Daftar Penelitian Fakultas Psikologi, Universitas YARSI

Fakultas Psikologi Universitas YARSI memohon bantuan untuk pengadaan subjek untuk beberapa penelitian. Adapun peneliti dan topik penelitian tersebut di atas adalah:

1. Gambaran Quality of Life pada Penyandang Low Vision yang Mengalami Penurunan Kualitas Penglihatan secara Progresif. Penelitian ini dilakukan oleh Alabanyo Brebahama M.Psi (kontak: brebahama@yahoo.com atau alabanyo.brebahama@yarsi.ac.id).

2. Hubungan antara Kematangan Karir dengan Motivasi Berprestasi pada Remaja Penyandang Tunanetra. Penelitian ini dilakukan oleh Alabanyo Brebahama, M.Psi. (kontak: brebahama@yahoo.com atau alabanyo.brebahama@yarsi.ac.id).

3. Hubungan antara Intensi Merokok dan Locus of Control pada Mahasiswa Perokok Aktif. Penelitian ini dilakukan oleh Nurindah Fitria, M.Psi. (kontak: nf.arsyad@gmail.com) dan Fitri Arlinkasari, M. Psi. (kontak: fitri.arlinkasari@gmail.com).

4. Career Decision Making on Indonesian Young Adult group based on framework of Social Cognitive Career Theory. Penelitian ini dilakukan oleh Fitri Arlinkasari, M. Psi. (kontak: fitri.arlinkasari@gmail.com).

5. The influence of  Moral Integrity, Religiosity Orientation, Achievement Motivation to Intention of Plagiarism among Indonesian Students. Penelitian ini dilakukan oleh Fitri Arlinkasari, M. Psi. (kontak: fitri.arlinkasari@gmail.com).

6. Relationship between Academic Burnout, School Engagement and Academic Efficacy. Penelitian ini dilakukan oleh Fitri Arlinkasari, M. Psi. (kontak: fitri.arlinkasari@gmail.com).

7. Perbedaan Health Locus of Control pada perokok dan nonperokok. Penelitian ini dilakukan oleh Rina Rahmatika, M.Psi. (kontak: rina.rahmatika@gmail.com).

8. Kepuasan Pernikahan pada Masyarakat Kota Jakarta. Penelitian ini dilakukan oleh Titi Sahidah Fitriana, M.Psi. (kontak: titi.sahidah@yarsi.ac.id).

9. Resiliensi Keluarga dan Kualitas Hidup pada Masyarakat Indonesia. Penelitian ini dilakukan oleh Titi Sahidah Fitriana, M.Psi. (kontak: titi.sahidah@yarsi.ac.id).

10. Pendekatan Metode Indigenous Psychology pada Pengukuran Kualitas Hidup Ibu dengan Kehamilan Risiko Tinggi. Penelitian ini dilakukan oleh Endang Fourianalistyawati, M.Psi. (kontak: endangfouriana@gmail.com).

11. Hubungan antara Kekuatan Karakter dan Mindfulness pada Mahasiswa. Penelitian ini dilakukan oleh Endang Fourianalistyawati, M.Psi. (kontak: endangfouriana@gmail.com).

12. Peran Teknik Mindfulness terhadap Rasa Sakit pada Mahasiswa. Penelitian ini dilakukan oleh Endang Fourianalistyawati, M.Psi. (kontak: endangfouriana@gmail.com).

13. Adaptasi skala FFMQ (Five Facet Mindfulness Questionnaire) versi Indonesia. Penelitian ini dilakukan oleh Endang Fourianalistyawati, M.Psi. (kontak: endangfouriana@gmail.com).

14. Hubungan Lamanya Perceraian dengan Perilaku Memaafkan Pasangan dan Memaafkan Diri pada Wanita Bercerai. Penelitian ini dilakukan oleh Nurindah Fitria, M.Psi. (kontak: nf.arsyad@gmail.com).

15. Efektivitas Komunikasi Pelayanan Kesehatan oleh Dokter dan Perawat Puskesmas. Penelitian ini dilakukan oleh Riselligia Caninsti, M.Psi. (kontak: riselligia.caninsti@gmail.com).

16. Health Locus of Control pada Perokok dan Non Perokok. Penelitian ini dilakukan oleh Rina Rahmatika, M. Psi. dan Dilfa Juniar, M.Psi. (kontak: dilfajuniar@gmail.com).

17. Prevalensi Depresi pada Eksekutif Muda. Penelitian ini dilakukan oleh Dilfa Juniar, M.Psi. (kontak: dilfajuniar@gmail.com) dan Ratih Arruum Listiyandini, M.Psi. (kontak: ratih.arruum@yahoo.com atau ratih.arruum@yarsi.ac.id).

18. Internet-based Intervention for Mildly Depressed Young Executives in Indonesia. Penelitian ini dilakukan oleh Dilfa Juniar, M.Psi. (kontak: dilfajuniar@gmail.com).

19. Internet-based Stress Management Program for tackling Work Related Stress among Young Executives in Indonesia. Penelitian ini dilakukan oleh Dilfa Juniar, M.Psi. (kontak: dilfajuniar@gmail.com).

20. Perbedaan adaptasi pernikahan pada dewasa muda muslim yang menikah melalui taaruf dan selain taaruf. Penelitian ini dilakukan oleh Zulfa Febriani, M.Psi., Psi.  (kontak: zulfa.febriani@gmail.com).

21. Peran kekuatan karakter terhadap resiliensi pada mahasiswa. Penelitian ini dilakukan oleh Ratih Arruum Listiyandini, M.Psi. (kontak ratih.arruum@yahoo.com atau ratih.arruum@yarsi.ac.id).

22. Hubungan antara Gratitude dan Resiliensi. Penelitian ini dilakukan oleh Ratih Arruum Listiyandini, M.Psi. (kontak ratih.arruum@yahoo.com atau ratih.arruum@yarsi.ac.id).

23. Hubungan antara Mindfulness, Kekuatan Karakter, dan Resiliensi pada Mahasiswa. Penelitian ini dilakukan oleh Ratih Arruum Listiyandini, M.Psi. (kontak ratih.arruum@yahoo.com atau ratih.arruum@yarsi.ac.id).

24. Cyberbullying pada Remaja : Pelaku, Saksi dan Korban. Penelitian ini dilakukan oleh Ade Nursanti, BHSc., Med. (kontak: nursanti.ade@gmail.com).

25. Perbedaan Engagement Karyawan Penuh Waktu di Kantor Tersentralisasi dengan Karyawan Penuh Waktu Secara Telecommuting. Penelitian ini dilakukan oleh Nuri Sadida, M.Psi. (kontak: nuri.sadida@gmail.com).

26. Analisis Kesejahteraan Psikologis Karyawan Dan Kualitas Interaksi Atasan-Bawahan Berdasarkan Pasangan Tipe Kepribadian Atasan-Bawahan. Penelitian ini dilakukan oleh Nuri Sadida, M.Psi. (kontak: nuri.sadida@gmail.com).

27. Hubungan Resiliensi dan Kekuatan Karakter pada Mahasiswa. Penelitian ini dilakukan oleh Sari Zakiah Akmal, M.Psi. (kontak: sari.zakiah@gmail.com).

28. Pengembangan model pengambilan keputusan karir berbasis sistem informasi melalui Identifikasi Nilai, Aspirasi dan Kompetensi pada Kelompok Bidang Pekerjaan Profesional dan Pelayanan. Penelitian ini dilakukan oleh Sari Zakiah Akmal, M.Psi. (kontak: sari.zakiah@gmail.com).

29. Penelitian dengan topik besar, yaitu: Pernikahan; Komitmen Pernikahan; Pernikahan; Keluarga; Pemberdayaan Masyarakat Desa atau Kota; dan Perilaku Berkendara. Penelitian-penelitian ini dilakukan oleh Melok Roro Kinanthi, M.Psi. (kontak: tugas_melok@yahoo.com).

Untuk korespondensi terkait ketentuan calon partisipan, pengisian kuesioner atau hal lain terkait penelitian-penelitian di atas, silakan menghubungi veronica.kaihatu@upj.ac.id atau kastichlo@yahoo.com.

Advertisements

CALL FOR ESSAY: UPAYA PENINGKATAN PERILAKU POSITIF UNTUK MEMBANGUN BANGSA DAN NEGERIKU (Social Science Week Universitas Bunda Mulia)

Dalam rangka Social Science Week ke-2 di Universitas Bunda Mulia, Prodi Psikologi mengadakan CALL FOR ESSAY dengan tema UPAYA PENINGKATAN PERILAKU POSITIF UNTUK MEMBANGUN BANGSA DAN NEGERIKU. Essay terdiri atas 8-10 halaman dengan format penulisan sesuai standar APA, times new roman 12, spasi 1,5, standar A4, dikirimkan soft copy ke alamat email:callforessay.ubm@gmail.com

jeann3-1

Karya harus merupakan karya orisinal dan tidak pernah dipublikasikan. Essay ini terbuka untuk seluruh mahasiswa Psikologi. Batas pengumpulan essay adalah pada tanggal 7 Mei 2015.

BERSYUKUR SELALU, BERBAHAYAKAH?

Oleh: Karel Karsten

Ada berbagai reaksi seseorang ketika dihadapkan pada situasi buruk. Ada yang menyesal, berharap waktu dapat diulang kembali; ada yang frustrasi dan menunjukkannya dalam reaksi emosi berlebihan, tetapi ada juga yang tetap mensyukuri dan mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi tersebut. Emmons dan Shelton (2012) menggambarkan bahwa orang-orang yang mampu bersyukur di dalam hidupnya ditemukan lebih berbahagia, memiliki relasi interpersonal yang lebih positif dan berkualitas, serta lebih optimis dalam memandang hidup.

Bersyukur memang baik – semua agama tentu mengajarkan manusia untuk bersyukur, bahkan orang yang tidak beragama sekalipun kerap bersyukur. Biasanya bersyukur terjadi sebagai reaksi spontan seseorang saat mengalami hal menyenangkan yang tak terduga, misalnya: memenangkan undian, mendapatkan pasangan hidup, mendapat penghargaan di tempat kerja, dan sebagainya. Namun, rasa syukur juga kerap muncul ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang kurang menyenangkan, seperti: menderita kerugian akibat bencana alam, gagal dalam ujian, atau diberhentikan dari tempat bekerja. Untuk kondisi-kondisi sulit seperti ini, bersyukur jelas lebih sulit untuk dilakukan.

Akan tetapi, meskipun sulit untuk dilakukan, rasa syukur ketika mengalami hal-hal yang negatif perlu diwaspadai. Bukan karena bersyukur dapat berdampak negatif, tetapi karena seringkali reaksi bersyukur itu tidak benar-benar mencerminkan syukur yang sejati, melainkan lebih berupa upaya untuk menyelamatkan diri (ego) dari kecemasan akibat kegagalan, penderitaan, atau rasa bersalah karena peristiwa negatif itu – juga dikenal dengan istilah ‘mekanisme pertahanan diri’ menurut Sigmund Freud. Contoh sederhananya, seorang mahasiswa mendapat nilai C pada satu mata kuliah, saat mayoritas teman-temannya mendapat nilai A. Di tengah situasi sulit ini, ia memilih untuk bersyukur karena diberi kesempatan mendapat nilai C. Akhirnya, di pelajaran-pelajaran berikutnya, nilainya pun tidak berubah karena ia tidak berdaya juang untuk mengusahakan sesuatu yang lebih sekalipun sebenarnya ia mampu. Rasa syukur yang seperti ini tentu kurang tepat.

Ekspresi syukur seringkali menjadi ambigu, tercemar dengan berbagai ekspresi sebagai bentuk dari: mekanisme pertahanan diri (rasionalisasi),upaya dengan sengaja untuk melemahkan diri sebagai alasan menghadapi kegagalan (self-handicapping) (Myers, 2007),
upaya menolak tantangan karena khawatir tidak berhasil menaklukkannya sehingga mengaku mensyukuri apa yang sudah ada (Jonah complex; konsep Maslow) (Feist & Feist, 2009).

Tidak semua ekspresi di atas bermakna negatif, bahkan dalam berbagai situasi sangat dibutuhkan demi menjaga keberfungsian diri. Namun, penting bagi kita untuk dengan jeli memeriksa apakah rasa syukur kita ungkapkan sebenarnya benar-benar rasa syukur yang sejati atau upaya tak sadar dari dalam diri untuk mengurangi produktivitas diri kita. Hal-hal berikut ini mungkin dapat membantu kita lebih mudah membedakannya:
Bersyukur yang sejati merupakan reaksi, bukan aksi. Rasa syukur atau gratitude berasal dari bahasa Latin, ‘gratia’, yang berarti ungkapan senang dan berterima kasih atas sesuatu yang semula tidak dimaksudkan dialami oleh seseorang, yang tercermin dalam perilaku memberi, altruis, dan bermurah hati (Emmons & Shelton, 2012).

Emmons dan Crumpler (2000) menyebutkan bahwa bersyukur adalah reaksi emosional ketika seseorang mendapat ‘hadiah’. Jelas terlihat bahwa rasa syukur yang sejati merupakan respon atas stimulus yang tidak terduga namun terjadi dalam hidup seseorang. Jadi, rasa syukur seharusnya tidak ‘diusahakan dengan sekuat tenaga’ (stimulus) demi membuat diri merasa nyaman atau untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (respon). Meskipun demikian, seseorang bisa saja berlatih bersyukur dengan melakukan upaya sadar ‘memaksakan diri’ untuk bersyukur, dengan harapan agar kelak ia dapat bersyukur dengan sendirinya. Jadi, belajar bersyukur tidak salah; yang salah ialah bersyukur yang membuat seseorang lupa belajar.

Bersyukur mengandung ekspresi pemaknaan pengalaman yang positif, bukan protektif. Saat seseorang bersyukur atas suatu peristiwa, ia memaknai peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang positif, tidak selalu dalam hal output-nya, tetapi bisa juga dalam memaknai pembelajaran atau hikmah positif dari peristiwa tersebut. Jadi, bersyukur mengandung unsur penilaian yang positif atas peristiwa yang dialami. Ketika seseorang bersyukur dalam rangka membuat dirinya terproteksi dari pengalaman tidak menyenangkan di masa depan, dari hal-hal sulit yang seharusnya ia lakukan (misal: daripada harus belajar seharian penuh, lebih baik bersyukur mendapat nilai C), jelas itu bukan menunjukkan ungkapan syukur yang sejati.

Sekalipun berupa reaksi, rasa syukur disertai dengan perilaku yang konstruktif. Bayangkan Anda diberikan uang dalam jumlah yang sangat besar sebagai hadiah ulang tahun. Tentu Anda akan bersyukur, dan sebagai wujud dari rasa syukur itu, Anda mungkin berusaha untuk membalas budinya dengan berperilaku baik kepadanya. Perilaku yang konstruktif, membangun, meningkatkan kompetensi diri – ini semua adalah ekspresi dari rasa syukur yang sejati. Jadi, ketika seseorang mendapat nilai jelek dan ia berkata ‘bagaimanapun, saya bersyukur’ serta tidak menunjukkan perilaku yang konstruktif, rasa syukurnya sebenarnya hanya merupakan upaya melindungi diri dari rasa malu dan bersalah. Sebaliknya, ketika mendapat nilai C dan seseorang berkata ‘saya bersyukur diizinkan mendapat pengalaman ini’, lalu menarik pelajaran berharga serta berupaya meningkatkan kompetensi diri, inilah wujud syukur yang sejati (menerima diri secara penuh serta siap melakukan hal yang produktif).

Dengan demikian, bersyukur yang sejati sebenarnya merupakan ungkapan dari dalam diri atas rasa senang luar biasa dari pemaknaan terhadap suatu peristiwa, bukan upaya luar biasa untuk menyenangkan diri dalam memaknakan suatu peristiwa. Jadi, berbahayakah senantiasa bersyukur? Jawabannya: tidak, sepanjang kita tahu dan mampu benar-benar bersyukur.

Daftar Pustaka

Emmons, R.A. & Shelton, C.M. (2002). Gratitude and the Science of Positive Psychology. Dalam Synder, C.R. & Lopez, S.J. (ed.) Handbook of Positive Psychology. New York, NY: Oxford University Press.

Emmons, R. A., & Crumpler, C. A. (2000). Gratitude as human strength: Appraising the evidence. Journal of Social and Clinical Psychol- ogy, 19, 56–69.

Feist, J & Feist, G. J. (2009). Theories of personality (7th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.

Myers, D. G. (2007). Social psychology (9th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.

Temu Ilmiah Nasional 2015 & Call for Paper Fakultas Psikologi Universitas Pancasila

Poster-Temu-Ilmiah-Fakultas-Psikologi-Universitas-Pancasila-Jakarta

Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Jakarta mengundang para akademisi, peneliti, praktisi dan mahasiswa untuk hadir dan mengirimkan artikel dan hasil penelitiannya (dalam bentuk oral presentation & poster) dalam acara Temu Ilmiah Nasional dan Call for paper  dengan tema:

“Meningkatkan karakter & kompetensi SDM Indonesia dalam meningkatkan produktivitas menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN”.

Sesuai rencana, acara tersebut akan diadakan pada:

Hari & tanggal: Jumat, 21 Agustus 2015
Waktu: 08.00- 17.00 WIB
Tempat: Gedung Fak. Psikologi Universitas Pancasila, Serengseng Sawah, Jagakarsa Jakarta Selatan

Secara lebih terperinci, sub tema dari Temu Ilmiah Nasional ini adalah:

1.PENGEMBANGAN KARAKTER
Contoh: Integritas, pengembangan kajian psikologi dengan kearifan lokal, empati, religiusitas,kebahagiaan,well being, kematangan emosi, identitas, resiliensi, prasangka.

2.PRODUKTIVITAS INDIVIDU; ORGANISASI
Contoh: Psychological capital, budaya perusahaan, etos kerja, manajemen konflik, peace psychology, harmoni sosial

3.BUSINESS PSYCHOLOGY & KEWIRAUSAHAAN Contoh: Faktor-faktor internal dan eksternal  yang mempengaruhi pilihan seseorang berwirausaha

4.DAMPAK TEKNOLOGI & TEKNOLOGI PEMBELAJARAN TERHADAP PERILAKU
Contoh: Dampak teknologi terhadap perilaku, stress dan problem keluarga terkait dengan teknologi,cyberbullying,penggunaan teknologi pembelajaran

5.MEDIA & PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Contoh: Dampak media terhadap perilaku, komunikasi interpersonal

6. PSIKOLOGI POLITIK
Contoh: Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku memilih

Dateline Abstrak: 26 Juni 2015

Membuka Gerbang Kerjasama Melalui Tulisan

Oleh: Ardiningtiyas Pitaloka

Penyelenggaran Simposium Psikologi Ulayat dalam Temilnas IPS di Bali telah berlangsung dua bulan yang lalu. Sebelumnya, seluruh abstrak peserta simposium ditampilkan dalam blog KPIN beserta informasi alamat surat elektronik (surel) penulis/peneliti. Penayangan ini bukan sekedar ajang narsis atau informasi akan adanya simposium, melainkan menjadi satu media komunikasi dengan rekan psikologi, juga non psikologi yang membaca blog KPIN.

Manfaat sebagai media komunikasi ini kebetulan saya dapatkan bulan lalu. Saya mendapatkan surel dari seorang mahasiswa yang sedang menyusun tesis dengan tema makna perasaan malu. Ia mengirimkan surel karena menemukan abstrak penelitian saya yang berjudul Makna Perasaan Malu dan Perasaan Bersalah dalam Masyarakat Papua https://konsorsiumpsikologiilmiahnusantara.wordpress.com/2015/01/09/abstrak-simposium-jp-ulayat-temu-ilmiah-psikologi-sosial-bali-21-23-januari-2015/. Satu peneitian dengan pendekatan kualitatif yang mengungkapkan keunikan di salah satu masyarakat Indonesia. Secara ringkas, saya menemukan adanya makna yang berbeda yakni dengan terwakili kedua perasaan tersebut dalam satu istilah/kata. Pada sisi lain, masyarakat Papua sendiri bukanlah masyarakat homogen, sehingga mungkin sekali jika ada kelompok masyarakat yang memiliki dua kata padanan untuk perasaan malu dan perasaan bersalah.

Saya tidak akan membahas penelitian tesebut dalam artikel ini, melainkan ingin berbagi tentang interaksi kecil sebagai dampak penayangan tulisan/abstrak dalam blog. Pengalaman ini sebenarnya sudah beberapa kali saya dapatkan, salah satunya ketika menulis artikel di website psikologi, maupun website lain yang fokus pada tema pengembangan karier. Ketika pertama kali mendapatkan surel dari orang yang tidak saya kenal dan meminta bantuan untuk berdiskusi tentang tema yang saya tulis karena mirip dengan studi  yang sedang ia lakukan. Ada juga sebuah stasiun radio atau wartawan koran maupun tabloid yang meminta wawancara. Semua pengalaman ini membuat saya semakin menyadari bahwa menulis bukan hanya bersenang-senang melainkan sebuah pertanggungjawaban. Menulis berbeda dengan merumpi, bukan karena membutuhkan daftar pustaka seperti penulisan ilmiah, melainkan juga setiap kalimat yang kita tuliskan haruslah bisa dipertanggungjawabkan.

Kembali pada mahasiswa yang menghubungi saya Maret lalu. Saya sangat terkesan dengan semangatnya. Ia memiliki kekurangan sebagai tuna netra yang terjadi ketika beranjak dewasa dan saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Jakarta. Saya tentu senang bisa sedikit membantu dengan mengirimkan beberapa referensi terkait tema perasaan malu, maupun diskusi lebih lanjut. Hal ini juga menunjukkan bahwa media digital membuka kesempatan sangat luas untuk bersinergi dengan orang di belahan dunia lain. Bukan dunia lain ya…

Kalimat: mari berbagi melalui tulisan, tidak hanya bermakna pasif melainkan juga bermakna untuk siap berbagi dalam interaksi dan kerjasama lebih lanjut. Penayangan tulisan di ruang publik, seperti jurnal, website, blog, majalah, surat kabar atau menulis buku, merupakan langkah awal dalam membuka diri untuk kerjasama dengan orang lain. Kesadaran ini baru saya pahami setelah sekian tahun mengirimkan tulisan ke media massa. Saat masih imut, maksudnya masih di bangku menengah pertama, saya penuh semangat mengirimkan cerita pendek tetapi tidak pernah dimuat. Meski begitu, rasanya super bahagia ketika mendapatkan balasan dari satu majalah, berupa catatan atau feedback mengapa belum bisa dimuat. Saat pertama kali artikel dimuat di majalah Intisari, rasanya seperti melayang ke awan, tapi belum ada pikiran di kepala bahwa penayangan ini berarti saya membuka pintu untuk orang lain mengkritik, yang ada adalah pujian dan tepukan tangan 🙂

“The difference between the right word and the almost right word is the difference between lightning and a lightning bug.” ― Mark Twain, The Wit and Wisdom of Mark Twain

Pelatihan Penulisan Modul di Fakultas Psikologi Universitas Yarsi

Oleh Eko A.Meinarno – PIC Modul-Buku KPIN

IMG-20150401-WA0005Pelatihan ini telah disiapkan oleh pihak Fakultas Psikologi YARSI cukup lama, sekitar akhir Februari 2015. Dalam diskusi yang cukup mendalam dengan penyelenggara yakni Sari Zakiah Akmal (ketua Pusat Penelitian Pengembangan Psikologi Kesehatan Fakultas Psikologi YARSI) dan Endang Fourinalistyawati (Wadek II Fakultas Psikologi YARSI), pelatihan ini kiranya dapat mewujudkan sebuah karya tulis yang bisa dijadikan rujukan bagi para mahasiswa psikologi umumnya dan yang mengikuti kuliah psikologi kesehatan

IMG-20150401-WA0001

Proses penggodokan pelatihan ini dapat dikatakan butuh perhatian khusus. Pertama, karena pelatihan ini merupakan perwujudan dari program kerja KPIN khususnya bagian modul-buku. Bagian ini jelas harus menghasilkan produk yang dapat digunakan oleh banyak pihak terlebih mahasiswa. Kedua, produk yang dihasilkan sebisa mungkin dikerjakan secara kolaborasi, khususnya dengan rekan-rekan KPIN. Karena itu, sejak awal pembuatan modul psikologi kesehatan dibuka secara umum. Yang menyatakan ikut serta adalah Evanytha dari Fakultas Psikologi Universitas Pancasila. Oleh karena itu maka langkah ketiga adalah mendata tema/topik yang hendak ditulis. Tercatat dalam pelatihan setidaknya ada 14 tema psikologi kesehatan, tentunya yang cukup khas untuk Indonesia. Jika modul ini jadi maka modul ini setidaknya adalah produk kerja sama KPIN-YARSI-UP, satu langkah luar biasa.

IMG-20150401-WA0003Situasi cukup kondusif terlihat dalam pelatihan yang dilaksanakan pada tanggal 1 April 2015 ini. Sebelumnya pemateri meminta panitia/Sari agar para peserta sejak awal mempunyai bahan-bahan yang akan menunjang mereka untuk menulis. Termasuk suplai konsumsi tentunya. Jumlah peserta ada 12 plus pembicara. Antuasisme dimulai ketika pembukaan oleh Sari Zakiah Akmal dan Endang Fourianalistyawati selaku panitia dan tuan rumah. Tak ketinggalan mitra penerbit Rajawali Pers menitipkan kenang-kenangan berupa enam eksemplar buku (tiga Keluarga Indonesia, tiga Psikologi Lintas Budaya). Kedua buku ini  dapat dijadikan bukti nyata bahwa proses penulisan modul sangat mungkin menjadi buku. Dengan demikian modul yang dihasilkan dari pelatihan ini menjadi buku.

Pemateri yang juga penulis artikel ini memulai pelatihan dengan menjabarkan pengalaman menulis, khususnya untuk modul-buku. Mulai dari pengalaman mengajar, pencarian bahan, menulis, hingga jadi modul. Pemateri mengingatkan selalu bahwa dasar menjadi penulis paa hakikatnya telah melekat pada para dosen itu sendiri. Misalnya silabus, ppt, materi bacaan utama, bacaan tambahan, penugasan, dan sebagainya telah ada. Hal yang belum ada adalah langkah menyusun, pendalaman, dan pengasahan dari materi-materi yang sudah ada.

IMG-20150401-WA0002

Saat pemaparan, hal yang membuat pemateri senang adalah semua materi yang dibutuhkan sejatinya sudah ada. Tentu hal ini memudahkan pengerjaan modul. Terlebih tema-tema yang diajukan untuk modul merupakan bidang yang diminati penulis. Hal ini akan semakin membuat penulisnya semakin terikat hatinya dengan karya yang akan/tengah dibuatnya.

Pelatihan yang lebih mendekati acara saling berbagi ini tidak sekedar mengajak para peserta untuk menulis. Pemateri mengajak langsung berlatih sederhana untuk membuat modul. Pemateri juga memberi template penulisan berupa borang A, B, dan C. Pemateri menggunakan ketiga borang ini agar para penulis lebih mudah dan nyaman untuk memindahkan ide-idenya ke dalam kertas.

  • Borang A akan diisi peserta tentang identitas dari materi, semisal nama materi (yang akan memudahkan menjadi bab), waktu untuk mengajarkannya dst.
  • Borang B adalah tempat penulis menumpahkan isi tiap materi. Mungkin terasa sulit, pemateri memudahkannya dengan cukup menuliskan hal-hal yang standar umum ditulis yakni dengan rumus 5 W + 1 H. Rumus sederhana ini dirasa cukup umum diketahui banyak orang sehingga pola ini akan lebih cepat dikembangkan saat akan menjadi naskah seutuhnya.
  • Borang C, merupakan bagian dari tambahan-tambahan yang “memperkuat” sekaligus “mempercantik” apa yang telah dituliskan. Isinya antara lain kumpulan kata kunci, atau soal-soal latihan. Bagian yang dalam borang C ini yang juga disukai oleh penerbit karena dapat menarik minat pembaca khususnya mahasiswa untuk dapat mengetahui capaian dia setelah membaca materi. Selama menjelaskan ketiga borang tadi pemateri juga memberikan contoh konkrit dari beberapa contoh dari luar negeri dan dalam negeri/lokal.

Para peserta dengan cukup menghayati mencoba mengerjakannya. Terlebih memang semua peserta membawa alat bantu berupa laptop, bahan bacaan yang selama ini dipakai dan koneksi internet yang kuat. Ada satu rentang waktu tertentu yang membuat para peserta secara khusus memindahkan/menuliskan idenya dalam template. Pelatihan ini diakhiri dengan keceriaan dan semangat baru untuk menulis modul.

IMG-20150401-WA0006Pelatihan kali ini memang belum menghasilkan secara fisik modul yang diharapkan. Namun perangkat keras dan lunak dari pelatihan ini telah disampaikan dengan baik, sehingga harapannya bagi penyelenggara (YARSI-KPIN) dan peserta (YARSI-UP) produk akan ada dalam waktu tidak lebih dari setahun ini. Semogaaaaaa.