BERSYUKUR SELALU, BERBAHAYAKAH?

Oleh: Karel Karsten

Ada berbagai reaksi seseorang ketika dihadapkan pada situasi buruk. Ada yang menyesal, berharap waktu dapat diulang kembali; ada yang frustrasi dan menunjukkannya dalam reaksi emosi berlebihan, tetapi ada juga yang tetap mensyukuri dan mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi tersebut. Emmons dan Shelton (2012) menggambarkan bahwa orang-orang yang mampu bersyukur di dalam hidupnya ditemukan lebih berbahagia, memiliki relasi interpersonal yang lebih positif dan berkualitas, serta lebih optimis dalam memandang hidup.

Bersyukur memang baik – semua agama tentu mengajarkan manusia untuk bersyukur, bahkan orang yang tidak beragama sekalipun kerap bersyukur. Biasanya bersyukur terjadi sebagai reaksi spontan seseorang saat mengalami hal menyenangkan yang tak terduga, misalnya: memenangkan undian, mendapatkan pasangan hidup, mendapat penghargaan di tempat kerja, dan sebagainya. Namun, rasa syukur juga kerap muncul ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang kurang menyenangkan, seperti: menderita kerugian akibat bencana alam, gagal dalam ujian, atau diberhentikan dari tempat bekerja. Untuk kondisi-kondisi sulit seperti ini, bersyukur jelas lebih sulit untuk dilakukan.

Akan tetapi, meskipun sulit untuk dilakukan, rasa syukur ketika mengalami hal-hal yang negatif perlu diwaspadai. Bukan karena bersyukur dapat berdampak negatif, tetapi karena seringkali reaksi bersyukur itu tidak benar-benar mencerminkan syukur yang sejati, melainkan lebih berupa upaya untuk menyelamatkan diri (ego) dari kecemasan akibat kegagalan, penderitaan, atau rasa bersalah karena peristiwa negatif itu – juga dikenal dengan istilah ‘mekanisme pertahanan diri’ menurut Sigmund Freud. Contoh sederhananya, seorang mahasiswa mendapat nilai C pada satu mata kuliah, saat mayoritas teman-temannya mendapat nilai A. Di tengah situasi sulit ini, ia memilih untuk bersyukur karena diberi kesempatan mendapat nilai C. Akhirnya, di pelajaran-pelajaran berikutnya, nilainya pun tidak berubah karena ia tidak berdaya juang untuk mengusahakan sesuatu yang lebih sekalipun sebenarnya ia mampu. Rasa syukur yang seperti ini tentu kurang tepat.

Ekspresi syukur seringkali menjadi ambigu, tercemar dengan berbagai ekspresi sebagai bentuk dari: mekanisme pertahanan diri (rasionalisasi),upaya dengan sengaja untuk melemahkan diri sebagai alasan menghadapi kegagalan (self-handicapping) (Myers, 2007),
upaya menolak tantangan karena khawatir tidak berhasil menaklukkannya sehingga mengaku mensyukuri apa yang sudah ada (Jonah complex; konsep Maslow) (Feist & Feist, 2009).

Tidak semua ekspresi di atas bermakna negatif, bahkan dalam berbagai situasi sangat dibutuhkan demi menjaga keberfungsian diri. Namun, penting bagi kita untuk dengan jeli memeriksa apakah rasa syukur kita ungkapkan sebenarnya benar-benar rasa syukur yang sejati atau upaya tak sadar dari dalam diri untuk mengurangi produktivitas diri kita. Hal-hal berikut ini mungkin dapat membantu kita lebih mudah membedakannya:
Bersyukur yang sejati merupakan reaksi, bukan aksi. Rasa syukur atau gratitude berasal dari bahasa Latin, ‘gratia’, yang berarti ungkapan senang dan berterima kasih atas sesuatu yang semula tidak dimaksudkan dialami oleh seseorang, yang tercermin dalam perilaku memberi, altruis, dan bermurah hati (Emmons & Shelton, 2012).

Emmons dan Crumpler (2000) menyebutkan bahwa bersyukur adalah reaksi emosional ketika seseorang mendapat ‘hadiah’. Jelas terlihat bahwa rasa syukur yang sejati merupakan respon atas stimulus yang tidak terduga namun terjadi dalam hidup seseorang. Jadi, rasa syukur seharusnya tidak ‘diusahakan dengan sekuat tenaga’ (stimulus) demi membuat diri merasa nyaman atau untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (respon). Meskipun demikian, seseorang bisa saja berlatih bersyukur dengan melakukan upaya sadar ‘memaksakan diri’ untuk bersyukur, dengan harapan agar kelak ia dapat bersyukur dengan sendirinya. Jadi, belajar bersyukur tidak salah; yang salah ialah bersyukur yang membuat seseorang lupa belajar.

Bersyukur mengandung ekspresi pemaknaan pengalaman yang positif, bukan protektif. Saat seseorang bersyukur atas suatu peristiwa, ia memaknai peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang positif, tidak selalu dalam hal output-nya, tetapi bisa juga dalam memaknai pembelajaran atau hikmah positif dari peristiwa tersebut. Jadi, bersyukur mengandung unsur penilaian yang positif atas peristiwa yang dialami. Ketika seseorang bersyukur dalam rangka membuat dirinya terproteksi dari pengalaman tidak menyenangkan di masa depan, dari hal-hal sulit yang seharusnya ia lakukan (misal: daripada harus belajar seharian penuh, lebih baik bersyukur mendapat nilai C), jelas itu bukan menunjukkan ungkapan syukur yang sejati.

Sekalipun berupa reaksi, rasa syukur disertai dengan perilaku yang konstruktif. Bayangkan Anda diberikan uang dalam jumlah yang sangat besar sebagai hadiah ulang tahun. Tentu Anda akan bersyukur, dan sebagai wujud dari rasa syukur itu, Anda mungkin berusaha untuk membalas budinya dengan berperilaku baik kepadanya. Perilaku yang konstruktif, membangun, meningkatkan kompetensi diri – ini semua adalah ekspresi dari rasa syukur yang sejati. Jadi, ketika seseorang mendapat nilai jelek dan ia berkata ‘bagaimanapun, saya bersyukur’ serta tidak menunjukkan perilaku yang konstruktif, rasa syukurnya sebenarnya hanya merupakan upaya melindungi diri dari rasa malu dan bersalah. Sebaliknya, ketika mendapat nilai C dan seseorang berkata ‘saya bersyukur diizinkan mendapat pengalaman ini’, lalu menarik pelajaran berharga serta berupaya meningkatkan kompetensi diri, inilah wujud syukur yang sejati (menerima diri secara penuh serta siap melakukan hal yang produktif).

Dengan demikian, bersyukur yang sejati sebenarnya merupakan ungkapan dari dalam diri atas rasa senang luar biasa dari pemaknaan terhadap suatu peristiwa, bukan upaya luar biasa untuk menyenangkan diri dalam memaknakan suatu peristiwa. Jadi, berbahayakah senantiasa bersyukur? Jawabannya: tidak, sepanjang kita tahu dan mampu benar-benar bersyukur.

Daftar Pustaka

Emmons, R.A. & Shelton, C.M. (2002). Gratitude and the Science of Positive Psychology. Dalam Synder, C.R. & Lopez, S.J. (ed.) Handbook of Positive Psychology. New York, NY: Oxford University Press.

Emmons, R. A., & Crumpler, C. A. (2000). Gratitude as human strength: Appraising the evidence. Journal of Social and Clinical Psychol- ogy, 19, 56–69.

Feist, J & Feist, G. J. (2009). Theories of personality (7th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.

Myers, D. G. (2007). Social psychology (9th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s