KULIAH UMUM PSIKOLOGI SOSIAL UNIVERSITAS BUNDA MULIA – JAKARTA (by PIC event KPIN, Clara Moningka)

Kerjasama dengan Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara sangat memberikan dampak positif bagi paras anggotanya. Pekan lalu, 13 Februari 2015, Program Studi Psikologi Universitas Bunda Mulia, mengundang Saudara Eko Meinarno untuk sharing mengenai peran budaya dalam psikologi. Acara ini disekenggarakan berkat kerjasama Prodi Psikologi UBM dengan KPIN. Saudara Eko menyampaikan betapa budaya sangat mempengaruhi cara pandang manusia dan masyarakat, sehingga perlu kepekaan bagi para akademisi psikologi dan praktisi psikologi pada unsur budaya dalam mengkaji sesuatu. Kita seringkali menggunakan teori barat sebagai kiblat, dan hal itu tidak salah… hanya saja sering kali kita menggeneralisasikan teori tersebu tanpa meninjau kembali keadaan individu ataupun masyarakatnya.

Sebagai dosen Psikologi sosial dan akademisi yang tertarik pada kajian psikologi sosial saya juga kerap mempergunakan handbook dari barat. Namun saya juga membandingkan dengan struktur masyarakat kita, termasuk budaya. Hal inilah yang terkadang dilupakan oleh banyak akademisi dan praktisi.

Semoga kegiatan Konsorsium ini akan terus bertambah dan memberikan angin segar bagi Psikologi di Indonesia. Tingkatkan kerjasama diantara kita!DSC_1854

Advertisements

Blessing in disguise by Clara Moningka

Beberapa kejadian dalam hidup kita kadang begitu mengesalkan. Sebut saja beberapa  seperti proses mutasi di pekerjaan yang pada awalnya kurang menyenangkan, laptop dicuri orang, teman yang mengecewakan, lalu menang 2 undian dalam bulan yang sama namun dibatalkan karena dipanggil berkali-kali tidak muncul juga.. (padahal sedang duduk dekat sekali, atau sebenarnya sedang ke kamar kecil). Semua permasalahan kita, di kantor; berhubungan dengan pekerjaan, masalah di rumah, di lingkungan sosial terkadang membuat kita berpikir..”kok sial amat yah” atau “aduh kenapa yah menimpa diri saya”. Kalimat itu kerap kita lontarkan juga saat curhat. Benar.. disaat kita sedang mengalami hal yang tidak menyenangkan jelas kita akan mengeluh dulu… sepertinya jarang deh ada yang langsung bersyukur atau berterima kasih diberi cobaan… awalnya pasti marah, menangis, denial; menyangkal… pokoknya grieving ala Kubler- Ross, sampai pada akhirnya bisa menerima (entah dengan lapang dada atau ngedumel — alias belum lapang dada namun depan semua orang mengatakan sudah). Belum lama ini teman saya juga curhat… temannya sendiri “menusuk” dari belakang, dan saat itu yang ia rasakan adalah murka… emosi yang muncul adalah marah, sedih… sampai saya sendiri jatuh simpati bukan empati lagi…. Jadi kesal dan sampai mau nangis juga. Sepertinya kejadian buruk tidak ada hentinya, dan kejadian yang baik hanya intermezzo saja…

Ketika kejadian buruk menimpa kita cukup sering kita curhat, berkeluh kesah pada teman baik ataupun orang yang kita percaya… satu hal yang kemudian menjadi inspirasi saya untuk membuat tulisan ini adalah sesi curhat saya dengan teman, rekan, juga guru saya.. Dr.  Nilam Widyarini, mama saya, suami saya, anak saya dan juga teman baik saya… mereka adalah tempat curhat ter-andal dan ternyata memberikan pelajaran hidup untuk saya… Saya banyak belajar dari mereka bahwa segalah hal yang buruk yang terjadi pada diri kita merupakan ujian yang membuat kita menjadi semakin tangguh. Ibu Nilam pernah mengumpamakan hidup seperti berselancar. Bagi peselancar, ombak yang besar merupakan sahabat bagi peselancar dan membawa kenikmatan dalam berselancar. Ombak berbahaya dan begitu menakutkan, namun tanpa ombak mana bisa berselancar. Secara praktik, hidup memang tidak semudah bermain selancar, namun analogi ombak yang merupakan musuh namun bila dipergunakan dengan baik akan menjadi sangat menguntungkan patut dipertimbangkan.

Mama saya juga kerap mengatakan bahwa hidup mesti berombak, mesti banyak angin ribut, kalau tidak tidak menjadi pintar (aihh…kalau bisa memilih saya mau yang tenang-tenang saja..hihi), namun setelah angin ribut atau badai.. pasti selalu ada pelangi lagi… yang penting berbuat baik dan hidup lurus, pasti ada jalan (amin). Lain lagi suami saya, sebagai guru yang selalu sabar dan nggak pernah rewel. Makan saja tidak merepotkan, apapun jadi.. Nasi dingin, panas tidak masalah… yang penting ada makanan hari ini… Kalau anak saya yang berusia hampir 5 tahun berbeda lagi… selalu membantu orang lain dan apa;apa selalu bilang ” apa yang bisa dibantu, saya bantu apa, minta tolong dong sama saya”.

Semua yang mereka berikan pada saya dalam bentuk nasihat, cerita, perilaku adalah bentuk rasa syukur;gratitude. Gratitude sendiri berasal dari bahasa Latin: gratia. Kata tersebut mengandung arti memberdayakan diri (untuk orang lain), memberikan sesuatu yang berharga pada orang lain dan menghargai setiap kejadian dalam hidup kita. Sepertinya perilaku ini sangat naif… masa sih peristiwa buruk, perbuatan yang bikin kita repot, malah kita harus bersyukur. That’s the point… It is hard to understand… Tetapi ketika kita melakukannya ternyata menyenangkan loh… kita lupa bahwa dalam keadaan tidak menyenangkan kadang ada sesuatu yang bisa diambil hikmahnya; malah menggembirakan… yang sulit adalah meluangkan waktu untuk merefleksikannya… Misalnya kehilangan barang… apa untungnya, apa yang harus disyukuri… ketika laptop saya hilang yang ada mengkal; gondok. Bersyukur dari mana… tapi di balik kehilangan tersebut saya punya laptop baru lho… lebih bagus dan ringan… saya jadi rajin cari-cari jurnal lantaran semua jurnal saya hilang…. (jadi membaca..jadi ada ide untuk bikin proposal desertasi), dan yang paling utama adalah jadi hati-hati dan tidak ceroboh. Dari kejadian itu saya jadi belajar tidak menyalahkan orang lain bahwa orang lain jahat dan bla..bla..bla.. namun bertanggung jawab atas perbuatan saya juga. Rela?? Belum sih..belajar..iya… banyak hal…dan lebih menyadari bahwa materi sifatnya bisa saja sementara… Hadiah undian hilang begitu saja pernah terjadi pada saya… kesal? sempat kok… hadiahnya lumayan… tapi ketika yang menggantikan saya (karena nama saya dibatalkan) ternyata memeluk hadiah tersebut dengan gembira dan sampai-sampai merasa barang itu berharga membuat saya tertegun juga. Butuh waktu beberapa saat untuk sadar..saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut..namun orang lain lebih membutuhkan… Toh saya tidak keluar uang untuk menyumbang, barangnya juga hadiah… nothing to lose. malah membuat orang lain jadi happy… anggap saja menyumbang kata suami saya…

Ada baiknya di dunia yang sudah begitu kompleks kita memang menyederhanakan hidup kita… make it simple kata teman saya… yah itu.. selalu ada blessing in disguise; rahmat atau berkah dalam (apa yang kita anggap) kemalangan. Every cloud has a silver lining… Kalau Frankl saja bisa memaknai penderitaannya di kamp konsenkrasi (yang tidak mungkin banget buat saya), kita tidak usah punya misi sebesar dan serumit itu… dicoba saja dari hal yang kecil… saya juga sedang dalam proses mencoba terus dan terus.. let it go, let it go… dan kemudian mengubah hal tidak menyenangkan menjadi rahmat untuk kita… bisakah kita??? (Jawab: dicoba dan pasti bisaaaa)

Mengapa Perlu Modul-Buku?

Eko A. Meinarno
PIC Modul-Buku KPIN 2015-2018

Psikologi di Indonesia masih butuh bahan bacaan/rujukan untuk alat bantu ajar. Harus kita kaui bahwa pengajaran dengan bantuan buku-buku asing hanya berdampak pada masyarakat yang terbatas yakni dosen atau ilmuwan yang fasih berbahasa asing (dalam hal ini bahasa Inggris). Keterbatasan ini semakin dipersempit dengan kemampuan baca bahasa Inggris dari para mahasiswa, jelas ini bukan salah mereka karena bahasa ibu yang mereka lafalkan adalah bahasa Indonesia. Kesenjangan terjadi ketika dosen yang mengajar (dan bisa bahasa Inggris) kemudian mengajar mahasiswa -yang masih membutuhkan peningkatan bahasa Inggris- dengan materi/buku bahasa Inggris. Dapat dibayangkan apa yang terjadi kemudian.

Keadaan ini makin memprihatinkan ketika kita tahu bahwa yang persentase penduduk Indonesia yang menikmati pendidikan di atas SMA hanya berkisar 4-6% dari populasi. Lantas mengapa bahan ajar berbahasa Indonesia terbatas? Jika hanya karena kurangnya penelitian saya kira tidak. Dengan asumsi satu fakultas psikologi menghasilkan setidaknya 100 skripsi, selama empat tahun akan menghasilkan 400 rujukan ilmiah. Jika tiap skripsi merujuk lima jurnal maka akan ada 500 rujukan!!!! Dengan demikian ada 100 riset dalam negeri dengan dukungan 400 riset asing. Apakah ini masih dikatakan kurang rujukan?

Menjawab tantangan itu, K-PIN berupaya mengisi bagian yang kosong ini dengan kegiatan yang bermanfaat bagi para anggota, salah satunya dan memang terpenting adalah bahan ajar. Bagian yang mencoba menjawab tantangan ini adalah bagian modul-buku. Bagian pengembangan modul buku mempunyai empat tugas penting, dengan dua diantaranya yang diutamakan adalah:
1. Mengembangkan kerjasama penulisan modul-buku bersama anggota konsorsium
2. Mengembangkan potensi kerjasama dengan penerbit

Mengapa dimulai dari modul? Modul adalah satuan bahan ajar terkecil yang dibaca oleh individu. Dapat dikatakan modul bahan bacaan mahasiswa selepas ia dari kelas atau pada saat di kelas selain buku rujukan utama. Modul muncul tiap sesi, yang artinya ia adalah bahan ajar yang memang bagian dari pengajaran kita sebagai pengajar. Misalkan kita mengajar lima sesi, ya setidaknya kita membuat lima modul.

Keuntungan modul jelas ada di depan mata. Pertama basisnya adalah GBPP (garis-garis besar pedoman pengajaran) yang kemudian umumnya diterjemahkan menajdi satuan acara pengajaran (SAP). Setiap SAP yang dilakukan per sesi itu umumnya terdapat bahan ajar yang kita sebut ppt. Bahan itulah yang menjadi bahan untuk membuat tiap-tiap modul.
Lantas di mana letak keuntungan membuat modul? Apakah Anda belum melihatnya? Apakah pernah mendengar kata diktat? Sejauh saya mencari-cari di internet terungkap bahwa diktat itu kumpulan modul. Ya, sangat sederhana, hanya kumpulan modul yang rapi dan standar (seusia GBPP) plus sudah disahkan oleh institusi. Mulai terlihat keuntungannya? GBPP sekian kum, kumpulan modul sekian kum, dan selangkah lagi menjadi buku dengan nilai 20 kum!!!! Silakan Anda ambil kalkulator.

Saya menulis bagian ini awalnya untuk menjadi bahan (jika ada) pelatihan menulis modul-buku sesuai impian KPIN. Namun atas desakan ketua (hidup yang mulia!) tulisan ini saya luncurkan. Saya yakin sebelum tulisan ini munculpun, rekan-rekan sudah gatal untuk berkontribusi terhadap KPIN dan nusa bangsa. Tak lupa, membuat modul-buku juga menjadi ajang aktualisasi diri (ingat hirarki kebutuhan Maslow). Mahasiswa tanpa sadar akan memposisikan kita sebagai dosen yang memahami keterbatasan mereka, dan mereka akan jauh menghargai hal itu ketimbang hal lainnya. Dan yang terakhir, menulis modul dengan basis riset Indonesia akan membuat kita menjadi orang-orang pertama/pionir yang meletakkan batu dari jalan ilmu psikologi di Indonesia.

Kita dan Kami

Oleh Ardiningtiyas Pitaloka

Awal Februari 2015 ini saya kembali ‘manggung’ di empat kelas semester IV yang penuh dengan wajah imut nan segar. Kata segar di sini bermakna rupa-rupa, di antaranya karena merupakan angkatan mahasiswa yang baru saya temui alias belum pernah saya ajar sebelumnya. Tantangan pertama yang jelas di depan mata adalah: menghafalkan nama mereka. Pengalaman selama ini, begitu nama hafal, ternyata memasuki masa UAS…

Dalam pertemuan pertama di dua mata kuliah berbeda, ternyata ada satu materi yang tidak lepas dan layak menjadi materi sepanjang semester, jika diperlukan. Materi: kita dan kami.

Ada kecenderungan sangat kuat untuk menyamakan penggunaan kata ‘kita’ dan ‘kami’ sehingga rancu. Kecenderungan ini sebenarnya tidak asing di masyarakat luas, buktinya sampai keluar celetukan ‘Kita? Elu aja kali…’   Celetukan ini secara tidak sadar merupakan protes akan penggunaan kita dan kami yang tidak tepat. Mungkin terkesan sepele dan ringan karena percakapan sehari-hari bukanlah ujian tata bahasa nan rapi, tetapi mengganggu juga.

Saya sendiri sudah sering menemui hal tersebut dalam kelas, baik ketika mahasiswa menjelaskan dalam tanya jawab spontan atau presentasi menggunakan slide. Biasanya saya spontan mengoreksi yang langsung mendapatkan sambutan cekikikan maupun senyum tersipu-sipu. Begitu pun dengan pertemuan pertama di awal semester ini, kata ‘kami’ seolah melebur dalam ‘kita’. Tak tahan, saya pun meminta secara eksplisit agar kelas mengoreksi serta membiasakan menggunakan kita dan kami secara tepat. Hasilnya……, bertebaranlah celetukan ‘kamiiii’ ….dan latar suara tawa cekikikan setiap teman mahasiswa yang melakukan presentasi menyebut kata ‘kita’ alih-allih ‘kami’.

Nuansa kelas pun berasa kelas bahasa, lebih ajaib lagi…..seperti bahasa asing. Mahasiswa yang melakukan presentasi singkat pun mulai terlihat berhati-hati dan berhenti sejenak ketika akan menyebutkan kata kami. Beberapa kali mereka bahkan seperti kehilangan kata-kata yang telah dipersiapkan sebelumnya gara-gara mengoreksi kata ‘kita’ menjadi ‘kami’.  Presentasi berjalan seperti mobil yang melaju di atas jalan penuh bebatuan, sesekali berhenti, berbelok, yang pasti tidak lancar. Saya pun seolah bernostalgia saat belajar bahasa asing, berusaha mengingat kosakata atau tata bahasa yang benar: apakah akan menggunakan have been atau have.

Ternyata bahasa yang kita anggap telah menjadi makanan sehari-hari, tak kalah dengan nasi, masih memerlukan pembiasaan baru. Tanpa permisi, terlintaslah pemahaman tiba-tiba (atau bisa disebut ilham?) di kepala saya, inilah mengapa mata kuliah maupun pelajaran bahasa Indonesia tetap harus ada. Saya pikir seru juga untuk menerapkan secara konsisten di kelas, kalau perlu ya…sepanjang semester.

Antara geli dan berusaha mengapresiasi usaha mereka, saya pun penuh semangat 45 menyiramkan motivasi “Yah…..anggaplah kita semua dari luar negeri yang sedang belajar bahasa Indonesia..”

Bagaimana dengan Anda?

Pendirian Ikatan Psikologi Sosial

Oleh Sarlito Wirawan Sarwono

Ini catatan di agenda saya tentang hari Kamis 11 November 1999,  hari jadinya IPS (Ikatan Psikologi Sosial):

11 November 1999 Kamis

Tiga acara penting:

  • Komisi D (nggak ikut)
  • Gegar QUE (ikut sebentar, nari-nari)
  • Simposium  Etno  psi (sukses, hadir 150 orang, termasuk  dari  luar Jakarta), dilanjutkan dengan pembentukan IPS.
  • 18.30 Kuliah Psikologi Seksual (Ext)

Keterangan:

  • Komisi D adalah salah satu Komisi di Dewan Guru Besar Universitas Indonesia (UI) yang tugasnya adalah menilai pencalonan kenaikan pangkat dosen yang mau dipromosikan untuk menjadi Guru Besar. Saya anggota dari Komisi itu. Hari itu ada sidang Komisi D, tetapi saya absen, karena ada acara-acara penting di fakultas dan saya waktu itu Dekan Fakultas Psikologi.
  • QUE (Quality of Undergraduate Education) adalah program World Bank untuk meningkatkan kualitas pendidikan S1 di Indonesia. Fakultas Psikologi (F.Psi.) UI berhasil memenangkan kompetisi yang sangat berat. Ada 630an peserta PTN dan PTS seluruh Indonesia, dan F.Psi. UI berhasil keluar menjadi salah satu dari 16 pemenang se-Indonesia. UI kebagian beberapa pemenang (saya lupa Prodi-prodi apa di lingkungan UI yang ikut memang), dan hebatnya: F.Psi. UI pada waktu itu merupakan Fakultas Ilmu Sosial (non-exacta) pertama yang memenangkan kompetisi ini. Sebelumnya kompetisi ini hanya dimenangkan oleh Prodi-prodi eksakta. Dana yang disediakan adalah US$ 1.200.000 untuk program 4 tahun (2000-2004, selesai pas masa kedekanan saya berakhir (1997-2004)) yang kami gunakan untuk membangun laboratorium, perpustakaan, mengembangkan kurikulum dan mengirim tenaga dosen belajar ke luar negeri. Hari itu kami mengadakan sosialisasi (memberitahukan) kemenangan ini kepada seluruh warga Civitas Akademika F.Psi. UI, dengan acara hura-hura, joged-joged, dll, karena dalam persiapan untuk membuat borang  proposal yang akhirnya menang ini, hampir semua civitas akademika terlibat, dan makan waktu hampir setahun.
  • Simposium Etno Psikologi saya gelar di Aula F.Psi. UI, sebagai antisipasi perkembangan psikologi yang makin lama makin memperhitungkan faktor kebudayaan. Tampil sebagai pembicara pada waktu itu Prof Dr Subyakto, MPA (alm., GB Antropologi di F.Psi. UI), Prof. Dr. Bernadette Setiadi (kemudian menjadi Rektor Univ. Atmajaya) dan saya sendiri. Berawal dari simposium itu mata kuliah Psikologi Lintas Budaya  di F.Psi. UI menjadi mata kuliah wajib, dan mendorong penelitian-penelitian Psikologi Ulayat (yang menghasilkan disertasi Prof Dr Irmawati, sekarang Dekan Fak Psikologi USU, tentang Psikologi Etnik Batak Toba).
  • Pada penghujung acara simposium Etno Psikologi itulah para hadirin sepakat untuk mendirikan IPS (ikatan Psikologi Sosial), dan memilih (atau menunjuk?) saya sebagai ketuanya, dan sdr Drs Sigit Edi sebagai Wakil Ketua.
  • Saya tutup kegiatan saya hari itu dengan memberi kuliah Psikologi Seksual di Program Ekstensi F.Psi. UI. Pada waktu itu, kuliah itu masih uji coba, tetapi kemudian dikembangkan sebagai mata kuliah pilihan di program reguler juga, walaupun setelah saya tidak jadi dekan lagi, mata kuliah itu dihapuskan sama sekali dari kurikulum (adanya sekarang malah di FPsi Universitas Pancasila)

CUCU: Kesenjangan antara generasi oleh Sarlito Wirawan Sarwono

Salah satu cucu saya bernama Ammar. Umurnya 3 tahun, tetapi dia fasih sekali bermain gagdet. Yang paling disukainya adalah berbagai game tentang mobil. Dia sama sekali belum bisa membaca, tetapi dia tahu persis mana-mana yang harus disentuh dengan jari mungilnya untuk memunculkan merek mobil yang mana yang dia mau dan mau balapan dengan mobil yang merek apa. Bukan itu saja, dia menirukan suara-suarayang didengarnya, mulai dari bunyi tabrakan sampai kalimat-kalimat bahasa Inggris yang diucapkannya begitu saja tanpa dia mengerti artinya, persis seperti burug beo.

Cucu saya yang lain, sepupu Ammar, namanya Khalif. Umurnya 6 tahun, sudah di kelas 1 SD. Dia juga mulai karirnya seperti Ammar. Main gadget, dilanjutkan dengan nonton kartun Spiderman dan Ben 10, menirukan kata-kata bahasa Inggris dari gadget dan film, maka ketika masih di TK B, dia sudah fasih melahalkan Martin Luther King “Ihave a dream” dalam bahasa Inggris yang bebas dari aksen Tegal seperti kalau Eyang Kakungnya ceramah bahasa Inggris di Kongres Psikologi Internasional.

Di sisi lain, ketika saya seumur kedua cucu saya itu, saya tinggal di Tegal, dengan bahasa Jawa Tegal yang kental. Ketika saya ditest TOEFL untuk dikirim ke Amerika setelah menyelesaikan pendidikan psikolog, saya tidak lulus karena berpikirnya pun masih bahasa Jawa Tegal. Maka saya terpaksa les bahasa Inggris dulu di LIA (Lembaga Indonesia Amerika) dan mengulang tes lagi, kali ini untuk ke Inggris. Alhamdullilah, saya diterima belajar di Universitas Edinburgh, Skotlandia, dan di sanalah saya baru belajar bahasa Inggris betulan, sampai bisa berdiskusi dan menulis makalah dan makalah saya dimuat dalam jurnal internasional untuk yang pertama kali. Itu terjadi di awal tahun 1970an. Tetapi karena saya sudah terlanjur beraksen Tegal, maka logat Tegal itu tidak bisa lepas dari bahasa apapun yang saya ucapkan.

Dalam hal teknologi informasi, sampai jadi mahasiswa tahun kedua, saya hanya tahu radio. TVRI (hitam putih) baru ada ketika saya sudah kuliah di tingkat dua itu. TV berwarna baru saya kenal ketika saya sudah punya dua anak, komputer baru saya tahu ketika saya belajar lagi di Belanda untuk S3 saya (akhir 1970an), dan sejak 1980an saya mulai menggunakan radio panggil atau biasa disebut Starko (salah satu merek provider radio panggil ketika itu), dan kemudian dengan cepat saya menggunakan internet, HP (handphone), email, twitter, blog, Facebook dan tentu saja HP saya berganti menjadi smart phone yang bisa untuk BBM, WA, selfie, bahkan untuk mencari jalan non-macet di Jakarta dengan menggunakan fasilitas GPS Googlemap atau Waze.

Pokoknya dibandingkan dengan pprofesor lain seusia saya, saya tergolong paling canggih dalam ilmu per-gadget-an. Tetapi dibandingkan dengan cucu-cucu saya, saya tetap kalah jauh. Baik dalam soal bahasa, maupun dalam soal per-gadget-an. Ibaratnya cucu-cucu saya ini adalah native speakers dalam dunia bahasa Inggris dan per-gadget-an, karena sejak lahir sudah terpapar dengan semua hal yang generasi saya baru mempelajarinya setelah jauh masuk ke usia dewasa.

***

Kesenjangan antara saya dan cucu saya memang sering dijadikan bahan lucu-lucuan kalau seluruh keluarga sedang ngumpul, tetapi kesenjangan tersebut sebetunya mencerminkan perbedaan antar generasi yang di dunia sudah menimbulkan banyak problem yang serius.

Dalam ilmu Kependudukan, generasi saya yang lahirdi sekitar tahun 1940-1960-an disebut generasi Baby Boomers (BB), anak-anak saya yang lahir antara 1960-1980-an disebut Generasi X (Gen-X) dan generasi yang lahir setelah tahun 1980 biasa disebut Generasi Y (Gen-Y). Ketiga generasi itu mempunyai cara pikir, perilaku dan gaya hidup serta artefak (benda-benda yang digunakan sehari-hari) yang sangat berbeda, terutama di masyarakat golongan menengah-atasyang rata-rata juga berpendidikan menengah-atas. Dengan perkataan lain, secara antropologis ketiga generasi itu hidup dalam budaya yang berbeda.Artinyaketiga generasi itu sebenarnya mengalami kesenjangan budaya, walaupun mereka boleh jadi tinggal dalam satu rumah.

Itulah sebabnya hampir setiap ABG (Anak Baru Gede) berkonflik dengan orangtuanya. Di perusahaan-perusahaan, para Direktur dari generasi BB yang biasa dengan keteraturan dan disiplin, loyalitas serta kemapanan, tidak bisa mengikuti jalan pikiran para manager dari Gen-X yang serba mau cepat, serba terobosan dan cepat pindah kerja kalau ada job yang lebih baik. Gen-X lebih loyal pada dirinya sendiri bukan pada tempatnya dia bekerja.

Tetapi Gen-Y lebih dahsyat lagi. Dunia mereka sudah masuk ke dunia virtual (maya), bukan dunia nyata, apalagi lokal (keluarga, tetangga, teman sekolah dll). Seorang Gen-Y bisa duduk sama pacarnya di kafe, sambil masing-masing ngobrol melalui gadget masing-masing dengan teman masing-masing yang berada di tempat lain, boleh jadi si teman maya itu ada di negara lain, ribuan mil dari kafe tempat mereka pacaran. Karena itu Gen-Y disebut juga generasi Milenial atau generasi Internet atau bahkan Generasi Autis.

Karena dunia mereka adalah dunia global, dan pengaruh media sosial lebih kuat dari pada media massa, maka berbagai ide dan ideologi masuk ke kepala mereka. Kalau globalisasi Gen-X masih terbatas pada budaya pop Amerika, termasuk McD dan KFC, globalisasai Gen-Y sudah mengadopsi K-pop (Korea), komik Manga (Jepang), bahkan radikalisme agama dari Timur Tengah. Akibatnya nilai-nilai Pancasila yang yang dimaksud sebagai niai-nilai pemersatu bangsa Indonesia oleh para pendiri bangsa (generasi pra-BB), sekarang ini menghadapi tantangan yang sangat berat, karena harus berhadapan dengan nilai-nilai global dari Gen-Y yang sangat mungkin bisa mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa dan negara kita.

MANUSIA MODERN

Sarlito Wirawan Sarwono

Kabinet Jokowi berjudul “Kabinet Kerja”, semboyannyapun “Kerja, kerja, kerja!”. Bagus! Sejauh ini pun masyarakat sudah melihat kehadiran pemerintah dalam menyelesaikan berbagai masalah seperti pemulangan TKI dengan pesawat Hercules TNI AU, penenggelaman kapal-kapal ikan liar oleh TNI AL, pembangunan pemukiman baru untuk pengungsi Gunung Sinabung dan masih banyak yang lain.

Tetapi membangun bangsa tidak cukup hanya oleh pemerintah. Rakyat harus terlibat, bahkan rakyatlah sokoguru utama dari pembangunan. Tugas pemerintah adalah menciptakan suasana yang kondusif untuk rakyat bekerja optimal guna membangun negara di sektornya masing-masing. Tetapi rakyat tidak cukup hanya disuruh “Kerja, kerja dan kerja!” saja. Banyak rakyat yang seumur hidupnya bekerja membanting tulang, setiap hari, sejak remaja sampai tua-renta, tetapi kehidupannya tidak beranjak dari “di bawah garis kemiskinan”.

***

Pada tahun 1970-an, seorang sosiolog dari Universitas Harvard, AS, bernama Alex Inkeles, mengamati bahwa banyak negara berkembang yang tidak berkembang, alias macet-cet, seperti jalan Ciawi-Puncak di masa liburan dan lebaran. Inkeles kemudian meneliti lima negara berkembang dan satu negara maju (Argentina, Chili, India, Bangladesh, Nigeria dan Israel) dan menyebarkan angket ke berbagai lapisan dari atas sampai paling bawah dan dari berbagai pekerjaan. Maka ia menemukan bahwa negara-negara yang macet justru yang punya SDA (Sumber Data Alam) yang melimpah, tetapi SDM (Sumber Daya Manusia) mereka tidak mempunyai “Mentalitas Modern” (pastinya Indonesia juga seperti itu).

Adapun mentalitas Modern, menurut Inkeles ditandai oleh sembilan ciri, yaitu: (1) menerima hal-hal yang baru dan terbuka untuk perubahan (2) bisa menyatakan pendapat atau opini mengenai diri sendiri dan lingkungan sendiri atau hal di luar lingkungan sendiri serta dapat bersikap demokratis, (3) menghargai waktu dan lebih banyak berorientasi ke masa depan daripada masa lalu (4) punya rencana dan pengorganisasian, (5) percaya diri, (6) punya perhitungan, (7) menghargai harkat hidup manusia lain, (8) lebih percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (9) menjunjung tinggi keadilan, yaitu bahwa imbalan  haruslah sesuai dengan prestasi.

Sekarang marilah kita lihat bagaimana ciri-ciri mental orang Indonesia. Mochtar Lubis (budayawan Indonesia, pemenang penghargaan Ramon Magsasay), dalam pidato budayanya di Taman Islail Marzuki, tahun 1977 menceritakan 10 sifat yang melekat pada manusia Indonesia, yaitu (1) munafik atau hipokrit, (2) enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, (3) sikap dan perilaku yang feodal, (4) masih percaya pada takhayul, (5) artistik, (6)  lemah dalam watak dan karakter, (7) malas, bekerja hanya kalau terpaksa, (8) suka menggerutu, (9) pencemburu, pendengki, dan (10) sok.

Tentu saja tidak semua manusia Indonesia seperti yang digambarkan oleh Muchtar Lubis. Karena itu saya termasuk salah satu pengritik beliau, ketika pidato budaya itu diterbitkan sebagai buku (“Manusia Indonesia”). Tetapi setelah sekian puluh tahun berlalu, saya pikir-pikir betul juga kata Muchtar Lubis, dan masih berlaku sampai hari ini. Tentu bukan untuk semua orang Indonesia, tetapi jelas untuk sebagian besar orang Indonesia. Orang Indonesia masih memberlakukan “jam karet”, Caleg dan Calon Kepala Daerah minta dukungan dukun atau mandi di bawah air terjun keramat, koruptor yang ditangkap KPK malah senyum-senyum dan memakai baju koko atau berjilbab di pengadilan seakan-akan dia paling siap masuk surga, pejabat tingkat atas mewajibkan setoran dari pejabat-pejabat tingkat bawahnya, lebih percaya kepada “yang di atas” (baca: nasib) dari pada perencanaan dan ilmu pengetahuan, merasa dirinya (baca: agama, etnik atau golongannya) sendiri yang benar dst. Hanya sifat artistik orang Indonesia yang positif, yang sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Sisanya merugikan semua untuk pembangunan bangsa.

Menyadari kenyataan bahwa mentalitas orang Indonesia masih jauh dari modern, dalam rangka “Revolusi Mental”, Presiden Jokowi meminta sebuah tim yang dipimpin oleh Prof. Dr. Paulus Wirutomo, sosiolog dari UI, untuk merumuskan ciri-ciri mental yang paling diperlukan oleh orang Indonesia untuk menjadikannya modern dan mampu bersaing.

Maka tim itu pun mengundang berbagai golongan masyarakat, dari pengusaha sampai rohaniwan, dari mahasiswa sampai cendekiawan, untuk dilibatkan dalam berbagai FGD (Focus Group Discussion) sesuai dengan bidangnya masing-masing, dengan tujuan untuk menjaring dan menyaring nilai-nilai yang paling diperlukan, yang kongrit dan yang operasional untuk membangun bangsa ini. Hasilnya adalah enam nilai Modern versi Indonesia, yaitu (1) Citizenship (sebagai warga negara sadar akan hak dan kewajibannya dan aktif berpartisipasi untuk masyrakat), (2) Jujur (dapat dipercaya), (3) Mandiri (dapat menyelesaikan persoalan sendiri, tidak hanya bergantung kepada pemerinah atau pihak lain), (4) Kreatif (mampu berpikir alternatif, mampu menemukan terobosan, berpikiran flexibel),  (5) Gotong Royong, dan (6) Saling Menghargai (yang kuat menghargai yang lemah, yang mayoritas menghargai yang minoritas, yang laki-laki menghargai yang perempuan, yang generasi senior menghargai yang muda dan seterusnya, dan tentu saja sebaliknya).

***

Secara teoretis, di atas kertas, keenam nilai modern untuk bangsa Indonesia sudah pas dengan kebutuhan Indonesia sekarang. Sudah sesuai dengan ciri-ciri manusia Modern versi Alex Inkels dan sangat kompatibel (saling melengkapi) dengan Pancasila. Masalahnya, bagaimana mengoperasionalkan nilai-nilai itu sampai ke tingkat lapangan? Alex Inkeles sendiri mengusulkan proses pendidikan, tetapi pendidikan terlalu lama untuk bangsa ini, sementara kebutuhan di Indonesia sudah sangat mendesak. Perintah Presiden untuk menalangi dana ganti rugi kepda korban Lapindo, belum-belum sudah dibom dengan formalitas (sumber dana dari mana dsb), apalagi di tingkat lapangan, pasti banyak permainan dari Ketua RT/RW, lurah, camat, bahkan mungkin sampai bupati, sehingga dana jatuh ke tangan yang tidak berhak. Ala maaak…..