Workshop: Brief Psychoanalytic Psychotherapy, Fakultas Psikologi, Universitas YARSI, Jakarta

Workshop Brief Psychoanalytic Therapy_YARSI

Advertisements

KULIAH UMUM PSIKOLOGI SOSIAL UNIVERSITAS BUNDA MULIA – JAKARTA (by PIC event KPIN, Clara Moningka)

Kerjasama dengan Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara sangat memberikan dampak positif bagi paras anggotanya. Pekan lalu, 13 Februari 2015, Program Studi Psikologi Universitas Bunda Mulia, mengundang Saudara Eko Meinarno untuk sharing mengenai peran budaya dalam psikologi. Acara ini disekenggarakan berkat kerjasama Prodi Psikologi UBM dengan KPIN. Saudara Eko menyampaikan betapa budaya sangat mempengaruhi cara pandang manusia dan masyarakat, sehingga perlu kepekaan bagi para akademisi psikologi dan praktisi psikologi pada unsur budaya dalam mengkaji sesuatu. Kita seringkali menggunakan teori barat sebagai kiblat, dan hal itu tidak salah… hanya saja sering kali kita menggeneralisasikan teori tersebu tanpa meninjau kembali keadaan individu ataupun masyarakatnya.

Sebagai dosen Psikologi sosial dan akademisi yang tertarik pada kajian psikologi sosial saya juga kerap mempergunakan handbook dari barat. Namun saya juga membandingkan dengan struktur masyarakat kita, termasuk budaya. Hal inilah yang terkadang dilupakan oleh banyak akademisi dan praktisi.

Semoga kegiatan Konsorsium ini akan terus bertambah dan memberikan angin segar bagi Psikologi di Indonesia. Tingkatkan kerjasama diantara kita!DSC_1854

SIMPOSIUM NASIONAL: Pendekatan Biopsikososial dan Spiritual di dalam Psikologi Kesehatan untuk Meningkatkan Well-Being dalam Kondisi Sehat Maupun Sakit

-PELAKSANAAN-
6 April 2015, pk.08.00-16.00wib
Ruang Theater GAP Lantai 8
Universitas Kristen Maranatha

-Topik Yang Akan Dibahas-
* Faktor Biopsikososial & Spiriual dalam kaitannya dengan kesehatan & penyakit kronis.
* Kaitan antara WELL-BEING dengan persepsi diri terhadap kondisi kesehatan, panjang umur, perilaku hidup sehat, penyakit fisik dan mental, relasi sosial, produktivitas, dan berbagai masalah sosial di lingkungan.
* Indikator di dalam WELL-BEING
* Intervensi di dalam Psikologi Kesehatan
* Pengukuran-pengukuran di dalam Psikologi Kesehatan.

-PEMBICARA-
* Dr. Gerard Naring
* Prof. Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, Psik
* Aulia Iskandarsyah, M.Psi., M.Sc., Ph.D
* Dr. Henndy Ginting, Psikolog
* Dr. O. Irene Prameswari Edwina, M.Si., Psikolog – Psikoterapis

-Call for Papers and Proposals-
Peserta dapat mempresentasikan proposal penelitian yang berkaitan dengan tema simposium dan topik-topik yang disebutkan diatas, juga akan dibahas oleh salah satu dari pembicara dan juga peserta simposium. Presentasi tersebut dapat ditulis dalam format artikel penelitian empiris untuk hasil penelitian / makalah literature review untuk proposal penelitian (lihat APA Publication Manual 6th Edition).

Artikel yang sudah direvisi akan diterbitkan ke dalam JURNAL HUMANITAS (terbitan FP-UKM) atau INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PSYCHOLOGY (terbitan ikatan psikologi klinis indonesia). Abstrak hasil atau proposal penelitian ditulis dalam B.Indonesia (tidak lebih dari 350 kata) atau B.Inggris (tidak lebih dari 250 kata), termasuk Judul, Tujuan Penelitian, Metode dan Kesimpulan.

Abstrak dikirim PALING LAMBAT Tgl 15 Maret 2015 melalui E-mail trainingupp@maranatha.edu

Setelah mendapatkan konfirmasi bahwa abstrak diterima, peserta dapat langsung menulis artikel (full paper) yang dimaksud diatas. FULL PAPER di tulis dalam B.Indonesia atau B.Inggris dengan kapasitas 5000-7000 kata dan sudah dikirimkan PALING LAMBAT Tgl 4 April 2015.

-INVESTMENT-
* Mahasiswa UKM S1&S2 : 50.000
* Mahasiswa Umum S1 : 75.000
* Mahasiswa Umum S2 : 100.000
* Dosen & Peneliti : 150.000
* Praktisi : 200.000

-Facilities-
Seminar kit, Certificate, Lunch and Coffee Break.

CP :
Tessa 085294555699
Melissa 085722145445

CUCU: Kesenjangan antara generasi oleh Sarlito Wirawan Sarwono

Salah satu cucu saya bernama Ammar. Umurnya 3 tahun, tetapi dia fasih sekali bermain gagdet. Yang paling disukainya adalah berbagai game tentang mobil. Dia sama sekali belum bisa membaca, tetapi dia tahu persis mana-mana yang harus disentuh dengan jari mungilnya untuk memunculkan merek mobil yang mana yang dia mau dan mau balapan dengan mobil yang merek apa. Bukan itu saja, dia menirukan suara-suarayang didengarnya, mulai dari bunyi tabrakan sampai kalimat-kalimat bahasa Inggris yang diucapkannya begitu saja tanpa dia mengerti artinya, persis seperti burug beo.

Cucu saya yang lain, sepupu Ammar, namanya Khalif. Umurnya 6 tahun, sudah di kelas 1 SD. Dia juga mulai karirnya seperti Ammar. Main gadget, dilanjutkan dengan nonton kartun Spiderman dan Ben 10, menirukan kata-kata bahasa Inggris dari gadget dan film, maka ketika masih di TK B, dia sudah fasih melahalkan Martin Luther King “Ihave a dream” dalam bahasa Inggris yang bebas dari aksen Tegal seperti kalau Eyang Kakungnya ceramah bahasa Inggris di Kongres Psikologi Internasional.

Di sisi lain, ketika saya seumur kedua cucu saya itu, saya tinggal di Tegal, dengan bahasa Jawa Tegal yang kental. Ketika saya ditest TOEFL untuk dikirim ke Amerika setelah menyelesaikan pendidikan psikolog, saya tidak lulus karena berpikirnya pun masih bahasa Jawa Tegal. Maka saya terpaksa les bahasa Inggris dulu di LIA (Lembaga Indonesia Amerika) dan mengulang tes lagi, kali ini untuk ke Inggris. Alhamdullilah, saya diterima belajar di Universitas Edinburgh, Skotlandia, dan di sanalah saya baru belajar bahasa Inggris betulan, sampai bisa berdiskusi dan menulis makalah dan makalah saya dimuat dalam jurnal internasional untuk yang pertama kali. Itu terjadi di awal tahun 1970an. Tetapi karena saya sudah terlanjur beraksen Tegal, maka logat Tegal itu tidak bisa lepas dari bahasa apapun yang saya ucapkan.

Dalam hal teknologi informasi, sampai jadi mahasiswa tahun kedua, saya hanya tahu radio. TVRI (hitam putih) baru ada ketika saya sudah kuliah di tingkat dua itu. TV berwarna baru saya kenal ketika saya sudah punya dua anak, komputer baru saya tahu ketika saya belajar lagi di Belanda untuk S3 saya (akhir 1970an), dan sejak 1980an saya mulai menggunakan radio panggil atau biasa disebut Starko (salah satu merek provider radio panggil ketika itu), dan kemudian dengan cepat saya menggunakan internet, HP (handphone), email, twitter, blog, Facebook dan tentu saja HP saya berganti menjadi smart phone yang bisa untuk BBM, WA, selfie, bahkan untuk mencari jalan non-macet di Jakarta dengan menggunakan fasilitas GPS Googlemap atau Waze.

Pokoknya dibandingkan dengan pprofesor lain seusia saya, saya tergolong paling canggih dalam ilmu per-gadget-an. Tetapi dibandingkan dengan cucu-cucu saya, saya tetap kalah jauh. Baik dalam soal bahasa, maupun dalam soal per-gadget-an. Ibaratnya cucu-cucu saya ini adalah native speakers dalam dunia bahasa Inggris dan per-gadget-an, karena sejak lahir sudah terpapar dengan semua hal yang generasi saya baru mempelajarinya setelah jauh masuk ke usia dewasa.

***

Kesenjangan antara saya dan cucu saya memang sering dijadikan bahan lucu-lucuan kalau seluruh keluarga sedang ngumpul, tetapi kesenjangan tersebut sebetunya mencerminkan perbedaan antar generasi yang di dunia sudah menimbulkan banyak problem yang serius.

Dalam ilmu Kependudukan, generasi saya yang lahirdi sekitar tahun 1940-1960-an disebut generasi Baby Boomers (BB), anak-anak saya yang lahir antara 1960-1980-an disebut Generasi X (Gen-X) dan generasi yang lahir setelah tahun 1980 biasa disebut Generasi Y (Gen-Y). Ketiga generasi itu mempunyai cara pikir, perilaku dan gaya hidup serta artefak (benda-benda yang digunakan sehari-hari) yang sangat berbeda, terutama di masyarakat golongan menengah-atasyang rata-rata juga berpendidikan menengah-atas. Dengan perkataan lain, secara antropologis ketiga generasi itu hidup dalam budaya yang berbeda.Artinyaketiga generasi itu sebenarnya mengalami kesenjangan budaya, walaupun mereka boleh jadi tinggal dalam satu rumah.

Itulah sebabnya hampir setiap ABG (Anak Baru Gede) berkonflik dengan orangtuanya. Di perusahaan-perusahaan, para Direktur dari generasi BB yang biasa dengan keteraturan dan disiplin, loyalitas serta kemapanan, tidak bisa mengikuti jalan pikiran para manager dari Gen-X yang serba mau cepat, serba terobosan dan cepat pindah kerja kalau ada job yang lebih baik. Gen-X lebih loyal pada dirinya sendiri bukan pada tempatnya dia bekerja.

Tetapi Gen-Y lebih dahsyat lagi. Dunia mereka sudah masuk ke dunia virtual (maya), bukan dunia nyata, apalagi lokal (keluarga, tetangga, teman sekolah dll). Seorang Gen-Y bisa duduk sama pacarnya di kafe, sambil masing-masing ngobrol melalui gadget masing-masing dengan teman masing-masing yang berada di tempat lain, boleh jadi si teman maya itu ada di negara lain, ribuan mil dari kafe tempat mereka pacaran. Karena itu Gen-Y disebut juga generasi Milenial atau generasi Internet atau bahkan Generasi Autis.

Karena dunia mereka adalah dunia global, dan pengaruh media sosial lebih kuat dari pada media massa, maka berbagai ide dan ideologi masuk ke kepala mereka. Kalau globalisasi Gen-X masih terbatas pada budaya pop Amerika, termasuk McD dan KFC, globalisasai Gen-Y sudah mengadopsi K-pop (Korea), komik Manga (Jepang), bahkan radikalisme agama dari Timur Tengah. Akibatnya nilai-nilai Pancasila yang yang dimaksud sebagai niai-nilai pemersatu bangsa Indonesia oleh para pendiri bangsa (generasi pra-BB), sekarang ini menghadapi tantangan yang sangat berat, karena harus berhadapan dengan nilai-nilai global dari Gen-Y yang sangat mungkin bisa mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa dan negara kita.