Choice Theory Ditinjau dari Pandangan Budaya (PIC Jurnal, Yonathan Aditya)

Ada banyak aliran dalam psikoterapi/konseling, salah satunya adalah choice theory/reality therapy (CTRT). Choice theory adalah teori psikologi yang dikembangkan oleh William Glasser. Glasser mendifinisikan choice theory sebagai teori psikologi baru untuk kebebasan manusia. Reality therapy di pihak lain adalah psikoterapi/konseling yang dilakukan berdasarkan pada choice theory.

Artikel ini mencoba membahas kesesuaian choice theory dengan budaya Indonesia khususnya dari pandangan Kristen dan bagaimana menyikapinya jika ada ketidak sesuaian. Tentu saja tidak mungkin membahas choice theory secara komprehensif dalam tulisan singkat ini, oleh karena itu tulisan ini hanya akan membahas filosofi dasar dari choice theory.

Choice theory pada dasarnya berusaha menjelaskan cara kerja otak dalam memproses informasi hingga akhirnya berujung dalam tingkah laku dan juga apa yang mendasari tingkah laku manusia.

Choice theory mempunyai dua filosofi dasar yaitu fenomenologis dan eksistensial. Fenomenologis artinya setiap orang mempunyai persepsi yang unik (perceived world) mengenai kejadian yang ada di dunia (real world). Persepsi yang dimiliki masing-masing orang bisa sama atau berbeda dari orang yang lain. Menurut Glasser persepsi ini lebih penting daripada kejadian nyata yang ada di dunia, karena persepsi inilah yang akan mempengaruhi tingkah laku seseorang. Misalnya Amir, Ali, dan Anto baru saja menerima hasil ujian matematika mereka, dan kebetulan mereka semua memperoleh nilai 8. Sekalipun mereka mendapat nilai yang sama respon mereka ternyata berbeda: Amir sangat senang, Ali sedih, sedangkan Anto ketakutan. Tingkah laku mereka berbeda sekalipun mereka mengalami kejadian yang sama (real world) karena persepsi mereka (perceived world) berbeda. Amir sangat senang karena dia tidak pernah mendapat nilai 7 dalam ujian matematika, sehingga nilai 8 adalah pencapaian yang luar biasa. Ali sedih karena nilai matematikanya selalu diatas 9, mendapat nilai 8 adalah kemunduran. Di pihak lain Anto takut karena orang tuanya selalu menghukum dia jika mendapat nilai matematika dibawah 9. Dengan mengetahui persepsi (perceived world) mereka barulah tingkah laku mereka dapat dimengerti dengan lebih baik.

Aspek fenomenologis dari choice theory ini dapat membawa implikasi pada tidak adanya kebenaran mutlak. Setiap orang bisa dan berhak mempunyai persepsi yang berbeda dari orang lain tentang kejadian yang sama. Dengan demikian tidak ada persepsi yang benar dan salah, semuanya menjadi relatif. Bahkan Kathleen Glasser dalam buku yang ditulisnya bersama William Glasser sebelum William Glasser meninggal yang berjudul Take Charge of Your Life berpendapat orang-orang yang religius yaitu mereka yang percaya pada adanya kebenaran mutlak cenderung bermasalah. Glasser dan Glasser berasumsi mereka yang percaya pada adanya kebenaran mutlak akan cenderung memaksakan pendapatnya pada orang lain, sehingga menyalahi aspek fenomenologis ini.

Hal diatas dapat menjadi tantangan bagi orang Indonesia yang merupakan kaum agamis. Kaum agamis percaya pada adanya kebenaran mutlak. Ada beberapa kepercayaan dasar yang dianggap benar dan tidak bisa diganggu gugat. Apakah karena kaum agamis percaya pada kebenaran mutlak maka mereka tidak bisa menggunakan choice theory? Jika karena adanya pertentangan suatu teori harus ditolak, maka hampir semua teori psikologi akan ditolak karena hampir semua teori psikologi mempunyai ketidakcocokkan dengan doktrin agama.

Salah satu prinsip yang perlu diingat untuk mengatasi dilema ini adalah prinsip bahwa semua kebenaran adalah kebenaran Tuhan. Jadi tidak peduli di manapun kebenaran itu ditemukan, maka kebenaran itu adalah kebenaran Tuhan. Begitu juga dalam choice theory, pasti ada kebenaran dalam teori ini karena kalau tidak teori ini sudah ditinggalkan. Dengan demikian ada kebenaran dalam teori ini yang dapat dimanfaatkan. Kembali ke masalah aspek fenomenologis dari teori ini, memang sampai tahap tertentu persepsi itu relatif, tergantung dari pemahaman pribadi yang bersangkutan.

Problem akan timbul jika pandangan ini ditarik ke arah ekstrim, hingga berpendapat tidak adanya kebenaran mutlak. Oleh karena itu prinsip fenomenologis dari choice theory ini tidak akan menjadi masalah buat kaum agamis, jika mereka menyadari relativisme ini tidak mutlak. Ada batasan dari relativisme ini dan kebenaran mutlak itu ada. Selain itu hal lain yang sering dicampur adukkan adalah dugaan bahwa mereka yang memegang kebenaran mutlak (kaum agamis) selalu memaksa orang lain untuk mempunyai paham yang sama. Padahal percaya pada adanya kebenaran mutlak dan memaksakan orang lain untuk menganut paham yang sama adalah dua hal yang berbeda. Bisa saja seseorang mempercayai adanya kebenaran mutlak tapi tetap menghargai orang lain yang mempunyai pandangan yang berbeda. Demikian pula mungkin saja ada orang yang tidak percaya pada adanya kebenaran mutlak, tapi memaksakan orang lain harus mempunyai pandangan yang sama dengan dirinya. Dengan demikian memaksakan pendapat pada orang lain tidak selalu berhubungan dengan kepercayaan pada kebenaran mutlak. Oleh karena itu dugaan bahwa mereka yang mempunyai kebenaran mutlak selalu bermasalah juga tidak benar.

Prinsip kedua dari choice theory adalah Eksistensialisme. Glasser berpendapat setiap orang mempunyai kehendak bebas. Mereka berhak menentukan apa yang akan dilakukannya, selama hal itu tidak menganggu orang lain untuk menjalankan kehendak bebasnya. Dengan kata lain tidak ada seorangpun yang boleh dan bisa merampas kehendak bebas orang lain. Pendapat Glasser ini mirip dengan pendapat Frankl. Frankl berpendapat di kamp konsentrasi Nazi, para tawanan hampir kehilangan segalanya, satu-satunya hal yang tidak dapat dirampas adalah kehendak bebas. Jika para tawanan tidak takut dengan resikonya maka para sipir penjara tidak bisa memaksa mereka melakukan sesuatu yang tawanan itu tidak sukai.

Aspek kedua dari Eksistensialisme ini adalah tanggung jawab. Glasser menekankan karena setiap orang bebas melakukan apa yang dipilihnya maka dia harus bertanggung jawab atas pilihannya itu. Setiap pilihan akan selalu konsekuensinya. Oleh karena setiap orang bebas menentukan pilihannya, maka orang itu harus siap memikul tanggung jawab atas pilihan yang diambilnya.

Prinsip choice theory bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang dilakukannya, juga dapat menjadi persoalan jika dilihat dari konsep dasar beberapa agama mislanya Kristen: seperti sampai sejauh mana manusia bisa memilih dan dimana letak kedaulatan Tuhan. Salah satu konsep kekristenan tentang akibat dari kejatuhan manusia dalam dosa adalah pilihan manusia selalu cenderung kearah yang negatip. Untuk menyelesaikan pertentangan ini dapat dipakai cara seperti penyelesaian pertentangan kekristenan dengan prinsip pertama choice theory diatas.

Sampai tahap tertentu manusia memang memiliki kehendak bebas, mereka misalnya bisa memilih mau menonton bioskop atau belajar, berselingkuh atau tetap setia kepada pasangannya. Masalah akan muncul jika prinsip ini diekstrimkan dan menganggap seolah-olah manusia adalah Tuhan bagi dirinya sendiri dan tidak mengakui keterbatasannya. Oleh karena itu penganut Kristen dan agama lain yang mempercayai adanya kedaulatan Tuhan perlu menyadari adanya keterbatasan dalam kehendak bebas manusia jika mereka menerapkan choice theory. Manusia sesungguhnya tidak benar-benar bebas memilih, kebebasan mereka dibatasi oleh kedaulatan Tuhan dan juga oleh natur manusia yang berdosa.

Melalui penjelasan singkat di atas, diharapkan kita bisa menyadari adanya beberapa hal yang perlu disesuaikan jika kita akan menerapkan choice theory dengan benar dan sekaligus konsekuen dengan kepercayaan yang kita anut.

Daftar Pustaka:
Glasser, W (1998). Choice theory: A New psychology of personal freedom. New York: Harper Perennial.
Glasser, W (2000). Counseling with choice theory. New York: Harper Collins.
Glasser, W (2011). Take charge of your life: How to get what you need with choice theory psychology. Bloomington: iUniverse.
Jones & Bultman (2011). Modern psychotherapies: A comprehensive Christian appraisal. Downers Grove: Intervarsity Press.
Wubbolding (2000). Reality Therapy for the 21st Century. Philadelphia: Brunner-Routledge.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s