Putus Cinta? Move On!

Aisyah Uswatunnisa*

*Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas YARSI, Jakarta

Jatuh cinta adalah hal yang biasa dialami oleh manusia. Jatuh cinta bisa berujung pada sebuah hubungan. Hubungan itu bisa berlangsung dengan baik dan tidak. Jika tidak berlangsung dengan baik, hubungan itu akan berakhir dan biasanya seseorang akan mengalami putus cinta setelahnya. Ada macam-macam bentuk reaksinya setelah putus cinta. Ada yang biasa saja atau istilah anak zaman sekarang adalah “move on” atau ada yang sampai depresi dan bunuh diri. Dari beberapa berita yang saya baca, tidak sedikit pasangan yang bunuh diri setelah putus cinta (Permana,2014, Oktober 16: Putus Cinta, Remaja di Batam Berusaha Bunuh Diri Menenggak Parfum); (Priyatin, 2015, Mei 01: Remaja Putri di Kendal Ditemukan Gantung Diri); (Santi,2015, Maret 31: Putus Cinta, Pria Ini Coba Bunuh Diri Pakai Petasan); (Kartono, 2015, Januari 30: Putus Cinta, Turis Asal Polandia Gantung Diri di Sorong). Ada yang minum obat-obatan secara berlebihan, menyayat nadi pada pergelangan tangan, dan hingga ada yang menabrakkan dirinya ke kereta api (Afrianti,2014, Desember 17: Putus Cinta, Wanita Muda ini Diduga Tabrakkan Diri ke KRL). Semuanya berniat untuk mengakhiri hidupnya. Hal ini bisa terjadi karena mereka belum bisa menerima berakhirnya hubungan mereka. Mereka belum bisa move on dari hubungannya.

Pengalaman Putus Cinta

Setiap orang berbeda-beda dalam  menyikapi putus cinta. Hal ini dibedakan dari apakah dia yang diakhiri secara sepihak, dia yang mengakhiri atau mereka mengakhiri hubungan secara bersama-sama atau kesepakatan bersama (Aronson, Wilson & Akert, 2004). Mereka yang diakhiri secara sepihak lebih merasakan perasaan yang negatif dibandingkan mereka yang mengakhiri hubungan tersebut.

Mereka yang mengakhiri hubungan secara bersama-sama merasa tidak terlalu merasa kecewa seperti yang diakhiri secara sepihak namun juga tidak berarti mereka tidak merasa apa-apa seperti yang mengakhiri. Dalam studinya, Yildrim (2015) menyatakan bahwa orang yang diakhiri secara sepihak lebih merasa depresi. Hal ini dikarenakan mereka yang diakhiri secara sepihak merasa putus cinta merupakan hal yang tidak mereka inginkan dan itu terjadi sehingga mereka tidak bisa menerimanya. Jika mereka tidak bisa menerima hal tersebut, proses move on pun tidak akan terjadi. Rasa keberhargaan dirinya pun menurun karena merasakan penolakan yang dapat membuatnya semakin depresi (Ayduk dkk., 2001).

Ternyata memiliki hubungan romantis yang baru juga bisa membantu seseorang untuk move on dari hubungannya yang lalu (Knox,dkk, 2000). Hal ini dapat mengurangi distres, memberikan efek positif, mengurangi rasa kesepian dan mengurangi pemikiran tentang hubungan yang lalu. Hal lain yang mempengaruhi orang untuk susah move on adalah tidak tahu alasan mengapa hubungan mereka berakhir. Kondisi ini membuat seseorang merasa kehilangan kontrol dan merasa urusan mereka saat itu belum selesai. Urusan yang mereka rasa belum selesai ini dapat membuat mereka tidak dapat mengutarakan perasaan mereka seperti rasa kesal, benci, marah dan lain-lain. Mereka menjadi susah untuk memilih strategi apa yang baik untuk move on, juga dapat membuat mereka selalu dihantui oleh bayang-bayang masa lalu. Alasan lain yang membantu seseorang dapat move on adalah dukungan sosial. Dukungan sosial dapat mengurangi distres dan depresi serta meningkatkan kemampuan coping seseorang terhadap hal-hal yang negatif.

Move On!

Penyebab mereka yang melakukan hal yang dapat membahayakan dirinya setelah putus cinta adalah karena belum bisa menerima bahwa hubungan mereka telah berakhir. Mereka merasa tidak berharga dan merasakan depresi yang berlarut-larut. Mereka yang tidak dapat menerima hubungannya yang telah berakhir menutup jalan bagi mereka untuk move on. Sebaliknya, mereka yang mencoba menerima bahwa hubungan telah berakhir akan dapat membantu mereka untuk move on. Sebaiknya mereka dapat membuka diri untuk orang baru agar dapat memulai hubungan romantis yang baru. Hal ini dapat mengurangi rasa kesepian yang mereka alami. Bicarakan baik-baik apa alasan berakhirnya suatu hubungan agar dapat membantu pasangan untuk move on.

Dukungan sosial pun juga tidak kalah penting. Dukungan sosial bisa didapat dari teman terdekat ataupun keluarga, sehingga dapat mengurangi beberapa perasaan negatif karena putus cinta. Upaya-upaya ini dapat dilakukan agar terhindar dari hal-hal yang membahayakan diri kita maupun mantan pasangan kita.

Referensi

Aronson, E., Wilson, T. D., & Akert, R. M. (2007). Social Psychology Fourth Edition. New Jersey: Pearson Education

Yildirim, Barutcu F. A. (2015). Breakup Adjustment in Young Adulthood. Journal Of Counseling & Development, 93(1), 38-44.

Afrianti, Desy. (2014, Desember 17). Putus Cinta, Wanita Muda ini Diduga Tabrakkan Diri ke KRL. Kompas. Diunduh dari http://megapolitan.kompas.com/read/2014/12/17/14172031/Putus.Cinta.Wanita.Muda.Ini.Diduga.Tabrakkan.Diri.ke.KRL.

Kartono, Alfian. (2015, Januari 30). Putus Cinta, Turis Asal Polandia Gantung Diri di Sorong. Kompas. Diunduh dari http://regional.kompas.com/read/2015/01/30/19331221/Putus.Cinta.Turis.Asal.Polandia.Gantung.Diri.di.Sorong

Permana, F. A. (2014, Oktober 16). Putus Cinta, Remaja di Batam Berusaha Bunuh Diri Menenggak Parfum. Diunduh dari http://regional.kompas.com/read/2014/10/16/00512891/Putus.Cinta.Remaja.di.Batam.Berusaha.Bunuh.Diri.Menenggak.Parfum

Priyatin, Slamet. (2015, Mei 01). Remaja Putri di Kendal Ditemukan Gantung Diri . Kompas. Diunduh dari http://regional.kompas.com/read/2015/05/01/18084421/Remaja.Putri.di.Kendal.Ditemukan.Gantung.Diri

Santi, Natalia. (2015, Maret 31). Putus Cinta, Pria Ini Coba Bunuh Diri Pakai Petasan. Tempo. Diunduh dari Putus Cinta, Pria Ini Coba Bunuh Diri Pakai Petasan | -dunia- | Tempo.co

Advertisements

Reshuffle Kabinet

Sarlito Wirawan Sarwono

Hari-hari ini media massa maupun obrolan di warung kopi sedang diramaikan oleh isyu reshuffle kabinet. Masyarakat berharap bahwa dengan penggantian menteri-menteri bidang perekonomian, negara akan beres dengan sendirinya. Bahkan ada yang saking gemesnya ocehannya sudah mengarah ke Presien Jokowi sendiri. “Sudah enam bulan harga BBM malah naik, kurs dolar naik, harga Sembako juga naik, Presidennya saja yang turun!”

Yang mengherankan, pandangan publik Indonesia, seakan-akan tidak bergerak dari persepsi negatif dari pemerintahan Jokowi ini. Sebagai contoh, pencalonan Komjen BG, walaupun sudah diselesaikan dengan gaya Jokowi yang penuh kejutan itu, walaupun sudah diterima oleh pihak-pihak terkait (termasuk DPR, Polri dan KPK sendiri), terus saja dianggap sebagai kasus Cicak versus Buaya jilid III. Sepertinya tidak ada selesainya, dan baru mereda setelah mencuat kasus postitusi kelas tinggi, melalui media sosial, yang melibatkan artis AA dan mucikari RA.

Berbeda sekali dengan di masa kampanye. Waktu itu Jokowi belum punya prestasi apapun sebagai presiden. Prestasinya sebagai Walikota Solo pun tidak luput dari gugatan (tidak menyelesaikan masa tugasnya), begitu juga sebagai Gubernur DKI (masalah banjir dan kemacetan lalu-lintas). Bahkan lawan-lawan politiknya menghujat Jokowi dengan isyu-isyu yang berbau SARA (non-muslim, keturunan Tionghoa, dll). Tetapi Jokowi maju terus. Pendukung-pendukungnya pun sangat kreatif, terciptalah ikon “Salam dua jari”, berikut jingle-nya yang sangat memberi semangat. Para relawan, termasuk para artis menggelar konser dadakan di Parkir Timur Senayan, yang menyedot ratusan ribu manusia, walaupun dipersiapkan hanya dalam satu malam! Akhirnya Jokowi memperoleh suara dengan selisih angka yang tipis dari Prabowo, hanya sekitar 8 juta suara, sehingga skor hampir seri 50:50, tetapi Jokowi berhasil memenangkan kontes pemilihan Presiden RI yang fenomenal tersebut.

Dibandingkan dengan Probowo, Jokowi pada waktu itu sebetulnya kalah pamor dari Prabowo yang sosok militer berpengalaman, mantan menantu mantan Presiden Suharto, putra begawan Ekonomi Indonesia, Prof. Dr Sumitro Djojohadikusumo, dan penguaha kelas kakap yang sukses. Jokowi juga pengusaha, tetapi kelasnya beberapa tingkat di bawah Prabowo, dan pengalaman birokrasinya pun baru setingkat lokal. Jokowi belum punya pengalaman nasional, apalagi internasional.

Tetapi Jokowi suka blusukan, dia dekat dengan rakyat, dia ngobrol dengan masyarakat papan paling bawah, dia turun ke gorong-gorong di Jakarta untuk melihat sendiri apa yang membuat macet got sehingga banjir. Inilah yang disukai rakyat, yang dinilai sebagai faktor positif sekaligus kekuatan Jokowi sebagai calon Presiden. Satu faktor positif inilah yang diolah terus-menerus oleh tim relawan Jokowi pada waktu itu, termasuk juga untuk menepis isyu-isyu negatif dari lawan-lawan politik dan berhasil!

Appreciative Inquiry

Pada tahun 1987, dua pakar psikologi dari Universitas Case Western Reserve di Amerika Serikat, yang bernama Daavid Cooperrider dan Suresh Srivastba, meluncurkan sebuah makalah tentang model untuk menganalisis, membuat keputusan dan merencanakan strategi perubahan bagi perusahaan-perusahaan yang mau mencapai kemajuan. Mereka mengritik model analisis Problem Solving yang konvesional, termasuk model amalisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat), karena model problem solving fokus pada mencari kesalahan dan kelainan (“Ada masalah apa, siapa yang salah?), yang pada gilirannya menimbulkan perasaan tak yakin apa yang harus dilakukan, berusaha untuk diperbaiki, tetapi malah makin gagal.

Karena itu Cooperrider dan Srivastba (wafat pada tahun 2010) menawarkan model lain yang dinamakannya Appreciative Inquiry (AI) yaitu bukan menanyakan “Apa yang salah?”, melainkan menanyakan “Apa yang sudah baik?” pada diri kita. Yang baik-baik itu biasanya mudah menimbulkan perasaan berharga atau bangga (apresiatif) dan mendorong semangat untuk berusaha lebih baik dan lebih baik lagi. Model ini telah dicobakan pada berbagai perusahaan dan organisasi sosial dan terbukti jauh lebih berhasil ketimbang model problem solving tradisional.

Perbedaan AI dari model problem solving (PS) tradisional adalah bahwa AI selalu selalu mulai dengan (1) identifikasi apa yang terbaik dari diri kita., (2) membayangkan seperti apa dahsyatnya kekuatan itu, (3) mendiskusikan dengan teman-teman kira-kira apa yang bisa kita lakukan agar kekuatan kita itu bisa lebih dahsyat lagi, dan (4) akhirnya berinovasi untuk merealisasikan mimpi itu. Maka prroses dalam AI itu akan diawali dengan temuan (apa yang hebat), diikuti dengan mimpi (tentang kehebatan itu), perencanaan (bagaimana membuat yang hebat itu lebih dahsyat lagi) dan akhirnya diwujudkan dalam implementasi.

Tetapi juga perlu diperhatikan bahwa ada prinsip-psrinsip tertentu dri AI yang perlu ditaati, yaitu (1) konstruktif (membangun), (2) serentak (biarkan dialog berkembang lintas sektoral, mana yang mengemuka dan berulang-ulang didiskusikan itulah mungkin inti kekuatan kta), (3) puitis (menggunakan narasi, kualitatif, hindari angka atau kuantitatif), (4) antisipatif (dibimbing oleh bayangan kita ke masa depan) dan (5) positif (melibatkan emosi-emosi positif seperti senang, bangga, semangat dan seterusnya yang bisa memicu kreativitas dan inovasi).

Kembali ke reshuffle kabinet.

Bagaimana sekarang dengan Indonesia kita? Merujuk kepada teori AI, yang penting para politisi, pakar, pengamat dan kita semua harus terus bertanya, sampai ketemu jawabannya (discovery) “Apa kehebatan kita?”. Saat ini Indonesia sedang dipimpin oleh Presden Jokowi, maka kita harus cari apa kedahsyatan Jokowi, bukan SBY, Haibie, Suharto (penak jamanku, to…?), atau bahkan Bung Karno. Di jaman kampanye, cepat sekali kita mengpresiasi blusukan-nya Jokowi. Kalau kita mau, sekarangpun mudah kita temukan kedahsyatan Jokowi. Misalnya, menyelenggarakan peringatan Konferensi AA ke 60, menenggelamkan kapal-kepal nelayan asing, menurunkan harga BBM sambil sekaligus menghapus subsidi BBM, memberi amnesti kepada narapidana Papua, membuka Indonesia untuk pers asing, langsung merelokasi pengungsi Gunung Sinabung, dan lainnya.

Top, kan? Minimal itu menurut saya pribadi. Kalau Anda ikut dengan menyumbang ide-ide hebat lainnya, maka kita akan sampai pada gambaran bagaimana luar biasa hebatnya NKRI sehingga bisa kita genjot supaya lebih hebat lagi! Kita remix ucapan Bung Karno, “Kapitalis kita linggis, Cina kita setrika”. Sayangnya, KIH (Koalisi Indonesia Hebat) sendiri malah ikut-ikutan mengritik Jokowi. Artinya meragukan kehebatan Indonesia. Dalam hal ini saya malah lebih suka pada slogan kampanyenya Prabowo, “Kalau bukan kita, siapa lagi! Kalau bukan sekarang, kapan lagi

BERSYUKUR SELALU, BERBAHAYAKAH?

Oleh: Karel Karsten

Ada berbagai reaksi seseorang ketika dihadapkan pada situasi buruk. Ada yang menyesal, berharap waktu dapat diulang kembali; ada yang frustrasi dan menunjukkannya dalam reaksi emosi berlebihan, tetapi ada juga yang tetap mensyukuri dan mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi tersebut. Emmons dan Shelton (2012) menggambarkan bahwa orang-orang yang mampu bersyukur di dalam hidupnya ditemukan lebih berbahagia, memiliki relasi interpersonal yang lebih positif dan berkualitas, serta lebih optimis dalam memandang hidup.

Bersyukur memang baik – semua agama tentu mengajarkan manusia untuk bersyukur, bahkan orang yang tidak beragama sekalipun kerap bersyukur. Biasanya bersyukur terjadi sebagai reaksi spontan seseorang saat mengalami hal menyenangkan yang tak terduga, misalnya: memenangkan undian, mendapatkan pasangan hidup, mendapat penghargaan di tempat kerja, dan sebagainya. Namun, rasa syukur juga kerap muncul ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang kurang menyenangkan, seperti: menderita kerugian akibat bencana alam, gagal dalam ujian, atau diberhentikan dari tempat bekerja. Untuk kondisi-kondisi sulit seperti ini, bersyukur jelas lebih sulit untuk dilakukan.

Akan tetapi, meskipun sulit untuk dilakukan, rasa syukur ketika mengalami hal-hal yang negatif perlu diwaspadai. Bukan karena bersyukur dapat berdampak negatif, tetapi karena seringkali reaksi bersyukur itu tidak benar-benar mencerminkan syukur yang sejati, melainkan lebih berupa upaya untuk menyelamatkan diri (ego) dari kecemasan akibat kegagalan, penderitaan, atau rasa bersalah karena peristiwa negatif itu – juga dikenal dengan istilah ‘mekanisme pertahanan diri’ menurut Sigmund Freud. Contoh sederhananya, seorang mahasiswa mendapat nilai C pada satu mata kuliah, saat mayoritas teman-temannya mendapat nilai A. Di tengah situasi sulit ini, ia memilih untuk bersyukur karena diberi kesempatan mendapat nilai C. Akhirnya, di pelajaran-pelajaran berikutnya, nilainya pun tidak berubah karena ia tidak berdaya juang untuk mengusahakan sesuatu yang lebih sekalipun sebenarnya ia mampu. Rasa syukur yang seperti ini tentu kurang tepat.

Ekspresi syukur seringkali menjadi ambigu, tercemar dengan berbagai ekspresi sebagai bentuk dari: mekanisme pertahanan diri (rasionalisasi),upaya dengan sengaja untuk melemahkan diri sebagai alasan menghadapi kegagalan (self-handicapping) (Myers, 2007),
upaya menolak tantangan karena khawatir tidak berhasil menaklukkannya sehingga mengaku mensyukuri apa yang sudah ada (Jonah complex; konsep Maslow) (Feist & Feist, 2009).

Tidak semua ekspresi di atas bermakna negatif, bahkan dalam berbagai situasi sangat dibutuhkan demi menjaga keberfungsian diri. Namun, penting bagi kita untuk dengan jeli memeriksa apakah rasa syukur kita ungkapkan sebenarnya benar-benar rasa syukur yang sejati atau upaya tak sadar dari dalam diri untuk mengurangi produktivitas diri kita. Hal-hal berikut ini mungkin dapat membantu kita lebih mudah membedakannya:
Bersyukur yang sejati merupakan reaksi, bukan aksi. Rasa syukur atau gratitude berasal dari bahasa Latin, ‘gratia’, yang berarti ungkapan senang dan berterima kasih atas sesuatu yang semula tidak dimaksudkan dialami oleh seseorang, yang tercermin dalam perilaku memberi, altruis, dan bermurah hati (Emmons & Shelton, 2012).

Emmons dan Crumpler (2000) menyebutkan bahwa bersyukur adalah reaksi emosional ketika seseorang mendapat ‘hadiah’. Jelas terlihat bahwa rasa syukur yang sejati merupakan respon atas stimulus yang tidak terduga namun terjadi dalam hidup seseorang. Jadi, rasa syukur seharusnya tidak ‘diusahakan dengan sekuat tenaga’ (stimulus) demi membuat diri merasa nyaman atau untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (respon). Meskipun demikian, seseorang bisa saja berlatih bersyukur dengan melakukan upaya sadar ‘memaksakan diri’ untuk bersyukur, dengan harapan agar kelak ia dapat bersyukur dengan sendirinya. Jadi, belajar bersyukur tidak salah; yang salah ialah bersyukur yang membuat seseorang lupa belajar.

Bersyukur mengandung ekspresi pemaknaan pengalaman yang positif, bukan protektif. Saat seseorang bersyukur atas suatu peristiwa, ia memaknai peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang positif, tidak selalu dalam hal output-nya, tetapi bisa juga dalam memaknai pembelajaran atau hikmah positif dari peristiwa tersebut. Jadi, bersyukur mengandung unsur penilaian yang positif atas peristiwa yang dialami. Ketika seseorang bersyukur dalam rangka membuat dirinya terproteksi dari pengalaman tidak menyenangkan di masa depan, dari hal-hal sulit yang seharusnya ia lakukan (misal: daripada harus belajar seharian penuh, lebih baik bersyukur mendapat nilai C), jelas itu bukan menunjukkan ungkapan syukur yang sejati.

Sekalipun berupa reaksi, rasa syukur disertai dengan perilaku yang konstruktif. Bayangkan Anda diberikan uang dalam jumlah yang sangat besar sebagai hadiah ulang tahun. Tentu Anda akan bersyukur, dan sebagai wujud dari rasa syukur itu, Anda mungkin berusaha untuk membalas budinya dengan berperilaku baik kepadanya. Perilaku yang konstruktif, membangun, meningkatkan kompetensi diri – ini semua adalah ekspresi dari rasa syukur yang sejati. Jadi, ketika seseorang mendapat nilai jelek dan ia berkata ‘bagaimanapun, saya bersyukur’ serta tidak menunjukkan perilaku yang konstruktif, rasa syukurnya sebenarnya hanya merupakan upaya melindungi diri dari rasa malu dan bersalah. Sebaliknya, ketika mendapat nilai C dan seseorang berkata ‘saya bersyukur diizinkan mendapat pengalaman ini’, lalu menarik pelajaran berharga serta berupaya meningkatkan kompetensi diri, inilah wujud syukur yang sejati (menerima diri secara penuh serta siap melakukan hal yang produktif).

Dengan demikian, bersyukur yang sejati sebenarnya merupakan ungkapan dari dalam diri atas rasa senang luar biasa dari pemaknaan terhadap suatu peristiwa, bukan upaya luar biasa untuk menyenangkan diri dalam memaknakan suatu peristiwa. Jadi, berbahayakah senantiasa bersyukur? Jawabannya: tidak, sepanjang kita tahu dan mampu benar-benar bersyukur.

Daftar Pustaka

Emmons, R.A. & Shelton, C.M. (2002). Gratitude and the Science of Positive Psychology. Dalam Synder, C.R. & Lopez, S.J. (ed.) Handbook of Positive Psychology. New York, NY: Oxford University Press.

Emmons, R. A., & Crumpler, C. A. (2000). Gratitude as human strength: Appraising the evidence. Journal of Social and Clinical Psychol- ogy, 19, 56–69.

Feist, J & Feist, G. J. (2009). Theories of personality (7th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.

Myers, D. G. (2007). Social psychology (9th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.

Membuka Gerbang Kerjasama Melalui Tulisan

Oleh: Ardiningtiyas Pitaloka

Penyelenggaran Simposium Psikologi Ulayat dalam Temilnas IPS di Bali telah berlangsung dua bulan yang lalu. Sebelumnya, seluruh abstrak peserta simposium ditampilkan dalam blog KPIN beserta informasi alamat surat elektronik (surel) penulis/peneliti. Penayangan ini bukan sekedar ajang narsis atau informasi akan adanya simposium, melainkan menjadi satu media komunikasi dengan rekan psikologi, juga non psikologi yang membaca blog KPIN.

Manfaat sebagai media komunikasi ini kebetulan saya dapatkan bulan lalu. Saya mendapatkan surel dari seorang mahasiswa yang sedang menyusun tesis dengan tema makna perasaan malu. Ia mengirimkan surel karena menemukan abstrak penelitian saya yang berjudul Makna Perasaan Malu dan Perasaan Bersalah dalam Masyarakat Papua https://konsorsiumpsikologiilmiahnusantara.wordpress.com/2015/01/09/abstrak-simposium-jp-ulayat-temu-ilmiah-psikologi-sosial-bali-21-23-januari-2015/. Satu peneitian dengan pendekatan kualitatif yang mengungkapkan keunikan di salah satu masyarakat Indonesia. Secara ringkas, saya menemukan adanya makna yang berbeda yakni dengan terwakili kedua perasaan tersebut dalam satu istilah/kata. Pada sisi lain, masyarakat Papua sendiri bukanlah masyarakat homogen, sehingga mungkin sekali jika ada kelompok masyarakat yang memiliki dua kata padanan untuk perasaan malu dan perasaan bersalah.

Saya tidak akan membahas penelitian tesebut dalam artikel ini, melainkan ingin berbagi tentang interaksi kecil sebagai dampak penayangan tulisan/abstrak dalam blog. Pengalaman ini sebenarnya sudah beberapa kali saya dapatkan, salah satunya ketika menulis artikel di website psikologi, maupun website lain yang fokus pada tema pengembangan karier. Ketika pertama kali mendapatkan surel dari orang yang tidak saya kenal dan meminta bantuan untuk berdiskusi tentang tema yang saya tulis karena mirip dengan studi  yang sedang ia lakukan. Ada juga sebuah stasiun radio atau wartawan koran maupun tabloid yang meminta wawancara. Semua pengalaman ini membuat saya semakin menyadari bahwa menulis bukan hanya bersenang-senang melainkan sebuah pertanggungjawaban. Menulis berbeda dengan merumpi, bukan karena membutuhkan daftar pustaka seperti penulisan ilmiah, melainkan juga setiap kalimat yang kita tuliskan haruslah bisa dipertanggungjawabkan.

Kembali pada mahasiswa yang menghubungi saya Maret lalu. Saya sangat terkesan dengan semangatnya. Ia memiliki kekurangan sebagai tuna netra yang terjadi ketika beranjak dewasa dan saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Jakarta. Saya tentu senang bisa sedikit membantu dengan mengirimkan beberapa referensi terkait tema perasaan malu, maupun diskusi lebih lanjut. Hal ini juga menunjukkan bahwa media digital membuka kesempatan sangat luas untuk bersinergi dengan orang di belahan dunia lain. Bukan dunia lain ya…

Kalimat: mari berbagi melalui tulisan, tidak hanya bermakna pasif melainkan juga bermakna untuk siap berbagi dalam interaksi dan kerjasama lebih lanjut. Penayangan tulisan di ruang publik, seperti jurnal, website, blog, majalah, surat kabar atau menulis buku, merupakan langkah awal dalam membuka diri untuk kerjasama dengan orang lain. Kesadaran ini baru saya pahami setelah sekian tahun mengirimkan tulisan ke media massa. Saat masih imut, maksudnya masih di bangku menengah pertama, saya penuh semangat mengirimkan cerita pendek tetapi tidak pernah dimuat. Meski begitu, rasanya super bahagia ketika mendapatkan balasan dari satu majalah, berupa catatan atau feedback mengapa belum bisa dimuat. Saat pertama kali artikel dimuat di majalah Intisari, rasanya seperti melayang ke awan, tapi belum ada pikiran di kepala bahwa penayangan ini berarti saya membuka pintu untuk orang lain mengkritik, yang ada adalah pujian dan tepukan tangan 🙂

“The difference between the right word and the almost right word is the difference between lightning and a lightning bug.” ― Mark Twain, The Wit and Wisdom of Mark Twain

IMAN PERKAWINAN

Oleh: Sarlito Wirawan Sarwono

Iman artinya percaya. Istilah ini khusus digunakan untuk agama dan Tuhan. Jadi dalam agama kita mengatakan bahwa kita beriman kepada Tuhan, dan karena itu kita bersungguh-sungguh (berkomitmen) melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya serta menghindari apa yang dilarang-Nya. Tetapi kita tidak mengatakan beriman kepada isteri, walaupun kita sungguh-sungguh percaya kepadanya dan karena itu bersungguh-sungguh (berkomitmen) pula melaksanakan apa yang diperintahkannya serta menghindari apa yang dilarangnya.

Saya, misalnya, minum beberapa butir obat dan segelas jamu yang disiapkan isteri saya tiap pagi dan sore. Saya tidak tahu obat-obat apa itu, karena setiap kali ke dokter, dia ikut masuk ke ruang periksa dan dialah yang menghafal obat-obatan yang diresepkan oleh dokter dan meraciknya tiap hari untuk saya, dan dengan patuh saya meminumnya, karena saya percaya kepada isteri saya. Tetapi saya tidak bisa mengatakan bahwa saya beriman kepada isteri saya. Walaupun begitu iman dan percaya pada hakikatnya tetap sinonim.

***

Pada hari Senin tanggal 3 Maret 2015 yang lalu di UI berlangsung sebuah ujian Doktor. Promovendus (calon doktor) yang mempertahankan disertasinya hari itu adalah Dr. Melok Roro Kinanti, seorang psikolog, yang meneliti tentang perkawinan di desa Dadap, Indramayu, Jawa Barat, Desa yang berlokasi di Pantura itu terkenal sebagai desa produsen TKW (Tenaga Kerja Wanita), dan pekerjaan utama penduduknya adalah nelayan dan petani.

Penelitian Dr Melok adalah mengenai faktor-faktor yang menyebakan keberhasilan atau kegagalan perkawinan dalam konteks suami-isteri yang harus berpisah selama bertahun-tahun karena isteri harus bekerja di luar negeri. Untuk itu peneliti telah mewawancarai 11 wanita mantan TKW, enam di antaranya sudah bercerai, sedangkan yang lima masih mempertahankan perkawinannya.  Dari enam yang sudah bercerai, empat disebabkan karena suami berselingkuh selama isteri bekerja di luar negeri, sedangkan yang dua bercerai karena faktor lain, termasuk karena faktor mertua. Sementara itu yang tidak bercerai disebabkan adanya komitmen perkawinan yang diupayakan oleh pasangan yang bersangkutan di tengah banyaknya faktor lingkungan yang sangat mungkin mengganggu pernikahan. Temuan ini mengukuhkan pendapat sebagian psikolog (termasuk saya sendiri) bahwa dengan kepercayaan yang kuat kepada janji perkawinan (akad nikah), maka kemungkinan terjadinya perceraian bisa diperkecil.  Kepercayaan kepada akad-nikah ini bisa saya sebutkan sebagai beriman kepada perkawinan karena ada unsur agama, dan juga ada Tuhan di dalamnya.

***

Di kelas psikologi klinis, di Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia, Jakarta, di mana saya mengajar, pernah saya tanyakan kepada mashasiswa, yang semuanya calon S2 Psikologi Klinis, dan sudah bergelar S1 Psikologi, apakah mereka percaya bahwa keberhasilan perkawinan itu lebih terjamin jika ada faktor yang dipercaya oleh adat Jawa, yaitu “bibit, bebet dan bobot” (keturunan, kelas ekonomi dan tingkat pendidikan) yang baik? Hampir semuanya menjawab, “Percaya!”.

Penasaran, saya masih tanya mereka lagi, apakah mereka percaya bahwa dalam perkawinan, yang paling penting adalah faktor seiman (pasangan suami dan isteri mempunya kepercayaan agama yang sama). Jawabnya lagi-lagi, “Percaya!”,

Tetapi dalam kenyataan yang sebenarnya, situasinya tidak seperti itu. Tengok saja di sekitar anda, teman-teman, kenalan atau kerabat anda, atau mungkin juga termasuk diri dan keluarga anda sendiri. Berapa banyak yang mengalami perceraian, padahal mereka sudah pas betul kalau soal bibit, bebet dan bobot, bahkan juga iman agama. Kedua pihak, yang suami maupun yang isteri sama-sama ganteng dan cantik, berasal dari keluarga-keluarga yang sama-sama terpandang, berada dan berintegritas tinggi, dan juga sudah umroh, atau bahkan berhaji bersama. Pokoknya pasangan yang sangat ideal. Masuk infotainment sudah beberapa kali untuk dijadikan teladan oleh kaum pasangan muda lainnya. Tetapi pasangan ini tiba-tiba diberitakan (dalam infotainment juga) sudah menghadap pengadilan negeri atau pengadilan agama untuk minta bercerai.

Padahal beberapa pekan yang lalu, seorang seniman musik besar, Rinto Harahap yang kebetulan Kristen, meninggal dunia  dengan tenang, serelah menikah 42 tahun, tanpa cela, dengan isterinya yang muslim. Anak-anak mereka pun menjadi dewasa tanpa ada masalah hingar-bingar yang memalukan keluarga (setidaknya yang diketahui masyarakat). Tentu banyak yang protes pada apa yang saya sampaikan ini. Tetapi itulah faktanya, dan saya sedang bicara tentang perkawinan di sini, di dunia ini, bukan tentang apa yang akan terjadi kelak di akhirat.

Pertanyaan kita sekarang, sebagai orang kebanyakan yang masih mendambakan perkawinan yang hanya sekali seumur hidup adalah mengapa perkawinan Rinto Harahap dan para TKW di desa Dadap bisa bertahan, sementara banyak pasangan lainnya tidak? Perkawinan Rinto bertahan, walaupun beda agama, perkawinan sebagian TKW bertahan walaupun hidup verpisah selama beberapa tahun.

Menurut istilah Dr Melok, yang menggunakan teori Bioekologi dari psikolog Brofenbrenner, penyebab bertahannya perkawinan adalah karena adanya proximal processes yang optimal, yang dalam bahasa Indonesia yang sederhana, bisa diartikan sebagai komitmen untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai rintangan yang tujuannya adalah untuk mempertahankan perkawianan itu sendiri.

***

Seperti halnya dengan setiap janji,  janji perkawinan harus dipercaya, dan dilaksanakan dengan taat sampai kepada titik takwa (pokoknya perkawinanku nomor satu). Tentu saja dalam perkawinan tidak digunakan istilah takwa seperti di dalam agama. Karena itulah ada istilah proses proksimal atau komitmen terhadap perkawinan. Yang penting, kedua pihak yang terlibat perkawinan harus sama-sama punya komitmen yang besar terhadap janji perkawinannya sendiri untuk mempertahankan perkawinan. Itulah temuan dari disertasi Dr. Melok Roro Kinanti.

**Artikel ini telah dimuat di KORAN SINDO, 8 Maret 2015

Langkah-langkah Menuju Terorisme: Masalah Sosial dan Masalah Hidup

Oleh: Idhamsyah Eka Putra

Aksi teror dengan membunuh warga sipil atau non-combatant merupakan aksi yang telah lama muncul. Di Rusia misalnya, pendiri kelompok teroris yang didirikan Sergey Nechayev muncul pada tahun 1869. Kelompok teroris lain seperti IRA (Irish Repubilcan Army) berdiri sejak tahun 1913 di Irlandia dan masih eksis sampai saat ini.

Kata teror (ing: terror) itu sendiri sebenarnya berasal dari kata latin Terrere yang berarti menakuti. Istilah Terrere ini telah muncul di jaman Romawi. Penggambaran tersebut menjelaskan bahwa terorisme bukanlah suatu phenomena yang baru muncul pada dekade-dekade belakangan ini.
Walaupun terorisme telah lama muncul, tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini isu mengenai terorisme merupakan isue yang paling hangat dibahas di dalam pembicaaraan keamaanan nasional dan keamanan global (Sutalan, 2007).

Isu terorisme ini menjadi suatu hal paling disorot setelah peristiwa runtuhnya gedung kembar WTC pada 11 september 2001 dan reaksi Bush, presiden Amerika waktu itu untuk berperang melawan terorisme. Setelah kejadian bom Bali tahun 2002, Asia Tenggara ditetapkan sebagai “second front” dalam melawan
terorisme.

Selain itu, hal lain yang perlu diketahui bahwa terorisme tidak muncul hanya di Amerika atau di Asia Tenggara tetapi terorisme muncul di berbagai benua dan negara. Kemunculannya ini tidak spesifik pada negara miskin tetapi juga muncul di negara kaya, negara otoriter ataupun demokrasi, di negara maju atau tertinggal. Fakta ini tentu saja menjelaskna bahwa betapa terorisme muncul menembus batas-batas ideologi, kondisi sosial, dan agama.

Menyimak fenomena yang muncul menembus batas ini mengantar munculnya beberapa pertanyaan seperti mengapa perbuatan keji dan aksi-aksi teror ini muncul dan meluas tidak mengenai batas negara, ras, dan etnik? Apa yang menyebabkan seseorang berani berbuat keji? Apa tujuan mereka melakukan aksi teror tersebut? Mengapa aksi-aksi yang bersifat tidak manusiawi ini terus saja muncul dan bahkan kian meningkat?
———–

Terorisme sebagai sebuah ideologi yang dimiliki individu atau kelompok yang menghalalkan melakukan kekerasan, ancaman, dan bahkan pembunuhan pada warga sipil sebagai upaya untuk menggapai tujuan yang diinginkan (Horgan, 2005; Post, 2007) merupakan suatu fenomena yang tidak muncul dari ruang kosong dan tanpa proses. Kemunculan terorisme ini dapat dipastikan berbeda dengan pelaku-pelaku kriminal biasa seperti perampokan, penculikan, atau pembunuhan. Kriminal biasa cenderung melakukan aksi tindakan kekerasan dan atau pembunuan bukanlah dilakukan untuk mencapai suatu pencapaian politik tertentu tetapi untuk kepuasan pribadi tanpa ada upaya merubah kondisi sosial suatu masyarakat atau negara.

Ervin Staub, psikolog yang telah memberikan dedikasinya selama lebih dari 20 tahun untuk mengungkapkan dasar-dasar orang berbuat sesuatu yang tidak manusiawi seperti genosida, pembunuhan massal, dan terorisme menjelaskan bahwa hal yang paling dasar mengenai kemunculan tindakan tidak manusiawi dikarenakan adanya masalah kondisi hidup yang sangat sulit (Staub, 1999, 2003). Masalah ini bisa saja berupa masalah ekonomi, politik, konflik, perubahan yang cepat, dan hal-hal yang menyebabkan orang menjadi begitu tertekan dan frustasi dalam menangani hal tersebut.

Menurut Staub (1999), kondisi hidup yang diliputi masalah tersebut membuat individu menjadi merasa helpless yang kemudian membuat mereka akhirnya lari ke dalam kelompok dan membentuk rasa kebersamaan serta kohesivitas sebagai orang yang sama-sama memiliki penderitaan lalu berupaya menyelesaikan masalah hidup tersebut secara bersama. Di tengah kelompok mereka akan merasa lebih kuat dan berani untuk bersama-sama menyelesaikan suatu masalah yang pelik.

Masalah hidup yang muncul ini adalah pemicu atau sebab yang sangat dasar sekali di mana sebagian besar orang yang mengalaminya tidak berujung memiliki dan menyetujui paham terorisme (lihat Moghaddam, 2006). Orang yang menjadi rentan dan masuk ke dalam kelompok teroris adalah mereka yang memiliki anggapan bahwa masalah sosial ini merupakan kesalahan dari sistem atau kelompok lain, dan mereka memiliki solusi terhadap permasahan hidup tersebut.

Mengenai dasar-dasar masalah hidup yang akan memicu munculnya terorisme, karakteristik masalah teserbut tidaklah khas misalnya hanya unik muncul pada kelompok teroris Islam saja tetapi masalah sosial ini dapat muncul pada semua kelompok teroris. Masalah sosial atau masalah hidup ini merupakan masalah dasar yang dianggap sebagai suatu masalah yang perlu diselesaikan dengan segera.

Terorisme dianggap diterima dan dijadikan sebagai salah satu strategi, ketika cara lain dianggap tidak efektif dan tidak bisa menyelesaikan masalah. Seorang Komunis, akan mencari dasar penyelesaian masalah sosial tersebut melalui pola pikir dan dasar-dasar komunis. Sebaliknya seorang religius akan berupaya mencari penyelasaian masalah dengan berdasarkan penjelasan-penjelasan yang tidak keluar dari koridor agama. Sebagai contoh misalnya Ali Imron, salah satu otak pengeboman bom Bali 1 tahun 2002, Dia di dalam bukunya “Ali Imron Sang Pengebom” (2007) menjelaskan bahwa kondisi yang kacau di Indonesia seperti kejahatan, pelacuran, dan kemiskinan adalah salah-satu alasan baginya untuk melakukan aksi pengeboman.

Alasan lain yang juga ditemui dari pelaku-pelaku teror di Indonesia menjelaskan bahwa kekerasan atau konflik yang terjadi di Ambon dan Poso, di mana mereka memandang banyaknya umat Muslim yang menjadi korban juga ikut mendorong terjadinya aksi-aksi pengeboman dan teror lainnya seperti pembunuhan. Penjelasan ini tidaklah berarti mengemukakan penggambaran bahwa dasar sebab dan proses munculnya terorisme itu sama.
Setiap kelompok teroris memiliki keunikan, kekhasannya, dan sisi histroris tersendiri kenapa mereka itu dapat muncul.

Pada dasarnya, terrosime itu sangatlah bersifat kontekstual. Di Indonesia sendiri, ada hal-hal umum yang dimiliki oleh sebagian besar permasalahan yang menyebabkan munculnya teroris di seluruh dunia tetapi juga ada hal-hal kusus atau partikular yang hanya terjadi pada konteks sosial Indonesia. Khususnya kepada kelompok teroris yang membawa bendera agama, selain konteks, apa yang terjadi pada rekan penganut seagamanya di negara lain seperti misal kekerasan di Timur Tengah juga dapat memicu terjadinya aksi teror di Indonesia.

Referensi

Bar-Tal, D., & Teichman, Y. (2005). Stereotypes and prejudice in conflict: Representations of Arabs in Israeli Jewish society. UK: Cambridge University Press.

Horgan, J. (2005). The psychology of terrorism. London and New York: Routledge.

Imron, A. (2007). Ali Imron Sang Pengebom. Jakarta: Penerbit Republika.

Moghaddam, F. M. (2006). From the terrorist’ point of view: What they experience and why they come to destroy. London: Praeger International Security.

Post, J. M. (2007). The Mind of Terrorism: The psychology of terrorism from the IRA to al-qaeda. Palgrave Macmillan.

Staub, E. (1999). The roots of evil: Social conditions, culture, personality, and basic human needs. Personality and Social Psychology Review , 3, 179-94.

Staub, E. (2003). Understanding and responding to group violence: genocide, mass killing, terrorism. In A. J. Marsella, & F. Moghaddam (Eds.), International terrorism and terrorists: Psychosocial perspectives. Washington D.C.: American Psychological Association.

Sutalan, Z. (2007). The causes of terrorism. NATO Advanced Training Course on the Organizational and Psychological Profile of Terrorism. Ankara: IOS Press.

Choice Theory Ditinjau dari Pandangan Budaya (PIC Jurnal, Yonathan Aditya)

Ada banyak aliran dalam psikoterapi/konseling, salah satunya adalah choice theory/reality therapy (CTRT). Choice theory adalah teori psikologi yang dikembangkan oleh William Glasser. Glasser mendifinisikan choice theory sebagai teori psikologi baru untuk kebebasan manusia. Reality therapy di pihak lain adalah psikoterapi/konseling yang dilakukan berdasarkan pada choice theory.

Artikel ini mencoba membahas kesesuaian choice theory dengan budaya Indonesia khususnya dari pandangan Kristen dan bagaimana menyikapinya jika ada ketidak sesuaian. Tentu saja tidak mungkin membahas choice theory secara komprehensif dalam tulisan singkat ini, oleh karena itu tulisan ini hanya akan membahas filosofi dasar dari choice theory.

Choice theory pada dasarnya berusaha menjelaskan cara kerja otak dalam memproses informasi hingga akhirnya berujung dalam tingkah laku dan juga apa yang mendasari tingkah laku manusia.

Choice theory mempunyai dua filosofi dasar yaitu fenomenologis dan eksistensial. Fenomenologis artinya setiap orang mempunyai persepsi yang unik (perceived world) mengenai kejadian yang ada di dunia (real world). Persepsi yang dimiliki masing-masing orang bisa sama atau berbeda dari orang yang lain. Menurut Glasser persepsi ini lebih penting daripada kejadian nyata yang ada di dunia, karena persepsi inilah yang akan mempengaruhi tingkah laku seseorang. Misalnya Amir, Ali, dan Anto baru saja menerima hasil ujian matematika mereka, dan kebetulan mereka semua memperoleh nilai 8. Sekalipun mereka mendapat nilai yang sama respon mereka ternyata berbeda: Amir sangat senang, Ali sedih, sedangkan Anto ketakutan. Tingkah laku mereka berbeda sekalipun mereka mengalami kejadian yang sama (real world) karena persepsi mereka (perceived world) berbeda. Amir sangat senang karena dia tidak pernah mendapat nilai 7 dalam ujian matematika, sehingga nilai 8 adalah pencapaian yang luar biasa. Ali sedih karena nilai matematikanya selalu diatas 9, mendapat nilai 8 adalah kemunduran. Di pihak lain Anto takut karena orang tuanya selalu menghukum dia jika mendapat nilai matematika dibawah 9. Dengan mengetahui persepsi (perceived world) mereka barulah tingkah laku mereka dapat dimengerti dengan lebih baik.

Aspek fenomenologis dari choice theory ini dapat membawa implikasi pada tidak adanya kebenaran mutlak. Setiap orang bisa dan berhak mempunyai persepsi yang berbeda dari orang lain tentang kejadian yang sama. Dengan demikian tidak ada persepsi yang benar dan salah, semuanya menjadi relatif. Bahkan Kathleen Glasser dalam buku yang ditulisnya bersama William Glasser sebelum William Glasser meninggal yang berjudul Take Charge of Your Life berpendapat orang-orang yang religius yaitu mereka yang percaya pada adanya kebenaran mutlak cenderung bermasalah. Glasser dan Glasser berasumsi mereka yang percaya pada adanya kebenaran mutlak akan cenderung memaksakan pendapatnya pada orang lain, sehingga menyalahi aspek fenomenologis ini.

Hal diatas dapat menjadi tantangan bagi orang Indonesia yang merupakan kaum agamis. Kaum agamis percaya pada adanya kebenaran mutlak. Ada beberapa kepercayaan dasar yang dianggap benar dan tidak bisa diganggu gugat. Apakah karena kaum agamis percaya pada kebenaran mutlak maka mereka tidak bisa menggunakan choice theory? Jika karena adanya pertentangan suatu teori harus ditolak, maka hampir semua teori psikologi akan ditolak karena hampir semua teori psikologi mempunyai ketidakcocokkan dengan doktrin agama.

Salah satu prinsip yang perlu diingat untuk mengatasi dilema ini adalah prinsip bahwa semua kebenaran adalah kebenaran Tuhan. Jadi tidak peduli di manapun kebenaran itu ditemukan, maka kebenaran itu adalah kebenaran Tuhan. Begitu juga dalam choice theory, pasti ada kebenaran dalam teori ini karena kalau tidak teori ini sudah ditinggalkan. Dengan demikian ada kebenaran dalam teori ini yang dapat dimanfaatkan. Kembali ke masalah aspek fenomenologis dari teori ini, memang sampai tahap tertentu persepsi itu relatif, tergantung dari pemahaman pribadi yang bersangkutan.

Problem akan timbul jika pandangan ini ditarik ke arah ekstrim, hingga berpendapat tidak adanya kebenaran mutlak. Oleh karena itu prinsip fenomenologis dari choice theory ini tidak akan menjadi masalah buat kaum agamis, jika mereka menyadari relativisme ini tidak mutlak. Ada batasan dari relativisme ini dan kebenaran mutlak itu ada. Selain itu hal lain yang sering dicampur adukkan adalah dugaan bahwa mereka yang memegang kebenaran mutlak (kaum agamis) selalu memaksa orang lain untuk mempunyai paham yang sama. Padahal percaya pada adanya kebenaran mutlak dan memaksakan orang lain untuk menganut paham yang sama adalah dua hal yang berbeda. Bisa saja seseorang mempercayai adanya kebenaran mutlak tapi tetap menghargai orang lain yang mempunyai pandangan yang berbeda. Demikian pula mungkin saja ada orang yang tidak percaya pada adanya kebenaran mutlak, tapi memaksakan orang lain harus mempunyai pandangan yang sama dengan dirinya. Dengan demikian memaksakan pendapat pada orang lain tidak selalu berhubungan dengan kepercayaan pada kebenaran mutlak. Oleh karena itu dugaan bahwa mereka yang mempunyai kebenaran mutlak selalu bermasalah juga tidak benar.

Prinsip kedua dari choice theory adalah Eksistensialisme. Glasser berpendapat setiap orang mempunyai kehendak bebas. Mereka berhak menentukan apa yang akan dilakukannya, selama hal itu tidak menganggu orang lain untuk menjalankan kehendak bebasnya. Dengan kata lain tidak ada seorangpun yang boleh dan bisa merampas kehendak bebas orang lain. Pendapat Glasser ini mirip dengan pendapat Frankl. Frankl berpendapat di kamp konsentrasi Nazi, para tawanan hampir kehilangan segalanya, satu-satunya hal yang tidak dapat dirampas adalah kehendak bebas. Jika para tawanan tidak takut dengan resikonya maka para sipir penjara tidak bisa memaksa mereka melakukan sesuatu yang tawanan itu tidak sukai.

Aspek kedua dari Eksistensialisme ini adalah tanggung jawab. Glasser menekankan karena setiap orang bebas melakukan apa yang dipilihnya maka dia harus bertanggung jawab atas pilihannya itu. Setiap pilihan akan selalu konsekuensinya. Oleh karena setiap orang bebas menentukan pilihannya, maka orang itu harus siap memikul tanggung jawab atas pilihan yang diambilnya.

Prinsip choice theory bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang dilakukannya, juga dapat menjadi persoalan jika dilihat dari konsep dasar beberapa agama mislanya Kristen: seperti sampai sejauh mana manusia bisa memilih dan dimana letak kedaulatan Tuhan. Salah satu konsep kekristenan tentang akibat dari kejatuhan manusia dalam dosa adalah pilihan manusia selalu cenderung kearah yang negatip. Untuk menyelesaikan pertentangan ini dapat dipakai cara seperti penyelesaian pertentangan kekristenan dengan prinsip pertama choice theory diatas.

Sampai tahap tertentu manusia memang memiliki kehendak bebas, mereka misalnya bisa memilih mau menonton bioskop atau belajar, berselingkuh atau tetap setia kepada pasangannya. Masalah akan muncul jika prinsip ini diekstrimkan dan menganggap seolah-olah manusia adalah Tuhan bagi dirinya sendiri dan tidak mengakui keterbatasannya. Oleh karena itu penganut Kristen dan agama lain yang mempercayai adanya kedaulatan Tuhan perlu menyadari adanya keterbatasan dalam kehendak bebas manusia jika mereka menerapkan choice theory. Manusia sesungguhnya tidak benar-benar bebas memilih, kebebasan mereka dibatasi oleh kedaulatan Tuhan dan juga oleh natur manusia yang berdosa.

Melalui penjelasan singkat di atas, diharapkan kita bisa menyadari adanya beberapa hal yang perlu disesuaikan jika kita akan menerapkan choice theory dengan benar dan sekaligus konsekuen dengan kepercayaan yang kita anut.

Daftar Pustaka:
Glasser, W (1998). Choice theory: A New psychology of personal freedom. New York: Harper Perennial.
Glasser, W (2000). Counseling with choice theory. New York: Harper Collins.
Glasser, W (2011). Take charge of your life: How to get what you need with choice theory psychology. Bloomington: iUniverse.
Jones & Bultman (2011). Modern psychotherapies: A comprehensive Christian appraisal. Downers Grove: Intervarsity Press.
Wubbolding (2000). Reality Therapy for the 21st Century. Philadelphia: Brunner-Routledge.