak salah… hanya saja sering kali kita menggeneralisasikan teori tersebu tanpa meninjau kembali keadaan individu ataupun masyarakatnya.

Sebagai dosen Psikologi sosial dan akademisi yang tertarik pada kajian psikologi sosial saya juga kerap mempergunakan handbook dari barat. Namun saya juga membandingkan dengan struktur masyarakat kita, termasuk budaya. Hal inilah yang terkadang dilupakan oleh banyak akademisi dan praktisi.

Semoga kegiatan Konsorsium ini akan terus bertambah dan memberikan angin segar bagi Psikologi di Indonesia. Tingkatkan kerjasama diantara kita!DSC_1854

SIMPOSIUM NASIONAL: Pendekatan Biopsikososial dan Spiritual di dalam Psikologi Kesehatan untuk Meningkatkan Well-Being dalam Kondisi Sehat Maupun Sakit

-PELAKSANAAN-
6 April 2015, pk.08.00-16.00wib
Ruang Theater GAP Lantai 8
Universitas Kristen Maranatha

-Topik Yang Akan Dibahas-
* Faktor Biopsikososial & Spiriual dalam kaitannya dengan kesehatan & penyakit kronis.
* Kaitan antara WELL-BEING dengan persepsi diri terhadap kondisi kesehatan, panjang umur, perilaku hidup sehat, penyakit fisik dan mental, relasi sosial, produktivitas, dan berbagai masalah sosial di lingkungan.
* Indikator di dalam WELL-BEING
* Intervensi di dalam Psikologi Kesehatan
* Pengukuran-pengukuran di dalam Psikologi Kesehatan.

-PEMBICARA-
* Dr. Gerard Naring
* Prof. Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, Psik
* Aulia Iskandarsyah, M.Psi., M.Sc., Ph.D
* Dr. Henndy Ginting, Psikolog
* Dr. O. Irene Prameswari Edwina, M.Si., Psikolog – Psikoterapis

-Call for Papers and Proposals-
Peserta dapat mempresentasikan proposal penelitian yang berkaitan dengan tema simposium dan topik-topik yang disebutkan diatas, juga akan dibahas oleh salah satu dari pembicara dan juga peserta simposium. Presentasi tersebut dapat ditulis dalam format artikel penelitian empiris untuk hasil penelitian / makalah literature review untuk proposal penelitian (lihat APA Publication Manual 6th Edition).

Artikel yang sudah direvisi akan diterbitkan ke dalam JURNAL HUMANITAS (terbitan FP-UKM) atau INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PSYCHOLOGY (terbitan ikatan psikologi klinis indonesia). Abstrak hasil atau proposal penelitian ditulis dalam B.Indonesia (tidak lebih dari 350 kata) atau B.Inggris (tidak lebih dari 250 kata), termasuk Judul, Tujuan Penelitian, Metode dan Kesimpulan.

Abstrak dikirim PALING LAMBAT Tgl 15 Maret 2015 melalui E-mail trainingupp@maranatha.edu

Setelah mendapatkan konfirmasi bahwa abstrak diterima, peserta dapat langsung menulis artikel (full paper) yang dimaksud diatas. FULL PAPER di tulis dalam B.Indonesia atau B.Inggris dengan kapasitas 5000-7000 kata dan sudah dikirimkan PALING LAMBAT Tgl 4 April 2015.

-INVESTMENT-
* Mahasiswa UKM S1&S2 : 50.000
* Mahasiswa Umum S1 : 75.000
* Mahasiswa Umum S2 : 100.000
* Dosen & Peneliti : 150.000
* Praktisi : 200.000

-Facilities-
Seminar kit, Certificate, Lunch and Coffee Break.

CP :
Tessa 085294555699
Melissa 085722145445

Blessing in disguise by Clara Moningka

Beberapa kejadian dalam hidup kita kadang begitu mengesalkan. Sebut saja beberapa  seperti proses mutasi di pekerjaan yang pada awalnya kurang menyenangkan, laptop dicuri orang, teman yang mengecewakan, lalu menang 2 undian dalam bulan yang sama namun dibatalkan karena dipanggil berkali-kali tidak muncul juga.. (padahal sedang duduk dekat sekali, atau sebenarnya sedang ke kamar kecil). Semua permasalahan kita, di kantor; berhubungan dengan pekerjaan, masalah di rumah, di lingkungan sosial terkadang membuat kita berpikir..”kok sial amat yah” atau “aduh kenapa yah menimpa diri saya”. Kalimat itu kerap kita lontarkan juga saat curhat. Benar.. disaat kita sedang mengalami hal yang tidak menyenangkan jelas kita akan mengeluh dulu… sepertinya jarang deh ada yang langsung bersyukur atau berterima kasih diberi cobaan… awalnya pasti marah, menangis, denial; menyangkal… pokoknya grieving ala Kubler- Ross, sampai pada akhirnya bisa menerima (entah dengan lapang dada atau ngedumel — alias belum lapang dada namun depan semua orang mengatakan sudah). Belum lama ini teman saya juga curhat… temannya sendiri “menusuk” dari belakang, dan saat itu yang ia rasakan adalah murka… emosi yang muncul adalah marah, sedih… sampai saya sendiri jatuh simpati bukan empati lagi…. Jadi kesal dan sampai mau nangis juga. Sepertinya kejadian buruk tidak ada hentinya, dan kejadian yang baik hanya intermezzo saja…

Ketika kejadian buruk menimpa kita cukup sering kita curhat, berkeluh kesah pada teman baik ataupun orang yang kita percaya… satu hal yang kemudian menjadi inspirasi saya untuk membuat tulisan ini adalah sesi curhat saya dengan teman, rekan, juga guru saya.. Dr.  Nilam Widyarini, mama saya, suami saya, anak saya dan juga teman baik saya… mereka adalah tempat curhat ter-andal dan ternyata memberikan pelajaran hidup untuk saya… Saya banyak belajar dari mereka bahwa segalah hal yang buruk yang terjadi pada diri kita merupakan ujian yang membuat kita menjadi semakin tangguh. Ibu Nilam pernah mengumpamakan hidup seperti berselancar. Bagi peselancar, ombak yang besar merupakan sahabat bagi peselancar dan membawa kenikmatan dalam berselancar. Ombak berbahaya dan begitu menakutkan, namun tanpa ombak mana bisa berselancar. Secara praktik, hidup memang tidak semudah bermain selancar, namun analogi ombak yang merupakan musuh namun bila dipergunakan dengan baik akan menjadi sangat menguntungkan patut dipertimbangkan.

Mama saya juga kerap mengatakan bahwa hidup mesti berombak, mesti banyak angin ribut, kalau tidak tidak menjadi pintar (aihh…kalau bisa memilih saya mau yang tenang-tenang saja..hihi), namun setelah angin ribut atau badai.. pasti selalu ada pelangi lagi… yang penting berbuat baik dan hidup lurus, pasti ada jalan (amin). Lain lagi suami saya, sebagai guru yang selalu sabar dan nggak pernah rewel. Makan saja tidak merepotkan, apapun jadi.. Nasi dingin, panas tidak masalah… yang penting ada makanan hari ini… Kalau anak saya yang berusia hampir 5 tahun berbeda lagi… selalu membantu orang lain dan apa;apa selalu bilang ” apa yang bisa dibantu, saya bantu apa, minta tolong dong sama saya”.

Semua yang mereka berikan pada saya dalam bentuk nasihat, cerita, perilaku adalah bentuk rasa syukur;gratitude. Gratitude sendiri berasal dari bahasa Latin: gratia. Kata tersebut mengandung arti memberdayakan diri (untuk orang lain), memberikan sesuatu yang berharga pada orang lain dan menghargai setiap kejadian dalam hidup kita. Sepertinya perilaku ini sangat naif… masa sih peristiwa buruk, perbuatan yang bikin kita repot, malah kita harus bersyukur. That’s the point… It is hard to understand… Tetapi ketika kita melakukannya ternyata menyenangkan loh… kita lupa bahwa dalam keadaan tidak menyenangkan kadang ada sesuatu yang bisa diambil hikmahnya; malah menggembirakan… yang sulit adalah meluangkan waktu untuk merefleksikannya… Misalnya kehilangan barang… apa untungnya, apa yang harus disyukuri… ketika laptop saya hilang yang ada mengkal; gondok. Bersyukur dari mana… tapi di balik kehilangan tersebut saya punya laptop baru lho… lebih bagus dan ringan… saya jadi rajin cari-cari jurnal lantaran semua jurnal saya hilang…. (jadi membaca..jadi ada ide untuk bikin proposal desertasi), dan yang paling utama adalah jadi hati-hati dan tidak ceroboh. Dari kejadian itu saya jadi belajar tidak menyalahkan orang lain bahwa orang lain jahat dan bla..bla..bla.. namun bertanggung jawab atas perbuatan saya juga. Rela?? Belum sih..belajar..iya… banyak hal…dan lebih menyadari bahwa materi sifatnya bisa saja sementara… Hadiah undian hilang begitu saja pernah terjadi pada saya… kesal? sempat kok… hadiahnya lumayan… tapi ketika yang menggantikan saya (karena nama saya dibatalkan) ternyata memeluk hadiah tersebut dengan gembira dan sampai-sampai merasa barang itu berharga membuat saya tertegun juga. Butuh waktu beberapa saat untuk sadar..saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut..namun orang lain lebih membutuhkan… Toh saya tidak keluar uang untuk menyumbang, barangnya juga hadiah… nothing to lose. malah membuat orang lain jadi happy… anggap saja menyumbang kata suami saya…

Ada baiknya di dunia yang sudah begitu kompleks kita memang menyederhanakan hidup kita… make it simple kata teman saya… yah itu.. selalu ada blessing in disguise; rahmat atau berkah dalam (apa yang kita anggap) kemalangan. Every cloud has a silver lining… Kalau Frankl saja bisa memaknai penderitaannya di kamp konsenkrasi (yang tidak mungkin banget buat saya), kita tidak usah punya misi sebesar dan serumit itu… dicoba saja dari hal yang kecil… saya juga sedang dalam proses mencoba terus dan terus.. let it go, let it go… dan kemudian mengubah hal tidak menyenangkan menjadi rahmat untuk kita… bisakah kita??? (Jawab: dicoba dan pasti bisaaaa)

Mengapa Perlu Modul-Buku?

Eko A. Meinarno
PIC Modul-Buku KPIN 2015-2018

Psikologi di Indonesia masih butuh bahan bacaan/rujukan untuk alat bantu ajar. Harus kita kaui bahwa pengajaran dengan bantuan buku-buku asing hanya berdampak pada masyarakat yang terbatas yakni dosen atau ilmuwan yang fasih berbahasa asing (dalam hal ini bahasa Inggris). Keterbatasan ini semakin dipersempit dengan kemampuan baca bahasa Inggris dari para mahasiswa, jelas ini bukan salah mereka karena bahasa ibu yang mereka lafalkan adalah bahasa Indonesia. Kesenjangan terjadi ketika dosen yang mengajar (dan bisa bahasa Inggris) kemudian mengajar mahasiswa -yang masih membutuhkan peningkatan bahasa Inggris- dengan materi/buku bahasa Inggris. Dapat dibayangkan apa yang terjadi kemudian.

Keadaan ini makin memprihatinkan ketika kita tahu bahwa yang persentase penduduk Indonesia yang menikmati pendidikan di atas SMA hanya berkisar 4-6% dari populasi. Lantas mengapa bahan ajar berbahasa Indonesia terbatas? Jika hanya karena kurangnya penelitian saya kira tidak. Dengan asumsi satu fakultas psikologi menghasilkan setidaknya 100 skripsi, selama empat tahun akan menghasilkan 400 rujukan ilmiah. Jika tiap skripsi merujuk lima jurnal maka akan ada 500 rujukan!!!! Dengan demikian ada 100 riset dalam negeri dengan dukungan 400 riset asing. Apakah ini masih dikatakan kurang rujukan?

Menjawab tantangan itu, K-PIN berupaya mengisi bagian yang kosong ini dengan kegiatan yang bermanfaat bagi para anggota, salah satunya dan memang terpenting adalah bahan ajar. Bagian yang mencoba menjawab tantangan ini adalah bagian modul-buku. Bagian pengembangan modul buku mempunyai empat tugas penting, dengan dua diantaranya yang diutamakan adalah:
1. Mengembangkan kerjasama penulisan modul-buku bersama anggota konsorsium
2. Mengembangkan potensi kerjasama dengan penerbit

Mengapa dimulai dari modul? Modul adalah satuan bahan ajar terkecil yang dibaca oleh individu. Dapat dikatakan modul bahan bacaan mahasiswa selepas ia dari kelas atau pada saat di kelas selain buku rujukan utama. Modul muncul tiap sesi, yang artinya ia adalah bahan ajar yang memang bagian dari pengajaran kita sebagai pengajar. Misalkan kita mengajar lima sesi, ya setidaknya kita membuat lima modul.

Keuntungan modul jelas ada di depan mata. Pertama basisnya adalah GBPP (garis-garis besar pedoman pengajaran) yang kemudian umumnya diterjemahkan menajdi satuan acara pengajaran (SAP). Setiap SAP yang dilakukan per sesi itu umumnya terdapat bahan ajar yang kita sebut ppt. Bahan itulah yang menjadi bahan untuk membuat tiap-tiap modul.
Lantas di mana letak keuntungan membuat modul? Apakah Anda belum melihatnya? Apakah pernah mendengar kata diktat? Sejauh saya mencari-cari di internet terungkap bahwa diktat itu kumpulan modul. Ya, sangat sederhana, hanya kumpulan modul yang rapi dan standar (seusia GBPP) plus sudah disahkan oleh institusi. Mulai terlihat keuntungannya? GBPP sekian kum, kumpulan modul sekian kum, dan selangkah lagi menjadi buku dengan nilai 20 kum!!!! Silakan Anda ambil kalkulator.

Saya menulis bagian ini awalnya untuk menjadi bahan (jika ada) pelatihan menulis modul-buku sesuai impian KPIN. Namun atas desakan ketua (hidup yang mulia!) tulisan ini saya luncurkan. Saya yakin sebelum tulisan ini munculpun, rekan-rekan sudah gatal untuk berkontribusi terhadap KPIN dan nusa bangsa. Tak lupa, membuat modul-buku juga menjadi ajang aktualisasi diri (ingat hirarki kebutuhan Maslow). Mahasiswa tanpa sadar akan memposisikan kita sebagai dosen yang memahami keterbatasan mereka, dan mereka akan jauh menghargai hal itu ketimbang hal lainnya. Dan yang terakhir, menulis modul dengan basis riset Indonesia akan membuat kita menjadi orang-orang pertama/pionir yang meletakkan batu dari jalan ilmu psikologi di Indonesia.

Kita dan Kami

Oleh Ardiningtiyas Pitaloka

Awal Februari 2015 ini saya kembali ‘manggung’ di empat kelas semester IV yang penuh dengan wajah imut nan segar. Kata segar di sini bermakna rupa-rupa, di antaranya karena merupakan angkatan mahasiswa yang baru saya temui alias belum pernah saya ajar sebelumnya. Tantangan pertama yang jelas di depan mata adalah: menghafalkan nama mereka. Pengalaman selama ini, begitu nama hafal, ternyata memasuki masa UAS…

Dalam pertemuan pertama di dua mata kuliah berbeda, ternyata ada satu materi yang tidak lepas dan layak menjadi materi sepanjang semester, jika diperlukan. Materi: kita dan kami.

Ada kecenderungan sangat kuat untuk menyamakan penggunaan kata ‘kita’ dan ‘kami’ sehingga rancu. Kecenderungan ini sebenarnya tidak asing di masyarakat luas, buktinya sampai keluar celetukan ‘Kita? Elu aja kali…’   Celetukan ini secara tidak sadar merupakan protes akan penggunaan kita dan kami yang tidak tepat. Mungkin terkesan sepele dan ringan karena percakapan sehari-hari bukanlah ujian tata bahasa nan rapi, tetapi mengganggu juga.

Saya sendiri sudah sering menemui hal tersebut dalam kelas, baik ketika mahasiswa menjelaskan dalam tanya jawab spontan atau presentasi menggunakan slide. Biasanya saya spontan mengoreksi yang langsung mendapatkan sambutan cekikikan maupun senyum tersipu-sipu. Begitu pun dengan pertemuan pertama di awal semester ini, kata ‘kami’ seolah melebur dalam ‘kita’. Tak tahan, saya pun meminta secara eksplisit agar kelas mengoreksi serta membiasakan menggunakan kita dan kami secara tepat. Hasilnya……, bertebaranlah celetukan ‘kamiiii’ ….dan latar suara tawa cekikikan setiap teman mahasiswa yang melakukan presentasi menyebut kata ‘kita’ alih-allih ‘kami’.

Nuansa kelas pun berasa kelas bahasa, lebih ajaib lagi…..seperti bahasa asing. Mahasiswa yang melakukan presentasi singkat pun mulai terlihat berhati-hati dan berhenti sejenak ketika akan menyebutkan kata kami. Beberapa kali mereka bahkan seperti kehilangan kata-kata yang telah dipersiapkan sebelumnya gara-gara mengoreksi kata ‘kita’ menjadi ‘kami’.  Presentasi berjalan seperti mobil yang melaju di atas jalan penuh bebatuan, sesekali berhenti, berbelok, yang pasti tidak lancar. Saya pun seolah bernostalgia saat belajar bahasa asing, berusaha mengingat kosakata atau tata bahasa yang benar: apakah akan menggunakan have been atau have.

Ternyata bahasa yang kita anggap telah menjadi makanan sehari-hari, tak kalah dengan nasi, masih memerlukan pembiasaan baru. Tanpa permisi, terlintaslah pemahaman tiba-tiba (atau bisa disebut ilham?) di kepala saya, inilah mengapa mata kuliah maupun pelajaran bahasa Indonesia tetap harus ada. Saya pikir seru juga untuk menerapkan secara konsisten di kelas, kalau perlu ya…sepanjang semester.

Antara geli dan berusaha mengapresiasi usaha mereka, saya pun penuh semangat 45 menyiramkan motivasi “Yah…..anggaplah kita semua dari luar negeri yang sedang belajar bahasa Indonesia..”

Bagaimana dengan Anda?

Pendirian Ikatan Psikologi Sosial

Oleh Sarlito Wirawan Sarwono

Ini catatan di agenda saya tentang hari Kamis 11 November 1999,  hari jadinya IPS (Ikatan Psikologi Sosial):

11 November 1999 Kamis

Tiga acara penting:

  • Komisi D (nggak ikut)
  • Gegar QUE (ikut sebentar, nari-nari)
  • Simposium  Etno  psi (sukses, hadir 150 orang, termasuk  dari  luar Jakarta), dilanjutkan dengan pembentukan IPS.
  • 18.30 Kuliah Psikologi Seksual (Ext)

Keterangan:

  • Komisi D adalah salah satu Komisi di Dewan Guru Besar Universitas Indonesia (UI) yang tugasnya adalah menilai pencalonan kenaikan pangkat dosen yang mau dipromosikan untuk menjadi Guru Besar. Saya anggota dari Komisi itu. Hari itu ada sidang Komisi D, tetapi saya absen, karena ada acara-acara penting di fakultas dan saya waktu itu Dekan Fakultas Psikologi.
  • QUE (Quality of Undergraduate Education) adalah program World Bank untuk meningkatkan kualitas pendidikan S1 di Indonesia. Fakultas Psikologi (F.Psi.) UI berhasil memenangkan kompetisi yang sangat berat. Ada 630an peserta PTN dan PTS seluruh Indonesia, dan F.Psi. UI berhasil keluar menjadi salah satu dari 16 pemenang se-Indonesia. UI kebagian beberapa pemenang (saya lupa Prodi-prodi apa di lingkungan UI yang ikut memang), dan hebatnya: F.Psi. UI pada waktu itu merupakan Fakultas Ilmu Sosial (non-exacta) pertama yang memenangkan kompetisi ini. Sebelumnya kompetisi ini hanya dimenangkan oleh Prodi-prodi eksakta. Dana yang disediakan adalah US$ 1.200.000 untuk program 4 tahun (2000-2004, selesai pas masa kedekanan saya berakhir (1997-2004)) yang kami gunakan untuk membangun laboratorium, perpustakaan, mengembangkan kurikulum dan mengirim tenaga dosen belajar ke luar negeri. Hari itu kami mengadakan sosialisasi (memberitahukan) kemenangan ini kepada seluruh warga Civitas Akademika F.Psi. UI, dengan acara hura-hura, joged-joged, dll, karena dalam persiapan untuk membuat borang  proposal yang akhirnya menang ini, hampir semua civitas akademika terlibat, dan makan waktu hampir setahun.
  • Simposium Etno Psikologi saya gelar di Aula F.Psi. UI, sebagai antisipasi perkembangan psikologi yang makin lama makin memperhitungkan faktor kebudayaan. Tampil sebagai pembicara pada waktu itu Prof Dr Subyakto, MPA (alm., GB Antropologi di F.Psi. UI), Prof. Dr. Bernadette Setiadi (kemudian menjadi Rektor Univ. Atmajaya) dan saya sendiri. Berawal dari simposium itu mata kuliah Psikologi Lintas Budaya  di F.Psi. UI menjadi mata kuliah wajib, dan mendorong penelitian-penelitian Psikologi Ulayat (yang menghasilkan disertasi Prof Dr Irmawati, sekarang Dekan Fak Psikologi USU, tentang Psikologi Etnik Batak Toba).
  • Pada penghujung acara simposium Etno Psikologi itulah para hadirin sepakat untuk mendirikan IPS (ikatan Psikologi Sosial), dan memilih (atau menunjuk?) saya sebagai ketuanya, dan sdr Drs Sigit Edi sebagai Wakil Ketua.
  • Saya tutup kegiatan saya hari itu dengan memberi kuliah Psikologi Seksual di Program Ekstensi F.Psi. UI. Pada waktu itu, kuliah itu masih uji coba, tetapi kemudian dikembangkan sebagai mata kuliah pilihan di program reguler juga, walaupun setelah saya tidak jadi dekan lagi, mata kuliah itu dihapuskan sama sekali dari kurikulum (adanya sekarang malah di FPsi Universitas Pancasila)