Putus Cinta? Move On!

Aisyah Uswatunnisa*

*Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas YARSI, Jakarta

Jatuh cinta adalah hal yang biasa dialami oleh manusia. Jatuh cinta bisa berujung pada sebuah hubungan. Hubungan itu bisa berlangsung dengan baik dan tidak. Jika tidak berlangsung dengan baik, hubungan itu akan berakhir dan biasanya seseorang akan mengalami putus cinta setelahnya. Ada macam-macam bentuk reaksinya setelah putus cinta. Ada yang biasa saja atau istilah anak zaman sekarang adalah “move on” atau ada yang sampai depresi dan bunuh diri. Dari beberapa berita yang saya baca, tidak sedikit pasangan yang bunuh diri setelah putus cinta (Permana,2014, Oktober 16: Putus Cinta, Remaja di Batam Berusaha Bunuh Diri Menenggak Parfum); (Priyatin, 2015, Mei 01: Remaja Putri di Kendal Ditemukan Gantung Diri); (Santi,2015, Maret 31: Putus Cinta, Pria Ini Coba Bunuh Diri Pakai Petasan); (Kartono, 2015, Januari 30: Putus Cinta, Turis Asal Polandia Gantung Diri di Sorong). Ada yang minum obat-obatan secara berlebihan, menyayat nadi pada pergelangan tangan, dan hingga ada yang menabrakkan dirinya ke kereta api (Afrianti,2014, Desember 17: Putus Cinta, Wanita Muda ini Diduga Tabrakkan Diri ke KRL). Semuanya berniat untuk mengakhiri hidupnya. Hal ini bisa terjadi karena mereka belum bisa menerima berakhirnya hubungan mereka. Mereka belum bisa move on dari hubungannya.

Pengalaman Putus Cinta

Setiap orang berbeda-beda dalam  menyikapi putus cinta. Hal ini dibedakan dari apakah dia yang diakhiri secara sepihak, dia yang mengakhiri atau mereka mengakhiri hubungan secara bersama-sama atau kesepakatan bersama (Aronson, Wilson & Akert, 2004). Mereka yang diakhiri secara sepihak lebih merasakan perasaan yang negatif dibandingkan mereka yang mengakhiri hubungan tersebut.

Mereka yang mengakhiri hubungan secara bersama-sama merasa tidak terlalu merasa kecewa seperti yang diakhiri secara sepihak namun juga tidak berarti mereka tidak merasa apa-apa seperti yang mengakhiri. Dalam studinya, Yildrim (2015) menyatakan bahwa orang yang diakhiri secara sepihak lebih merasa depresi. Hal ini dikarenakan mereka yang diakhiri secara sepihak merasa putus cinta merupakan hal yang tidak mereka inginkan dan itu terjadi sehingga mereka tidak bisa menerimanya. Jika mereka tidak bisa menerima hal tersebut, proses move on pun tidak akan terjadi. Rasa keberhargaan dirinya pun menurun karena merasakan penolakan yang dapat membuatnya semakin depresi (Ayduk dkk., 2001).

Ternyata memiliki hubungan romantis yang baru juga bisa membantu seseorang untuk move on dari hubungannya yang lalu (Knox,dkk, 2000). Hal ini dapat mengurangi distres, memberikan efek positif, mengurangi rasa kesepian dan mengurangi pemikiran tentang hubungan yang lalu. Hal lain yang mempengaruhi orang untuk susah move on adalah tidak tahu alasan mengapa hubungan mereka berakhir. Kondisi ini membuat seseorang merasa kehilangan kontrol dan merasa urusan mereka saat itu belum selesai. Urusan yang mereka rasa belum selesai ini dapat membuat mereka tidak dapat mengutarakan perasaan mereka seperti rasa kesal, benci, marah dan lain-lain. Mereka menjadi susah untuk memilih strategi apa yang baik untuk move on, juga dapat membuat mereka selalu dihantui oleh bayang-bayang masa lalu. Alasan lain yang membantu seseorang dapat move on adalah dukungan sosial. Dukungan sosial dapat mengurangi distres dan depresi serta meningkatkan kemampuan coping seseorang terhadap hal-hal yang negatif.

Move On!

Penyebab mereka yang melakukan hal yang dapat membahayakan dirinya setelah putus cinta adalah karena belum bisa menerima bahwa hubungan mereka telah berakhir. Mereka merasa tidak berharga dan merasakan depresi yang berlarut-larut. Mereka yang tidak dapat menerima hubungannya yang telah berakhir menutup jalan bagi mereka untuk move on. Sebaliknya, mereka yang mencoba menerima bahwa hubungan telah berakhir akan dapat membantu mereka untuk move on. Sebaiknya mereka dapat membuka diri untuk orang baru agar dapat memulai hubungan romantis yang baru. Hal ini dapat mengurangi rasa kesepian yang mereka alami. Bicarakan baik-baik apa alasan berakhirnya suatu hubungan agar dapat membantu pasangan untuk move on.

Dukungan sosial pun juga tidak kalah penting. Dukungan sosial bisa didapat dari teman terdekat ataupun keluarga, sehingga dapat mengurangi beberapa perasaan negatif karena putus cinta. Upaya-upaya ini dapat dilakukan agar terhindar dari hal-hal yang membahayakan diri kita maupun mantan pasangan kita.

Referensi

Aronson, E., Wilson, T. D., & Akert, R. M. (2007). Social Psychology Fourth Edition. New Jersey: Pearson Education

Yildirim, Barutcu F. A. (2015). Breakup Adjustment in Young Adulthood. Journal Of Counseling & Development, 93(1), 38-44.

Afrianti, Desy. (2014, Desember 17). Putus Cinta, Wanita Muda ini Diduga Tabrakkan Diri ke KRL. Kompas. Diunduh dari http://megapolitan.kompas.com/read/2014/12/17/14172031/Putus.Cinta.Wanita.Muda.Ini.Diduga.Tabrakkan.Diri.ke.KRL.

Kartono, Alfian. (2015, Januari 30). Putus Cinta, Turis Asal Polandia Gantung Diri di Sorong. Kompas. Diunduh dari http://regional.kompas.com/read/2015/01/30/19331221/Putus.Cinta.Turis.Asal.Polandia.Gantung.Diri.di.Sorong

Permana, F. A. (2014, Oktober 16). Putus Cinta, Remaja di Batam Berusaha Bunuh Diri Menenggak Parfum. Diunduh dari http://regional.kompas.com/read/2014/10/16/00512891/Putus.Cinta.Remaja.di.Batam.Berusaha.Bunuh.Diri.Menenggak.Parfum

Priyatin, Slamet. (2015, Mei 01). Remaja Putri di Kendal Ditemukan Gantung Diri . Kompas. Diunduh dari http://regional.kompas.com/read/2015/05/01/18084421/Remaja.Putri.di.Kendal.Ditemukan.Gantung.Diri

Santi, Natalia. (2015, Maret 31). Putus Cinta, Pria Ini Coba Bunuh Diri Pakai Petasan. Tempo. Diunduh dari Putus Cinta, Pria Ini Coba Bunuh Diri Pakai Petasan | -dunia- | Tempo.co

Advertisements

Blessing in disguise by Clara Moningka

Beberapa kejadian dalam hidup kita kadang begitu mengesalkan. Sebut saja beberapa  seperti proses mutasi di pekerjaan yang pada awalnya kurang menyenangkan, laptop dicuri orang, teman yang mengecewakan, lalu menang 2 undian dalam bulan yang sama namun dibatalkan karena dipanggil berkali-kali tidak muncul juga.. (padahal sedang duduk dekat sekali, atau sebenarnya sedang ke kamar kecil). Semua permasalahan kita, di kantor; berhubungan dengan pekerjaan, masalah di rumah, di lingkungan sosial terkadang membuat kita berpikir..”kok sial amat yah” atau “aduh kenapa yah menimpa diri saya”. Kalimat itu kerap kita lontarkan juga saat curhat. Benar.. disaat kita sedang mengalami hal yang tidak menyenangkan jelas kita akan mengeluh dulu… sepertinya jarang deh ada yang langsung bersyukur atau berterima kasih diberi cobaan… awalnya pasti marah, menangis, denial; menyangkal… pokoknya grieving ala Kubler- Ross, sampai pada akhirnya bisa menerima (entah dengan lapang dada atau ngedumel — alias belum lapang dada namun depan semua orang mengatakan sudah). Belum lama ini teman saya juga curhat… temannya sendiri “menusuk” dari belakang, dan saat itu yang ia rasakan adalah murka… emosi yang muncul adalah marah, sedih… sampai saya sendiri jatuh simpati bukan empati lagi…. Jadi kesal dan sampai mau nangis juga. Sepertinya kejadian buruk tidak ada hentinya, dan kejadian yang baik hanya intermezzo saja…

Ketika kejadian buruk menimpa kita cukup sering kita curhat, berkeluh kesah pada teman baik ataupun orang yang kita percaya… satu hal yang kemudian menjadi inspirasi saya untuk membuat tulisan ini adalah sesi curhat saya dengan teman, rekan, juga guru saya.. Dr.  Nilam Widyarini, mama saya, suami saya, anak saya dan juga teman baik saya… mereka adalah tempat curhat ter-andal dan ternyata memberikan pelajaran hidup untuk saya… Saya banyak belajar dari mereka bahwa segalah hal yang buruk yang terjadi pada diri kita merupakan ujian yang membuat kita menjadi semakin tangguh. Ibu Nilam pernah mengumpamakan hidup seperti berselancar. Bagi peselancar, ombak yang besar merupakan sahabat bagi peselancar dan membawa kenikmatan dalam berselancar. Ombak berbahaya dan begitu menakutkan, namun tanpa ombak mana bisa berselancar. Secara praktik, hidup memang tidak semudah bermain selancar, namun analogi ombak yang merupakan musuh namun bila dipergunakan dengan baik akan menjadi sangat menguntungkan patut dipertimbangkan.

Mama saya juga kerap mengatakan bahwa hidup mesti berombak, mesti banyak angin ribut, kalau tidak tidak menjadi pintar (aihh…kalau bisa memilih saya mau yang tenang-tenang saja..hihi), namun setelah angin ribut atau badai.. pasti selalu ada pelangi lagi… yang penting berbuat baik dan hidup lurus, pasti ada jalan (amin). Lain lagi suami saya, sebagai guru yang selalu sabar dan nggak pernah rewel. Makan saja tidak merepotkan, apapun jadi.. Nasi dingin, panas tidak masalah… yang penting ada makanan hari ini… Kalau anak saya yang berusia hampir 5 tahun berbeda lagi… selalu membantu orang lain dan apa;apa selalu bilang ” apa yang bisa dibantu, saya bantu apa, minta tolong dong sama saya”.

Semua yang mereka berikan pada saya dalam bentuk nasihat, cerita, perilaku adalah bentuk rasa syukur;gratitude. Gratitude sendiri berasal dari bahasa Latin: gratia. Kata tersebut mengandung arti memberdayakan diri (untuk orang lain), memberikan sesuatu yang berharga pada orang lain dan menghargai setiap kejadian dalam hidup kita. Sepertinya perilaku ini sangat naif… masa sih peristiwa buruk, perbuatan yang bikin kita repot, malah kita harus bersyukur. That’s the point… It is hard to understand… Tetapi ketika kita melakukannya ternyata menyenangkan loh… kita lupa bahwa dalam keadaan tidak menyenangkan kadang ada sesuatu yang bisa diambil hikmahnya; malah menggembirakan… yang sulit adalah meluangkan waktu untuk merefleksikannya… Misalnya kehilangan barang… apa untungnya, apa yang harus disyukuri… ketika laptop saya hilang yang ada mengkal; gondok. Bersyukur dari mana… tapi di balik kehilangan tersebut saya punya laptop baru lho… lebih bagus dan ringan… saya jadi rajin cari-cari jurnal lantaran semua jurnal saya hilang…. (jadi membaca..jadi ada ide untuk bikin proposal desertasi), dan yang paling utama adalah jadi hati-hati dan tidak ceroboh. Dari kejadian itu saya jadi belajar tidak menyalahkan orang lain bahwa orang lain jahat dan bla..bla..bla.. namun bertanggung jawab atas perbuatan saya juga. Rela?? Belum sih..belajar..iya… banyak hal…dan lebih menyadari bahwa materi sifatnya bisa saja sementara… Hadiah undian hilang begitu saja pernah terjadi pada saya… kesal? sempat kok… hadiahnya lumayan… tapi ketika yang menggantikan saya (karena nama saya dibatalkan) ternyata memeluk hadiah tersebut dengan gembira dan sampai-sampai merasa barang itu berharga membuat saya tertegun juga. Butuh waktu beberapa saat untuk sadar..saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut..namun orang lain lebih membutuhkan… Toh saya tidak keluar uang untuk menyumbang, barangnya juga hadiah… nothing to lose. malah membuat orang lain jadi happy… anggap saja menyumbang kata suami saya…

Ada baiknya di dunia yang sudah begitu kompleks kita memang menyederhanakan hidup kita… make it simple kata teman saya… yah itu.. selalu ada blessing in disguise; rahmat atau berkah dalam (apa yang kita anggap) kemalangan. Every cloud has a silver lining… Kalau Frankl saja bisa memaknai penderitaannya di kamp konsenkrasi (yang tidak mungkin banget buat saya), kita tidak usah punya misi sebesar dan serumit itu… dicoba saja dari hal yang kecil… saya juga sedang dalam proses mencoba terus dan terus.. let it go, let it go… dan kemudian mengubah hal tidak menyenangkan menjadi rahmat untuk kita… bisakah kita??? (Jawab: dicoba dan pasti bisaaaa)

CUCU: Kesenjangan antara generasi oleh Sarlito Wirawan Sarwono

Salah satu cucu saya bernama Ammar. Umurnya 3 tahun, tetapi dia fasih sekali bermain gagdet. Yang paling disukainya adalah berbagai game tentang mobil. Dia sama sekali belum bisa membaca, tetapi dia tahu persis mana-mana yang harus disentuh dengan jari mungilnya untuk memunculkan merek mobil yang mana yang dia mau dan mau balapan dengan mobil yang merek apa. Bukan itu saja, dia menirukan suara-suarayang didengarnya, mulai dari bunyi tabrakan sampai kalimat-kalimat bahasa Inggris yang diucapkannya begitu saja tanpa dia mengerti artinya, persis seperti burug beo.

Cucu saya yang lain, sepupu Ammar, namanya Khalif. Umurnya 6 tahun, sudah di kelas 1 SD. Dia juga mulai karirnya seperti Ammar. Main gadget, dilanjutkan dengan nonton kartun Spiderman dan Ben 10, menirukan kata-kata bahasa Inggris dari gadget dan film, maka ketika masih di TK B, dia sudah fasih melahalkan Martin Luther King “Ihave a dream” dalam bahasa Inggris yang bebas dari aksen Tegal seperti kalau Eyang Kakungnya ceramah bahasa Inggris di Kongres Psikologi Internasional.

Di sisi lain, ketika saya seumur kedua cucu saya itu, saya tinggal di Tegal, dengan bahasa Jawa Tegal yang kental. Ketika saya ditest TOEFL untuk dikirim ke Amerika setelah menyelesaikan pendidikan psikolog, saya tidak lulus karena berpikirnya pun masih bahasa Jawa Tegal. Maka saya terpaksa les bahasa Inggris dulu di LIA (Lembaga Indonesia Amerika) dan mengulang tes lagi, kali ini untuk ke Inggris. Alhamdullilah, saya diterima belajar di Universitas Edinburgh, Skotlandia, dan di sanalah saya baru belajar bahasa Inggris betulan, sampai bisa berdiskusi dan menulis makalah dan makalah saya dimuat dalam jurnal internasional untuk yang pertama kali. Itu terjadi di awal tahun 1970an. Tetapi karena saya sudah terlanjur beraksen Tegal, maka logat Tegal itu tidak bisa lepas dari bahasa apapun yang saya ucapkan.

Dalam hal teknologi informasi, sampai jadi mahasiswa tahun kedua, saya hanya tahu radio. TVRI (hitam putih) baru ada ketika saya sudah kuliah di tingkat dua itu. TV berwarna baru saya kenal ketika saya sudah punya dua anak, komputer baru saya tahu ketika saya belajar lagi di Belanda untuk S3 saya (akhir 1970an), dan sejak 1980an saya mulai menggunakan radio panggil atau biasa disebut Starko (salah satu merek provider radio panggil ketika itu), dan kemudian dengan cepat saya menggunakan internet, HP (handphone), email, twitter, blog, Facebook dan tentu saja HP saya berganti menjadi smart phone yang bisa untuk BBM, WA, selfie, bahkan untuk mencari jalan non-macet di Jakarta dengan menggunakan fasilitas GPS Googlemap atau Waze.

Pokoknya dibandingkan dengan pprofesor lain seusia saya, saya tergolong paling canggih dalam ilmu per-gadget-an. Tetapi dibandingkan dengan cucu-cucu saya, saya tetap kalah jauh. Baik dalam soal bahasa, maupun dalam soal per-gadget-an. Ibaratnya cucu-cucu saya ini adalah native speakers dalam dunia bahasa Inggris dan per-gadget-an, karena sejak lahir sudah terpapar dengan semua hal yang generasi saya baru mempelajarinya setelah jauh masuk ke usia dewasa.

***

Kesenjangan antara saya dan cucu saya memang sering dijadikan bahan lucu-lucuan kalau seluruh keluarga sedang ngumpul, tetapi kesenjangan tersebut sebetunya mencerminkan perbedaan antar generasi yang di dunia sudah menimbulkan banyak problem yang serius.

Dalam ilmu Kependudukan, generasi saya yang lahirdi sekitar tahun 1940-1960-an disebut generasi Baby Boomers (BB), anak-anak saya yang lahir antara 1960-1980-an disebut Generasi X (Gen-X) dan generasi yang lahir setelah tahun 1980 biasa disebut Generasi Y (Gen-Y). Ketiga generasi itu mempunyai cara pikir, perilaku dan gaya hidup serta artefak (benda-benda yang digunakan sehari-hari) yang sangat berbeda, terutama di masyarakat golongan menengah-atasyang rata-rata juga berpendidikan menengah-atas. Dengan perkataan lain, secara antropologis ketiga generasi itu hidup dalam budaya yang berbeda.Artinyaketiga generasi itu sebenarnya mengalami kesenjangan budaya, walaupun mereka boleh jadi tinggal dalam satu rumah.

Itulah sebabnya hampir setiap ABG (Anak Baru Gede) berkonflik dengan orangtuanya. Di perusahaan-perusahaan, para Direktur dari generasi BB yang biasa dengan keteraturan dan disiplin, loyalitas serta kemapanan, tidak bisa mengikuti jalan pikiran para manager dari Gen-X yang serba mau cepat, serba terobosan dan cepat pindah kerja kalau ada job yang lebih baik. Gen-X lebih loyal pada dirinya sendiri bukan pada tempatnya dia bekerja.

Tetapi Gen-Y lebih dahsyat lagi. Dunia mereka sudah masuk ke dunia virtual (maya), bukan dunia nyata, apalagi lokal (keluarga, tetangga, teman sekolah dll). Seorang Gen-Y bisa duduk sama pacarnya di kafe, sambil masing-masing ngobrol melalui gadget masing-masing dengan teman masing-masing yang berada di tempat lain, boleh jadi si teman maya itu ada di negara lain, ribuan mil dari kafe tempat mereka pacaran. Karena itu Gen-Y disebut juga generasi Milenial atau generasi Internet atau bahkan Generasi Autis.

Karena dunia mereka adalah dunia global, dan pengaruh media sosial lebih kuat dari pada media massa, maka berbagai ide dan ideologi masuk ke kepala mereka. Kalau globalisasi Gen-X masih terbatas pada budaya pop Amerika, termasuk McD dan KFC, globalisasai Gen-Y sudah mengadopsi K-pop (Korea), komik Manga (Jepang), bahkan radikalisme agama dari Timur Tengah. Akibatnya nilai-nilai Pancasila yang yang dimaksud sebagai niai-nilai pemersatu bangsa Indonesia oleh para pendiri bangsa (generasi pra-BB), sekarang ini menghadapi tantangan yang sangat berat, karena harus berhadapan dengan nilai-nilai global dari Gen-Y yang sangat mungkin bisa mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa dan negara kita.

MANUSIA MODERN

Sarlito Wirawan Sarwono

Kabinet Jokowi berjudul “Kabinet Kerja”, semboyannyapun “Kerja, kerja, kerja!”. Bagus! Sejauh ini pun masyarakat sudah melihat kehadiran pemerintah dalam menyelesaikan berbagai masalah seperti pemulangan TKI dengan pesawat Hercules TNI AU, penenggelaman kapal-kapal ikan liar oleh TNI AL, pembangunan pemukiman baru untuk pengungsi Gunung Sinabung dan masih banyak yang lain.

Tetapi membangun bangsa tidak cukup hanya oleh pemerintah. Rakyat harus terlibat, bahkan rakyatlah sokoguru utama dari pembangunan. Tugas pemerintah adalah menciptakan suasana yang kondusif untuk rakyat bekerja optimal guna membangun negara di sektornya masing-masing. Tetapi rakyat tidak cukup hanya disuruh “Kerja, kerja dan kerja!” saja. Banyak rakyat yang seumur hidupnya bekerja membanting tulang, setiap hari, sejak remaja sampai tua-renta, tetapi kehidupannya tidak beranjak dari “di bawah garis kemiskinan”.

***

Pada tahun 1970-an, seorang sosiolog dari Universitas Harvard, AS, bernama Alex Inkeles, mengamati bahwa banyak negara berkembang yang tidak berkembang, alias macet-cet, seperti jalan Ciawi-Puncak di masa liburan dan lebaran. Inkeles kemudian meneliti lima negara berkembang dan satu negara maju (Argentina, Chili, India, Bangladesh, Nigeria dan Israel) dan menyebarkan angket ke berbagai lapisan dari atas sampai paling bawah dan dari berbagai pekerjaan. Maka ia menemukan bahwa negara-negara yang macet justru yang punya SDA (Sumber Data Alam) yang melimpah, tetapi SDM (Sumber Daya Manusia) mereka tidak mempunyai “Mentalitas Modern” (pastinya Indonesia juga seperti itu).

Adapun mentalitas Modern, menurut Inkeles ditandai oleh sembilan ciri, yaitu: (1) menerima hal-hal yang baru dan terbuka untuk perubahan (2) bisa menyatakan pendapat atau opini mengenai diri sendiri dan lingkungan sendiri atau hal di luar lingkungan sendiri serta dapat bersikap demokratis, (3) menghargai waktu dan lebih banyak berorientasi ke masa depan daripada masa lalu (4) punya rencana dan pengorganisasian, (5) percaya diri, (6) punya perhitungan, (7) menghargai harkat hidup manusia lain, (8) lebih percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (9) menjunjung tinggi keadilan, yaitu bahwa imbalan  haruslah sesuai dengan prestasi.

Sekarang marilah kita lihat bagaimana ciri-ciri mental orang Indonesia. Mochtar Lubis (budayawan Indonesia, pemenang penghargaan Ramon Magsasay), dalam pidato budayanya di Taman Islail Marzuki, tahun 1977 menceritakan 10 sifat yang melekat pada manusia Indonesia, yaitu (1) munafik atau hipokrit, (2) enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, (3) sikap dan perilaku yang feodal, (4) masih percaya pada takhayul, (5) artistik, (6)  lemah dalam watak dan karakter, (7) malas, bekerja hanya kalau terpaksa, (8) suka menggerutu, (9) pencemburu, pendengki, dan (10) sok.

Tentu saja tidak semua manusia Indonesia seperti yang digambarkan oleh Muchtar Lubis. Karena itu saya termasuk salah satu pengritik beliau, ketika pidato budaya itu diterbitkan sebagai buku (“Manusia Indonesia”). Tetapi setelah sekian puluh tahun berlalu, saya pikir-pikir betul juga kata Muchtar Lubis, dan masih berlaku sampai hari ini. Tentu bukan untuk semua orang Indonesia, tetapi jelas untuk sebagian besar orang Indonesia. Orang Indonesia masih memberlakukan “jam karet”, Caleg dan Calon Kepala Daerah minta dukungan dukun atau mandi di bawah air terjun keramat, koruptor yang ditangkap KPK malah senyum-senyum dan memakai baju koko atau berjilbab di pengadilan seakan-akan dia paling siap masuk surga, pejabat tingkat atas mewajibkan setoran dari pejabat-pejabat tingkat bawahnya, lebih percaya kepada “yang di atas” (baca: nasib) dari pada perencanaan dan ilmu pengetahuan, merasa dirinya (baca: agama, etnik atau golongannya) sendiri yang benar dst. Hanya sifat artistik orang Indonesia yang positif, yang sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Sisanya merugikan semua untuk pembangunan bangsa.

Menyadari kenyataan bahwa mentalitas orang Indonesia masih jauh dari modern, dalam rangka “Revolusi Mental”, Presiden Jokowi meminta sebuah tim yang dipimpin oleh Prof. Dr. Paulus Wirutomo, sosiolog dari UI, untuk merumuskan ciri-ciri mental yang paling diperlukan oleh orang Indonesia untuk menjadikannya modern dan mampu bersaing.

Maka tim itu pun mengundang berbagai golongan masyarakat, dari pengusaha sampai rohaniwan, dari mahasiswa sampai cendekiawan, untuk dilibatkan dalam berbagai FGD (Focus Group Discussion) sesuai dengan bidangnya masing-masing, dengan tujuan untuk menjaring dan menyaring nilai-nilai yang paling diperlukan, yang kongrit dan yang operasional untuk membangun bangsa ini. Hasilnya adalah enam nilai Modern versi Indonesia, yaitu (1) Citizenship (sebagai warga negara sadar akan hak dan kewajibannya dan aktif berpartisipasi untuk masyrakat), (2) Jujur (dapat dipercaya), (3) Mandiri (dapat menyelesaikan persoalan sendiri, tidak hanya bergantung kepada pemerinah atau pihak lain), (4) Kreatif (mampu berpikir alternatif, mampu menemukan terobosan, berpikiran flexibel),  (5) Gotong Royong, dan (6) Saling Menghargai (yang kuat menghargai yang lemah, yang mayoritas menghargai yang minoritas, yang laki-laki menghargai yang perempuan, yang generasi senior menghargai yang muda dan seterusnya, dan tentu saja sebaliknya).

***

Secara teoretis, di atas kertas, keenam nilai modern untuk bangsa Indonesia sudah pas dengan kebutuhan Indonesia sekarang. Sudah sesuai dengan ciri-ciri manusia Modern versi Alex Inkels dan sangat kompatibel (saling melengkapi) dengan Pancasila. Masalahnya, bagaimana mengoperasionalkan nilai-nilai itu sampai ke tingkat lapangan? Alex Inkeles sendiri mengusulkan proses pendidikan, tetapi pendidikan terlalu lama untuk bangsa ini, sementara kebutuhan di Indonesia sudah sangat mendesak. Perintah Presiden untuk menalangi dana ganti rugi kepda korban Lapindo, belum-belum sudah dibom dengan formalitas (sumber dana dari mana dsb), apalagi di tingkat lapangan, pasti banyak permainan dari Ketua RT/RW, lurah, camat, bahkan mungkin sampai bupati, sehingga dana jatuh ke tangan yang tidak berhak. Ala maaak…..