Blessing in disguise by Clara Moningka

Beberapa kejadian dalam hidup kita kadang begitu mengesalkan. Sebut saja beberapa  seperti proses mutasi di pekerjaan yang pada awalnya kurang menyenangkan, laptop dicuri orang, teman yang mengecewakan, lalu menang 2 undian dalam bulan yang sama namun dibatalkan karena dipanggil berkali-kali tidak muncul juga.. (padahal sedang duduk dekat sekali, atau sebenarnya sedang ke kamar kecil). Semua permasalahan kita, di kantor; berhubungan dengan pekerjaan, masalah di rumah, di lingkungan sosial terkadang membuat kita berpikir..”kok sial amat yah” atau “aduh kenapa yah menimpa diri saya”. Kalimat itu kerap kita lontarkan juga saat curhat. Benar.. disaat kita sedang mengalami hal yang tidak menyenangkan jelas kita akan mengeluh dulu… sepertinya jarang deh ada yang langsung bersyukur atau berterima kasih diberi cobaan… awalnya pasti marah, menangis, denial; menyangkal… pokoknya grieving ala Kubler- Ross, sampai pada akhirnya bisa menerima (entah dengan lapang dada atau ngedumel — alias belum lapang dada namun depan semua orang mengatakan sudah). Belum lama ini teman saya juga curhat… temannya sendiri “menusuk” dari belakang, dan saat itu yang ia rasakan adalah murka… emosi yang muncul adalah marah, sedih… sampai saya sendiri jatuh simpati bukan empati lagi…. Jadi kesal dan sampai mau nangis juga. Sepertinya kejadian buruk tidak ada hentinya, dan kejadian yang baik hanya intermezzo saja…

Ketika kejadian buruk menimpa kita cukup sering kita curhat, berkeluh kesah pada teman baik ataupun orang yang kita percaya… satu hal yang kemudian menjadi inspirasi saya untuk membuat tulisan ini adalah sesi curhat saya dengan teman, rekan, juga guru saya.. Dr.  Nilam Widyarini, mama saya, suami saya, anak saya dan juga teman baik saya… mereka adalah tempat curhat ter-andal dan ternyata memberikan pelajaran hidup untuk saya… Saya banyak belajar dari mereka bahwa segalah hal yang buruk yang terjadi pada diri kita merupakan ujian yang membuat kita menjadi semakin tangguh. Ibu Nilam pernah mengumpamakan hidup seperti berselancar. Bagi peselancar, ombak yang besar merupakan sahabat bagi peselancar dan membawa kenikmatan dalam berselancar. Ombak berbahaya dan begitu menakutkan, namun tanpa ombak mana bisa berselancar. Secara praktik, hidup memang tidak semudah bermain selancar, namun analogi ombak yang merupakan musuh namun bila dipergunakan dengan baik akan menjadi sangat menguntungkan patut dipertimbangkan.

Mama saya juga kerap mengatakan bahwa hidup mesti berombak, mesti banyak angin ribut, kalau tidak tidak menjadi pintar (aihh…kalau bisa memilih saya mau yang tenang-tenang saja..hihi), namun setelah angin ribut atau badai.. pasti selalu ada pelangi lagi… yang penting berbuat baik dan hidup lurus, pasti ada jalan (amin). Lain lagi suami saya, sebagai guru yang selalu sabar dan nggak pernah rewel. Makan saja tidak merepotkan, apapun jadi.. Nasi dingin, panas tidak masalah… yang penting ada makanan hari ini… Kalau anak saya yang berusia hampir 5 tahun berbeda lagi… selalu membantu orang lain dan apa;apa selalu bilang ” apa yang bisa dibantu, saya bantu apa, minta tolong dong sama saya”.

Semua yang mereka berikan pada saya dalam bentuk nasihat, cerita, perilaku adalah bentuk rasa syukur;gratitude. Gratitude sendiri berasal dari bahasa Latin: gratia. Kata tersebut mengandung arti memberdayakan diri (untuk orang lain), memberikan sesuatu yang berharga pada orang lain dan menghargai setiap kejadian dalam hidup kita. Sepertinya perilaku ini sangat naif… masa sih peristiwa buruk, perbuatan yang bikin kita repot, malah kita harus bersyukur. That’s the point… It is hard to understand… Tetapi ketika kita melakukannya ternyata menyenangkan loh… kita lupa bahwa dalam keadaan tidak menyenangkan kadang ada sesuatu yang bisa diambil hikmahnya; malah menggembirakan… yang sulit adalah meluangkan waktu untuk merefleksikannya… Misalnya kehilangan barang… apa untungnya, apa yang harus disyukuri… ketika laptop saya hilang yang ada mengkal; gondok. Bersyukur dari mana… tapi di balik kehilangan tersebut saya punya laptop baru lho… lebih bagus dan ringan… saya jadi rajin cari-cari jurnal lantaran semua jurnal saya hilang…. (jadi membaca..jadi ada ide untuk bikin proposal desertasi), dan yang paling utama adalah jadi hati-hati dan tidak ceroboh. Dari kejadian itu saya jadi belajar tidak menyalahkan orang lain bahwa orang lain jahat dan bla..bla..bla.. namun bertanggung jawab atas perbuatan saya juga. Rela?? Belum sih..belajar..iya… banyak hal…dan lebih menyadari bahwa materi sifatnya bisa saja sementara… Hadiah undian hilang begitu saja pernah terjadi pada saya… kesal? sempat kok… hadiahnya lumayan… tapi ketika yang menggantikan saya (karena nama saya dibatalkan) ternyata memeluk hadiah tersebut dengan gembira dan sampai-sampai merasa barang itu berharga membuat saya tertegun juga. Butuh waktu beberapa saat untuk sadar..saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut..namun orang lain lebih membutuhkan… Toh saya tidak keluar uang untuk menyumbang, barangnya juga hadiah… nothing to lose. malah membuat orang lain jadi happy… anggap saja menyumbang kata suami saya…

Ada baiknya di dunia yang sudah begitu kompleks kita memang menyederhanakan hidup kita… make it simple kata teman saya… yah itu.. selalu ada blessing in disguise; rahmat atau berkah dalam (apa yang kita anggap) kemalangan. Every cloud has a silver lining… Kalau Frankl saja bisa memaknai penderitaannya di kamp konsenkrasi (yang tidak mungkin banget buat saya), kita tidak usah punya misi sebesar dan serumit itu… dicoba saja dari hal yang kecil… saya juga sedang dalam proses mencoba terus dan terus.. let it go, let it go… dan kemudian mengubah hal tidak menyenangkan menjadi rahmat untuk kita… bisakah kita??? (Jawab: dicoba dan pasti bisaaaa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s