Membuka Gerbang Kerjasama Melalui Tulisan

Oleh: Ardiningtiyas Pitaloka

Penyelenggaran Simposium Psikologi Ulayat dalam Temilnas IPS di Bali telah berlangsung dua bulan yang lalu. Sebelumnya, seluruh abstrak peserta simposium ditampilkan dalam blog KPIN beserta informasi alamat surat elektronik (surel) penulis/peneliti. Penayangan ini bukan sekedar ajang narsis atau informasi akan adanya simposium, melainkan menjadi satu media komunikasi dengan rekan psikologi, juga non psikologi yang membaca blog KPIN.

Manfaat sebagai media komunikasi ini kebetulan saya dapatkan bulan lalu. Saya mendapatkan surel dari seorang mahasiswa yang sedang menyusun tesis dengan tema makna perasaan malu. Ia mengirimkan surel karena menemukan abstrak penelitian saya yang berjudul Makna Perasaan Malu dan Perasaan Bersalah dalam Masyarakat Papua https://konsorsiumpsikologiilmiahnusantara.wordpress.com/2015/01/09/abstrak-simposium-jp-ulayat-temu-ilmiah-psikologi-sosial-bali-21-23-januari-2015/. Satu peneitian dengan pendekatan kualitatif yang mengungkapkan keunikan di salah satu masyarakat Indonesia. Secara ringkas, saya menemukan adanya makna yang berbeda yakni dengan terwakili kedua perasaan tersebut dalam satu istilah/kata. Pada sisi lain, masyarakat Papua sendiri bukanlah masyarakat homogen, sehingga mungkin sekali jika ada kelompok masyarakat yang memiliki dua kata padanan untuk perasaan malu dan perasaan bersalah.

Saya tidak akan membahas penelitian tesebut dalam artikel ini, melainkan ingin berbagi tentang interaksi kecil sebagai dampak penayangan tulisan/abstrak dalam blog. Pengalaman ini sebenarnya sudah beberapa kali saya dapatkan, salah satunya ketika menulis artikel di website psikologi, maupun website lain yang fokus pada tema pengembangan karier. Ketika pertama kali mendapatkan surel dari orang yang tidak saya kenal dan meminta bantuan untuk berdiskusi tentang tema yang saya tulis karena mirip dengan studi  yang sedang ia lakukan. Ada juga sebuah stasiun radio atau wartawan koran maupun tabloid yang meminta wawancara. Semua pengalaman ini membuat saya semakin menyadari bahwa menulis bukan hanya bersenang-senang melainkan sebuah pertanggungjawaban. Menulis berbeda dengan merumpi, bukan karena membutuhkan daftar pustaka seperti penulisan ilmiah, melainkan juga setiap kalimat yang kita tuliskan haruslah bisa dipertanggungjawabkan.

Kembali pada mahasiswa yang menghubungi saya Maret lalu. Saya sangat terkesan dengan semangatnya. Ia memiliki kekurangan sebagai tuna netra yang terjadi ketika beranjak dewasa dan saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Jakarta. Saya tentu senang bisa sedikit membantu dengan mengirimkan beberapa referensi terkait tema perasaan malu, maupun diskusi lebih lanjut. Hal ini juga menunjukkan bahwa media digital membuka kesempatan sangat luas untuk bersinergi dengan orang di belahan dunia lain. Bukan dunia lain ya…

Kalimat: mari berbagi melalui tulisan, tidak hanya bermakna pasif melainkan juga bermakna untuk siap berbagi dalam interaksi dan kerjasama lebih lanjut. Penayangan tulisan di ruang publik, seperti jurnal, website, blog, majalah, surat kabar atau menulis buku, merupakan langkah awal dalam membuka diri untuk kerjasama dengan orang lain. Kesadaran ini baru saya pahami setelah sekian tahun mengirimkan tulisan ke media massa. Saat masih imut, maksudnya masih di bangku menengah pertama, saya penuh semangat mengirimkan cerita pendek tetapi tidak pernah dimuat. Meski begitu, rasanya super bahagia ketika mendapatkan balasan dari satu majalah, berupa catatan atau feedback mengapa belum bisa dimuat. Saat pertama kali artikel dimuat di majalah Intisari, rasanya seperti melayang ke awan, tapi belum ada pikiran di kepala bahwa penayangan ini berarti saya membuka pintu untuk orang lain mengkritik, yang ada adalah pujian dan tepukan tangan 🙂

“The difference between the right word and the almost right word is the difference between lightning and a lightning bug.” ― Mark Twain, The Wit and Wisdom of Mark Twain

Advertisements