Undangan Menulis Buku: Dinamika Kelompok dan Kepemimpinan

Buku merupakan instrumen penting bagi sebuah bangsa. Dunia yang semakin global memudahkan kita untuk memperkaya keilmuan melalui buku-buku asing.

Pertanyaannya: “Bagaimana dengan pemikiran kita sendiri, bagaimana keilmuan kita (psikologi) menjelaskan dan membahas beragam isu di negeri sendiri?”

Bergabunglah dalam penulisan buku psikologi sosial: Dinamika Kelompok dan Kepemimpinan. Silahkan unduh informasi lebih detil melalui tautan berikut:

Undangan Menulis Buku – Dinamika Kelompok dan Kepemimpinan

Mari kita mewujudkan impian ini sebagai karya dan kebanggan bersama!

Undangan menjadi Responden Penelitian

Kami, tim peneliti dari Fakultas Psikologi, Universitas YARSI, Jakarta, mengundang Anda untuk mengisi kuesioner yang merupakan salah satu alat dalam penelitian terbaru kami terkait karier. Kuesioner ini ditujukan bagi:

  • Mahasiswa tingkat akhir (setidaknya sedang duduk di semester 6)
    atau
  • Pekerja dengan pengalaman bekerja kurang dari 2 tahun terhitung hingga akhir 2015.

Tersedia reward menarik bagi responden yang memenuhi kriteria dan bersungguh-sungguh menyelesaikan kuesioner ini. Pengiriman reward baru akan dilakukan setelah peneliti mengumpulkan seluruh jawaban dan mengkonfirmasi kesesuaian kriteria.

Satu responden hanya diperbolehkan mengisi kuesioner satu kali.

​Silahkan mengisi kuesioner melalui tautan: https://docs.google.com/forms/d/1gZJTtH-Yl9P7PtumI2lt5n0w2_Pk2cq7ppSdkdDgkZ4/viewform?usp=send_form

Silahkan untuk meneruskan informasi ini ke rekan atau komunitas di mana Anda bergabung.  Terima kasih atas kesediaan dan kerjasamanya.

Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan kontak peneliti di: fitri.arlinkasari@yarsi.ac.id

Salam Hangat,

Fitri A., Sari. Z, & Rina R.​
-Peneliti-

Undangan Partisipasi Riset Karier

Pengajar dan peneliti dari Fakultas Psikologi, Universitas YARSI sedang melakukan penelitian tentang karier, mengundang dan memohon bantuan Anda untuk mengisi kuesioner ini sebagai salah satu alat yang digunakan dalam penelitian terbaru kami.

Kuesioner ini ditujukan bagi:

  • Mahasiswa tingkat akhir (setidaknya sedang duduk di semester 6)
    atau
  • Pekerja level pemula dengan pengalaman bekerja kurang dari 2 tahun terhitung hingga akhir 2015.

Tersedia reward menarik bagi responden yang memenuhi kriteria dan bersungguh-sungguh menyelesaikan kuesioner ini. Pengiriman reward baru akan dilakukan setelah peneliti mengumpulkan seluruh jawaban dan mengkonfirmasi kesesuaian kriteria.

Satu responden hanya diperbolehkan mengisi kuesioner satu kali.

​Kuesioner dapat diakses melalui link:http://goo.gl/forms/4MTyl8S9Ne

Silahkan untuk meneruskan informasi ini ke rekan atau komunitas yang berminat dan memenuhi kriteria partisipan.

Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan peneliti di: fitri.arlinkasari@yarsi.ac.id

Terima kasih

CALL FOR PAPER Universitas Sumatera Utara

Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara mengundang rekan-rekan sejawat untuk berpartisipasi dalam Seminar Nasional dengan tema “ Kesehatan Mental dari Perspektif Kultural”.

Acara tersebut akan diselenggarakan pada Sabtu, 12 September 2015 di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Partisipasi dapat berupa hasil penelitian, hasil review teori maupun gagasan.

Kami menunggu kehadiran teman-teman sekalian di Medan 🙂 Terimakasih.

Note:

Informasi perubahan jadwal

  1. Deadline pengumpulan abstrak :     31 Juli 2015
  2. Pengumuman abstrak diterima :     10 Agustus 2015
  3. Deadline pengumpulan Full Paper : 31 Agustus 2015

Seminar-Nasional-Psikologi-Universitas-Sumatera-Utara

Putus Cinta? Move On!

Aisyah Uswatunnisa*

*Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas YARSI, Jakarta

Jatuh cinta adalah hal yang biasa dialami oleh manusia. Jatuh cinta bisa berujung pada sebuah hubungan. Hubungan itu bisa berlangsung dengan baik dan tidak. Jika tidak berlangsung dengan baik, hubungan itu akan berakhir dan biasanya seseorang akan mengalami putus cinta setelahnya. Ada macam-macam bentuk reaksinya setelah putus cinta. Ada yang biasa saja atau istilah anak zaman sekarang adalah “move on” atau ada yang sampai depresi dan bunuh diri. Dari beberapa berita yang saya baca, tidak sedikit pasangan yang bunuh diri setelah putus cinta (Permana,2014, Oktober 16: Putus Cinta, Remaja di Batam Berusaha Bunuh Diri Menenggak Parfum); (Priyatin, 2015, Mei 01: Remaja Putri di Kendal Ditemukan Gantung Diri); (Santi,2015, Maret 31: Putus Cinta, Pria Ini Coba Bunuh Diri Pakai Petasan); (Kartono, 2015, Januari 30: Putus Cinta, Turis Asal Polandia Gantung Diri di Sorong). Ada yang minum obat-obatan secara berlebihan, menyayat nadi pada pergelangan tangan, dan hingga ada yang menabrakkan dirinya ke kereta api (Afrianti,2014, Desember 17: Putus Cinta, Wanita Muda ini Diduga Tabrakkan Diri ke KRL). Semuanya berniat untuk mengakhiri hidupnya. Hal ini bisa terjadi karena mereka belum bisa menerima berakhirnya hubungan mereka. Mereka belum bisa move on dari hubungannya.

Pengalaman Putus Cinta

Setiap orang berbeda-beda dalam  menyikapi putus cinta. Hal ini dibedakan dari apakah dia yang diakhiri secara sepihak, dia yang mengakhiri atau mereka mengakhiri hubungan secara bersama-sama atau kesepakatan bersama (Aronson, Wilson & Akert, 2004). Mereka yang diakhiri secara sepihak lebih merasakan perasaan yang negatif dibandingkan mereka yang mengakhiri hubungan tersebut.

Mereka yang mengakhiri hubungan secara bersama-sama merasa tidak terlalu merasa kecewa seperti yang diakhiri secara sepihak namun juga tidak berarti mereka tidak merasa apa-apa seperti yang mengakhiri. Dalam studinya, Yildrim (2015) menyatakan bahwa orang yang diakhiri secara sepihak lebih merasa depresi. Hal ini dikarenakan mereka yang diakhiri secara sepihak merasa putus cinta merupakan hal yang tidak mereka inginkan dan itu terjadi sehingga mereka tidak bisa menerimanya. Jika mereka tidak bisa menerima hal tersebut, proses move on pun tidak akan terjadi. Rasa keberhargaan dirinya pun menurun karena merasakan penolakan yang dapat membuatnya semakin depresi (Ayduk dkk., 2001).

Ternyata memiliki hubungan romantis yang baru juga bisa membantu seseorang untuk move on dari hubungannya yang lalu (Knox,dkk, 2000). Hal ini dapat mengurangi distres, memberikan efek positif, mengurangi rasa kesepian dan mengurangi pemikiran tentang hubungan yang lalu. Hal lain yang mempengaruhi orang untuk susah move on adalah tidak tahu alasan mengapa hubungan mereka berakhir. Kondisi ini membuat seseorang merasa kehilangan kontrol dan merasa urusan mereka saat itu belum selesai. Urusan yang mereka rasa belum selesai ini dapat membuat mereka tidak dapat mengutarakan perasaan mereka seperti rasa kesal, benci, marah dan lain-lain. Mereka menjadi susah untuk memilih strategi apa yang baik untuk move on, juga dapat membuat mereka selalu dihantui oleh bayang-bayang masa lalu. Alasan lain yang membantu seseorang dapat move on adalah dukungan sosial. Dukungan sosial dapat mengurangi distres dan depresi serta meningkatkan kemampuan coping seseorang terhadap hal-hal yang negatif.

Move On!

Penyebab mereka yang melakukan hal yang dapat membahayakan dirinya setelah putus cinta adalah karena belum bisa menerima bahwa hubungan mereka telah berakhir. Mereka merasa tidak berharga dan merasakan depresi yang berlarut-larut. Mereka yang tidak dapat menerima hubungannya yang telah berakhir menutup jalan bagi mereka untuk move on. Sebaliknya, mereka yang mencoba menerima bahwa hubungan telah berakhir akan dapat membantu mereka untuk move on. Sebaiknya mereka dapat membuka diri untuk orang baru agar dapat memulai hubungan romantis yang baru. Hal ini dapat mengurangi rasa kesepian yang mereka alami. Bicarakan baik-baik apa alasan berakhirnya suatu hubungan agar dapat membantu pasangan untuk move on.

Dukungan sosial pun juga tidak kalah penting. Dukungan sosial bisa didapat dari teman terdekat ataupun keluarga, sehingga dapat mengurangi beberapa perasaan negatif karena putus cinta. Upaya-upaya ini dapat dilakukan agar terhindar dari hal-hal yang membahayakan diri kita maupun mantan pasangan kita.

Referensi

Aronson, E., Wilson, T. D., & Akert, R. M. (2007). Social Psychology Fourth Edition. New Jersey: Pearson Education

Yildirim, Barutcu F. A. (2015). Breakup Adjustment in Young Adulthood. Journal Of Counseling & Development, 93(1), 38-44.

Afrianti, Desy. (2014, Desember 17). Putus Cinta, Wanita Muda ini Diduga Tabrakkan Diri ke KRL. Kompas. Diunduh dari http://megapolitan.kompas.com/read/2014/12/17/14172031/Putus.Cinta.Wanita.Muda.Ini.Diduga.Tabrakkan.Diri.ke.KRL.

Kartono, Alfian. (2015, Januari 30). Putus Cinta, Turis Asal Polandia Gantung Diri di Sorong. Kompas. Diunduh dari http://regional.kompas.com/read/2015/01/30/19331221/Putus.Cinta.Turis.Asal.Polandia.Gantung.Diri.di.Sorong

Permana, F. A. (2014, Oktober 16). Putus Cinta, Remaja di Batam Berusaha Bunuh Diri Menenggak Parfum. Diunduh dari http://regional.kompas.com/read/2014/10/16/00512891/Putus.Cinta.Remaja.di.Batam.Berusaha.Bunuh.Diri.Menenggak.Parfum

Priyatin, Slamet. (2015, Mei 01). Remaja Putri di Kendal Ditemukan Gantung Diri . Kompas. Diunduh dari http://regional.kompas.com/read/2015/05/01/18084421/Remaja.Putri.di.Kendal.Ditemukan.Gantung.Diri

Santi, Natalia. (2015, Maret 31). Putus Cinta, Pria Ini Coba Bunuh Diri Pakai Petasan. Tempo. Diunduh dari Putus Cinta, Pria Ini Coba Bunuh Diri Pakai Petasan | -dunia- | Tempo.co

Topik Penelitian dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka)

Berikut ini adalah topik-topik penelitian yang akan dilaksanakan oleh Uhamka. Sekiranya ada yang berminat untuk melakukan kolaborasi penelitian dengan topik yang serupa atau bersinggungan, silakan menghubungi para peneliti melalui kontak yang tersedia.

1. Islamic Parenting oleh Dewi Trihandayani. Kontak dapat ditujukan pada dewitrihandayani@gmail.com

2. Religious Belief & Personal Growth oleh Yulmaida Amir. Kontak dapat ditujukan pada mai.tentramin@gmail.com

3. Keluarga Sakinah oleh Anisia Kumala. Korespondensi dapat dilakukan melalui anisiakumala@gmail.com

4. Konstruk Psikologi “Arif” oleh Lila Pratiwi. Korespondensi dapat dilakukan melalui lila.pratiwi304@gmail.com

5. Konstruk Psikologi “Hikmah” oleh Ilham Mundzir. Korespondensi dapat dilakukan melalui ilham2_m@yahoo.com

6. Religiosity oleh Abdul Halim Sani. Korespondensi dapat dilakukan melalui abdulhalimsani@gmail.com

7. Prophetic Leadership oleh Puti Archianti. Korespondensi dapat dilakukan melalui archianti_p@yahoo.com

8. Morality & Virtue of Jihad oleh Subhan El Hafiz. Korespondensi dapat dilakukan melalui subhanhafiz@gmail.com

9. Diagnostika Sabar & Konstruk Psikologi “Ikhlas” oleh Fahrul Rozi. Korespondensi dapat dilakukan melalui fahrul.uhamka@gmail.com

10. Kecerdasan Emosi dan Islamic Value oleh Yulistin Tresnawati. Korespondensi dapat dilakukan melalui yulistin.tresnawaty@yahoo.com

11. Psikoterapi & Islamic Virtue oleh Nuram Mubina. Korespondensi dapat dilakukan melalui nurommubin_a@yahoo.com

12. Dakwah Virtual oleh Indah Megawati Aswin. Korespondensi dapat dilakukan melalui indahmegin@gmail.com

Judul-judul Penelitian dari Universitas Pelita Harapan

Berikut ini adalah beberapa judul penelitian dari Universitas Pelita Harapan. Sekiranya ada yang berminat untuk melakukan penelitian bersama atau melakukan penelitian yang terkait, silakan menghubungi peneliti yang bersangkutan melalui kontaknya masing-masing.

1.Explorations Of Determining Factors In Psychological Help-Seeking Attitudes Among Indonesians. Penelitian ini dilakukan oleh Ruth Sumule (ruth.sumule@uph.edu) dan Wiwit P. Dewi (wiwit.dewi@uph.edu).

2. Jealousy and Relationship Satisfaction among Dating Couples. Penelitian ini dilakukan oleh Karel Karsten (karel.karsten@uph.edu), Eunike Mutiara (eunike.mutiara@uph.edu) dan Riryn Sani (riryn.sani@uph.edu).

3. Marriage Expectation and Relationship Satisfaction among Married Young Adults. Penelitian ini dilakukan oleh Eunike Mutiara (eunike.mutiara@uph.edu), Karel Karsten (karel.karsten@uph.edu) dan Riryn Sani (riryn.sani@uph.edu).

4. Comparing the Level of Emotional Regulation between Adolescence and Late Adults. Penelitian ini dilakukan oleh Fransisca Sidabutar (fransisca.sidabutar@uph.edu) dan Krishervina (krishervina.lidiawati@uph.edu).

5. Stress, Religious Commitment, and Subjective Well-Being. Penelitian ini dilakukan oleh Yonathan Aditya (yonathan.aditya@uph.edu).

6. Development of Indonesian Version of Teacher Competence Questionnaire. Penelitian ini dilakukan oleh Meicky S. Panggabean dan Karel Karsten (karel.karsten@uph.edu).

7. Career Maturity and Career Decision Making among Students. Penelitian ini dilakukan oleh Kartika Sitorus (kartika.sitorus@uph.edu).

Reshuffle Kabinet

Sarlito Wirawan Sarwono

Hari-hari ini media massa maupun obrolan di warung kopi sedang diramaikan oleh isyu reshuffle kabinet. Masyarakat berharap bahwa dengan penggantian menteri-menteri bidang perekonomian, negara akan beres dengan sendirinya. Bahkan ada yang saking gemesnya ocehannya sudah mengarah ke Presien Jokowi sendiri. “Sudah enam bulan harga BBM malah naik, kurs dolar naik, harga Sembako juga naik, Presidennya saja yang turun!”

Yang mengherankan, pandangan publik Indonesia, seakan-akan tidak bergerak dari persepsi negatif dari pemerintahan Jokowi ini. Sebagai contoh, pencalonan Komjen BG, walaupun sudah diselesaikan dengan gaya Jokowi yang penuh kejutan itu, walaupun sudah diterima oleh pihak-pihak terkait (termasuk DPR, Polri dan KPK sendiri), terus saja dianggap sebagai kasus Cicak versus Buaya jilid III. Sepertinya tidak ada selesainya, dan baru mereda setelah mencuat kasus postitusi kelas tinggi, melalui media sosial, yang melibatkan artis AA dan mucikari RA.

Berbeda sekali dengan di masa kampanye. Waktu itu Jokowi belum punya prestasi apapun sebagai presiden. Prestasinya sebagai Walikota Solo pun tidak luput dari gugatan (tidak menyelesaikan masa tugasnya), begitu juga sebagai Gubernur DKI (masalah banjir dan kemacetan lalu-lintas). Bahkan lawan-lawan politiknya menghujat Jokowi dengan isyu-isyu yang berbau SARA (non-muslim, keturunan Tionghoa, dll). Tetapi Jokowi maju terus. Pendukung-pendukungnya pun sangat kreatif, terciptalah ikon “Salam dua jari”, berikut jingle-nya yang sangat memberi semangat. Para relawan, termasuk para artis menggelar konser dadakan di Parkir Timur Senayan, yang menyedot ratusan ribu manusia, walaupun dipersiapkan hanya dalam satu malam! Akhirnya Jokowi memperoleh suara dengan selisih angka yang tipis dari Prabowo, hanya sekitar 8 juta suara, sehingga skor hampir seri 50:50, tetapi Jokowi berhasil memenangkan kontes pemilihan Presiden RI yang fenomenal tersebut.

Dibandingkan dengan Probowo, Jokowi pada waktu itu sebetulnya kalah pamor dari Prabowo yang sosok militer berpengalaman, mantan menantu mantan Presiden Suharto, putra begawan Ekonomi Indonesia, Prof. Dr Sumitro Djojohadikusumo, dan penguaha kelas kakap yang sukses. Jokowi juga pengusaha, tetapi kelasnya beberapa tingkat di bawah Prabowo, dan pengalaman birokrasinya pun baru setingkat lokal. Jokowi belum punya pengalaman nasional, apalagi internasional.

Tetapi Jokowi suka blusukan, dia dekat dengan rakyat, dia ngobrol dengan masyarakat papan paling bawah, dia turun ke gorong-gorong di Jakarta untuk melihat sendiri apa yang membuat macet got sehingga banjir. Inilah yang disukai rakyat, yang dinilai sebagai faktor positif sekaligus kekuatan Jokowi sebagai calon Presiden. Satu faktor positif inilah yang diolah terus-menerus oleh tim relawan Jokowi pada waktu itu, termasuk juga untuk menepis isyu-isyu negatif dari lawan-lawan politik dan berhasil!

Appreciative Inquiry

Pada tahun 1987, dua pakar psikologi dari Universitas Case Western Reserve di Amerika Serikat, yang bernama Daavid Cooperrider dan Suresh Srivastba, meluncurkan sebuah makalah tentang model untuk menganalisis, membuat keputusan dan merencanakan strategi perubahan bagi perusahaan-perusahaan yang mau mencapai kemajuan. Mereka mengritik model analisis Problem Solving yang konvesional, termasuk model amalisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat), karena model problem solving fokus pada mencari kesalahan dan kelainan (“Ada masalah apa, siapa yang salah?), yang pada gilirannya menimbulkan perasaan tak yakin apa yang harus dilakukan, berusaha untuk diperbaiki, tetapi malah makin gagal.

Karena itu Cooperrider dan Srivastba (wafat pada tahun 2010) menawarkan model lain yang dinamakannya Appreciative Inquiry (AI) yaitu bukan menanyakan “Apa yang salah?”, melainkan menanyakan “Apa yang sudah baik?” pada diri kita. Yang baik-baik itu biasanya mudah menimbulkan perasaan berharga atau bangga (apresiatif) dan mendorong semangat untuk berusaha lebih baik dan lebih baik lagi. Model ini telah dicobakan pada berbagai perusahaan dan organisasi sosial dan terbukti jauh lebih berhasil ketimbang model problem solving tradisional.

Perbedaan AI dari model problem solving (PS) tradisional adalah bahwa AI selalu selalu mulai dengan (1) identifikasi apa yang terbaik dari diri kita., (2) membayangkan seperti apa dahsyatnya kekuatan itu, (3) mendiskusikan dengan teman-teman kira-kira apa yang bisa kita lakukan agar kekuatan kita itu bisa lebih dahsyat lagi, dan (4) akhirnya berinovasi untuk merealisasikan mimpi itu. Maka prroses dalam AI itu akan diawali dengan temuan (apa yang hebat), diikuti dengan mimpi (tentang kehebatan itu), perencanaan (bagaimana membuat yang hebat itu lebih dahsyat lagi) dan akhirnya diwujudkan dalam implementasi.

Tetapi juga perlu diperhatikan bahwa ada prinsip-psrinsip tertentu dri AI yang perlu ditaati, yaitu (1) konstruktif (membangun), (2) serentak (biarkan dialog berkembang lintas sektoral, mana yang mengemuka dan berulang-ulang didiskusikan itulah mungkin inti kekuatan kta), (3) puitis (menggunakan narasi, kualitatif, hindari angka atau kuantitatif), (4) antisipatif (dibimbing oleh bayangan kita ke masa depan) dan (5) positif (melibatkan emosi-emosi positif seperti senang, bangga, semangat dan seterusnya yang bisa memicu kreativitas dan inovasi).

Kembali ke reshuffle kabinet.

Bagaimana sekarang dengan Indonesia kita? Merujuk kepada teori AI, yang penting para politisi, pakar, pengamat dan kita semua harus terus bertanya, sampai ketemu jawabannya (discovery) “Apa kehebatan kita?”. Saat ini Indonesia sedang dipimpin oleh Presden Jokowi, maka kita harus cari apa kedahsyatan Jokowi, bukan SBY, Haibie, Suharto (penak jamanku, to…?), atau bahkan Bung Karno. Di jaman kampanye, cepat sekali kita mengpresiasi blusukan-nya Jokowi. Kalau kita mau, sekarangpun mudah kita temukan kedahsyatan Jokowi. Misalnya, menyelenggarakan peringatan Konferensi AA ke 60, menenggelamkan kapal-kepal nelayan asing, menurunkan harga BBM sambil sekaligus menghapus subsidi BBM, memberi amnesti kepada narapidana Papua, membuka Indonesia untuk pers asing, langsung merelokasi pengungsi Gunung Sinabung, dan lainnya.

Top, kan? Minimal itu menurut saya pribadi. Kalau Anda ikut dengan menyumbang ide-ide hebat lainnya, maka kita akan sampai pada gambaran bagaimana luar biasa hebatnya NKRI sehingga bisa kita genjot supaya lebih hebat lagi! Kita remix ucapan Bung Karno, “Kapitalis kita linggis, Cina kita setrika”. Sayangnya, KIH (Koalisi Indonesia Hebat) sendiri malah ikut-ikutan mengritik Jokowi. Artinya meragukan kehebatan Indonesia. Dalam hal ini saya malah lebih suka pada slogan kampanyenya Prabowo, “Kalau bukan kita, siapa lagi! Kalau bukan sekarang, kapan lagi