BERSYUKUR SELALU, BERBAHAYAKAH?

Oleh: Karel Karsten

Ada berbagai reaksi seseorang ketika dihadapkan pada situasi buruk. Ada yang menyesal, berharap waktu dapat diulang kembali; ada yang frustrasi dan menunjukkannya dalam reaksi emosi berlebihan, tetapi ada juga yang tetap mensyukuri dan mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi tersebut. Emmons dan Shelton (2012) menggambarkan bahwa orang-orang yang mampu bersyukur di dalam hidupnya ditemukan lebih berbahagia, memiliki relasi interpersonal yang lebih positif dan berkualitas, serta lebih optimis dalam memandang hidup.

Bersyukur memang baik – semua agama tentu mengajarkan manusia untuk bersyukur, bahkan orang yang tidak beragama sekalipun kerap bersyukur. Biasanya bersyukur terjadi sebagai reaksi spontan seseorang saat mengalami hal menyenangkan yang tak terduga, misalnya: memenangkan undian, mendapatkan pasangan hidup, mendapat penghargaan di tempat kerja, dan sebagainya. Namun, rasa syukur juga kerap muncul ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang kurang menyenangkan, seperti: menderita kerugian akibat bencana alam, gagal dalam ujian, atau diberhentikan dari tempat bekerja. Untuk kondisi-kondisi sulit seperti ini, bersyukur jelas lebih sulit untuk dilakukan.

Akan tetapi, meskipun sulit untuk dilakukan, rasa syukur ketika mengalami hal-hal yang negatif perlu diwaspadai. Bukan karena bersyukur dapat berdampak negatif, tetapi karena seringkali reaksi bersyukur itu tidak benar-benar mencerminkan syukur yang sejati, melainkan lebih berupa upaya untuk menyelamatkan diri (ego) dari kecemasan akibat kegagalan, penderitaan, atau rasa bersalah karena peristiwa negatif itu – juga dikenal dengan istilah ‘mekanisme pertahanan diri’ menurut Sigmund Freud. Contoh sederhananya, seorang mahasiswa mendapat nilai C pada satu mata kuliah, saat mayoritas teman-temannya mendapat nilai A. Di tengah situasi sulit ini, ia memilih untuk bersyukur karena diberi kesempatan mendapat nilai C. Akhirnya, di pelajaran-pelajaran berikutnya, nilainya pun tidak berubah karena ia tidak berdaya juang untuk mengusahakan sesuatu yang lebih sekalipun sebenarnya ia mampu. Rasa syukur yang seperti ini tentu kurang tepat.

Ekspresi syukur seringkali menjadi ambigu, tercemar dengan berbagai ekspresi sebagai bentuk dari: mekanisme pertahanan diri (rasionalisasi),upaya dengan sengaja untuk melemahkan diri sebagai alasan menghadapi kegagalan (self-handicapping) (Myers, 2007),
upaya menolak tantangan karena khawatir tidak berhasil menaklukkannya sehingga mengaku mensyukuri apa yang sudah ada (Jonah complex; konsep Maslow) (Feist & Feist, 2009).

Tidak semua ekspresi di atas bermakna negatif, bahkan dalam berbagai situasi sangat dibutuhkan demi menjaga keberfungsian diri. Namun, penting bagi kita untuk dengan jeli memeriksa apakah rasa syukur kita ungkapkan sebenarnya benar-benar rasa syukur yang sejati atau upaya tak sadar dari dalam diri untuk mengurangi produktivitas diri kita. Hal-hal berikut ini mungkin dapat membantu kita lebih mudah membedakannya:
Bersyukur yang sejati merupakan reaksi, bukan aksi. Rasa syukur atau gratitude berasal dari bahasa Latin, ‘gratia’, yang berarti ungkapan senang dan berterima kasih atas sesuatu yang semula tidak dimaksudkan dialami oleh seseorang, yang tercermin dalam perilaku memberi, altruis, dan bermurah hati (Emmons & Shelton, 2012).

Emmons dan Crumpler (2000) menyebutkan bahwa bersyukur adalah reaksi emosional ketika seseorang mendapat ‘hadiah’. Jelas terlihat bahwa rasa syukur yang sejati merupakan respon atas stimulus yang tidak terduga namun terjadi dalam hidup seseorang. Jadi, rasa syukur seharusnya tidak ‘diusahakan dengan sekuat tenaga’ (stimulus) demi membuat diri merasa nyaman atau untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (respon). Meskipun demikian, seseorang bisa saja berlatih bersyukur dengan melakukan upaya sadar ‘memaksakan diri’ untuk bersyukur, dengan harapan agar kelak ia dapat bersyukur dengan sendirinya. Jadi, belajar bersyukur tidak salah; yang salah ialah bersyukur yang membuat seseorang lupa belajar.

Bersyukur mengandung ekspresi pemaknaan pengalaman yang positif, bukan protektif. Saat seseorang bersyukur atas suatu peristiwa, ia memaknai peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang positif, tidak selalu dalam hal output-nya, tetapi bisa juga dalam memaknai pembelajaran atau hikmah positif dari peristiwa tersebut. Jadi, bersyukur mengandung unsur penilaian yang positif atas peristiwa yang dialami. Ketika seseorang bersyukur dalam rangka membuat dirinya terproteksi dari pengalaman tidak menyenangkan di masa depan, dari hal-hal sulit yang seharusnya ia lakukan (misal: daripada harus belajar seharian penuh, lebih baik bersyukur mendapat nilai C), jelas itu bukan menunjukkan ungkapan syukur yang sejati.

Sekalipun berupa reaksi, rasa syukur disertai dengan perilaku yang konstruktif. Bayangkan Anda diberikan uang dalam jumlah yang sangat besar sebagai hadiah ulang tahun. Tentu Anda akan bersyukur, dan sebagai wujud dari rasa syukur itu, Anda mungkin berusaha untuk membalas budinya dengan berperilaku baik kepadanya. Perilaku yang konstruktif, membangun, meningkatkan kompetensi diri – ini semua adalah ekspresi dari rasa syukur yang sejati. Jadi, ketika seseorang mendapat nilai jelek dan ia berkata ‘bagaimanapun, saya bersyukur’ serta tidak menunjukkan perilaku yang konstruktif, rasa syukurnya sebenarnya hanya merupakan upaya melindungi diri dari rasa malu dan bersalah. Sebaliknya, ketika mendapat nilai C dan seseorang berkata ‘saya bersyukur diizinkan mendapat pengalaman ini’, lalu menarik pelajaran berharga serta berupaya meningkatkan kompetensi diri, inilah wujud syukur yang sejati (menerima diri secara penuh serta siap melakukan hal yang produktif).

Dengan demikian, bersyukur yang sejati sebenarnya merupakan ungkapan dari dalam diri atas rasa senang luar biasa dari pemaknaan terhadap suatu peristiwa, bukan upaya luar biasa untuk menyenangkan diri dalam memaknakan suatu peristiwa. Jadi, berbahayakah senantiasa bersyukur? Jawabannya: tidak, sepanjang kita tahu dan mampu benar-benar bersyukur.

Daftar Pustaka

Emmons, R.A. & Shelton, C.M. (2002). Gratitude and the Science of Positive Psychology. Dalam Synder, C.R. & Lopez, S.J. (ed.) Handbook of Positive Psychology. New York, NY: Oxford University Press.

Emmons, R. A., & Crumpler, C. A. (2000). Gratitude as human strength: Appraising the evidence. Journal of Social and Clinical Psychol- ogy, 19, 56–69.

Feist, J & Feist, G. J. (2009). Theories of personality (7th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.

Myers, D. G. (2007). Social psychology (9th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.

Advertisements

IMAN PERKAWINAN

Oleh: Sarlito Wirawan Sarwono

Iman artinya percaya. Istilah ini khusus digunakan untuk agama dan Tuhan. Jadi dalam agama kita mengatakan bahwa kita beriman kepada Tuhan, dan karena itu kita bersungguh-sungguh (berkomitmen) melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya serta menghindari apa yang dilarang-Nya. Tetapi kita tidak mengatakan beriman kepada isteri, walaupun kita sungguh-sungguh percaya kepadanya dan karena itu bersungguh-sungguh (berkomitmen) pula melaksanakan apa yang diperintahkannya serta menghindari apa yang dilarangnya.

Saya, misalnya, minum beberapa butir obat dan segelas jamu yang disiapkan isteri saya tiap pagi dan sore. Saya tidak tahu obat-obat apa itu, karena setiap kali ke dokter, dia ikut masuk ke ruang periksa dan dialah yang menghafal obat-obatan yang diresepkan oleh dokter dan meraciknya tiap hari untuk saya, dan dengan patuh saya meminumnya, karena saya percaya kepada isteri saya. Tetapi saya tidak bisa mengatakan bahwa saya beriman kepada isteri saya. Walaupun begitu iman dan percaya pada hakikatnya tetap sinonim.

***

Pada hari Senin tanggal 3 Maret 2015 yang lalu di UI berlangsung sebuah ujian Doktor. Promovendus (calon doktor) yang mempertahankan disertasinya hari itu adalah Dr. Melok Roro Kinanti, seorang psikolog, yang meneliti tentang perkawinan di desa Dadap, Indramayu, Jawa Barat, Desa yang berlokasi di Pantura itu terkenal sebagai desa produsen TKW (Tenaga Kerja Wanita), dan pekerjaan utama penduduknya adalah nelayan dan petani.

Penelitian Dr Melok adalah mengenai faktor-faktor yang menyebakan keberhasilan atau kegagalan perkawinan dalam konteks suami-isteri yang harus berpisah selama bertahun-tahun karena isteri harus bekerja di luar negeri. Untuk itu peneliti telah mewawancarai 11 wanita mantan TKW, enam di antaranya sudah bercerai, sedangkan yang lima masih mempertahankan perkawinannya.  Dari enam yang sudah bercerai, empat disebabkan karena suami berselingkuh selama isteri bekerja di luar negeri, sedangkan yang dua bercerai karena faktor lain, termasuk karena faktor mertua. Sementara itu yang tidak bercerai disebabkan adanya komitmen perkawinan yang diupayakan oleh pasangan yang bersangkutan di tengah banyaknya faktor lingkungan yang sangat mungkin mengganggu pernikahan. Temuan ini mengukuhkan pendapat sebagian psikolog (termasuk saya sendiri) bahwa dengan kepercayaan yang kuat kepada janji perkawinan (akad nikah), maka kemungkinan terjadinya perceraian bisa diperkecil.  Kepercayaan kepada akad-nikah ini bisa saya sebutkan sebagai beriman kepada perkawinan karena ada unsur agama, dan juga ada Tuhan di dalamnya.

***

Di kelas psikologi klinis, di Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia, Jakarta, di mana saya mengajar, pernah saya tanyakan kepada mashasiswa, yang semuanya calon S2 Psikologi Klinis, dan sudah bergelar S1 Psikologi, apakah mereka percaya bahwa keberhasilan perkawinan itu lebih terjamin jika ada faktor yang dipercaya oleh adat Jawa, yaitu “bibit, bebet dan bobot” (keturunan, kelas ekonomi dan tingkat pendidikan) yang baik? Hampir semuanya menjawab, “Percaya!”.

Penasaran, saya masih tanya mereka lagi, apakah mereka percaya bahwa dalam perkawinan, yang paling penting adalah faktor seiman (pasangan suami dan isteri mempunya kepercayaan agama yang sama). Jawabnya lagi-lagi, “Percaya!”,

Tetapi dalam kenyataan yang sebenarnya, situasinya tidak seperti itu. Tengok saja di sekitar anda, teman-teman, kenalan atau kerabat anda, atau mungkin juga termasuk diri dan keluarga anda sendiri. Berapa banyak yang mengalami perceraian, padahal mereka sudah pas betul kalau soal bibit, bebet dan bobot, bahkan juga iman agama. Kedua pihak, yang suami maupun yang isteri sama-sama ganteng dan cantik, berasal dari keluarga-keluarga yang sama-sama terpandang, berada dan berintegritas tinggi, dan juga sudah umroh, atau bahkan berhaji bersama. Pokoknya pasangan yang sangat ideal. Masuk infotainment sudah beberapa kali untuk dijadikan teladan oleh kaum pasangan muda lainnya. Tetapi pasangan ini tiba-tiba diberitakan (dalam infotainment juga) sudah menghadap pengadilan negeri atau pengadilan agama untuk minta bercerai.

Padahal beberapa pekan yang lalu, seorang seniman musik besar, Rinto Harahap yang kebetulan Kristen, meninggal dunia  dengan tenang, serelah menikah 42 tahun, tanpa cela, dengan isterinya yang muslim. Anak-anak mereka pun menjadi dewasa tanpa ada masalah hingar-bingar yang memalukan keluarga (setidaknya yang diketahui masyarakat). Tentu banyak yang protes pada apa yang saya sampaikan ini. Tetapi itulah faktanya, dan saya sedang bicara tentang perkawinan di sini, di dunia ini, bukan tentang apa yang akan terjadi kelak di akhirat.

Pertanyaan kita sekarang, sebagai orang kebanyakan yang masih mendambakan perkawinan yang hanya sekali seumur hidup adalah mengapa perkawinan Rinto Harahap dan para TKW di desa Dadap bisa bertahan, sementara banyak pasangan lainnya tidak? Perkawinan Rinto bertahan, walaupun beda agama, perkawinan sebagian TKW bertahan walaupun hidup verpisah selama beberapa tahun.

Menurut istilah Dr Melok, yang menggunakan teori Bioekologi dari psikolog Brofenbrenner, penyebab bertahannya perkawinan adalah karena adanya proximal processes yang optimal, yang dalam bahasa Indonesia yang sederhana, bisa diartikan sebagai komitmen untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai rintangan yang tujuannya adalah untuk mempertahankan perkawianan itu sendiri.

***

Seperti halnya dengan setiap janji,  janji perkawinan harus dipercaya, dan dilaksanakan dengan taat sampai kepada titik takwa (pokoknya perkawinanku nomor satu). Tentu saja dalam perkawinan tidak digunakan istilah takwa seperti di dalam agama. Karena itulah ada istilah proses proksimal atau komitmen terhadap perkawinan. Yang penting, kedua pihak yang terlibat perkawinan harus sama-sama punya komitmen yang besar terhadap janji perkawinannya sendiri untuk mempertahankan perkawinan. Itulah temuan dari disertasi Dr. Melok Roro Kinanti.

**Artikel ini telah dimuat di KORAN SINDO, 8 Maret 2015

SIMPOSIUM NASIONAL: Pendekatan Biopsikososial dan Spiritual di dalam Psikologi Kesehatan untuk Meningkatkan Well-Being dalam Kondisi Sehat Maupun Sakit

-PELAKSANAAN-
6 April 2015, pk.08.00-16.00wib
Ruang Theater GAP Lantai 8
Universitas Kristen Maranatha

-Topik Yang Akan Dibahas-
* Faktor Biopsikososial & Spiriual dalam kaitannya dengan kesehatan & penyakit kronis.
* Kaitan antara WELL-BEING dengan persepsi diri terhadap kondisi kesehatan, panjang umur, perilaku hidup sehat, penyakit fisik dan mental, relasi sosial, produktivitas, dan berbagai masalah sosial di lingkungan.
* Indikator di dalam WELL-BEING
* Intervensi di dalam Psikologi Kesehatan
* Pengukuran-pengukuran di dalam Psikologi Kesehatan.

-PEMBICARA-
* Dr. Gerard Naring
* Prof. Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, Psik
* Aulia Iskandarsyah, M.Psi., M.Sc., Ph.D
* Dr. Henndy Ginting, Psikolog
* Dr. O. Irene Prameswari Edwina, M.Si., Psikolog – Psikoterapis

-Call for Papers and Proposals-
Peserta dapat mempresentasikan proposal penelitian yang berkaitan dengan tema simposium dan topik-topik yang disebutkan diatas, juga akan dibahas oleh salah satu dari pembicara dan juga peserta simposium. Presentasi tersebut dapat ditulis dalam format artikel penelitian empiris untuk hasil penelitian / makalah literature review untuk proposal penelitian (lihat APA Publication Manual 6th Edition).

Artikel yang sudah direvisi akan diterbitkan ke dalam JURNAL HUMANITAS (terbitan FP-UKM) atau INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PSYCHOLOGY (terbitan ikatan psikologi klinis indonesia). Abstrak hasil atau proposal penelitian ditulis dalam B.Indonesia (tidak lebih dari 350 kata) atau B.Inggris (tidak lebih dari 250 kata), termasuk Judul, Tujuan Penelitian, Metode dan Kesimpulan.

Abstrak dikirim PALING LAMBAT Tgl 15 Maret 2015 melalui E-mail trainingupp@maranatha.edu

Setelah mendapatkan konfirmasi bahwa abstrak diterima, peserta dapat langsung menulis artikel (full paper) yang dimaksud diatas. FULL PAPER di tulis dalam B.Indonesia atau B.Inggris dengan kapasitas 5000-7000 kata dan sudah dikirimkan PALING LAMBAT Tgl 4 April 2015.

-INVESTMENT-
* Mahasiswa UKM S1&S2 : 50.000
* Mahasiswa Umum S1 : 75.000
* Mahasiswa Umum S2 : 100.000
* Dosen & Peneliti : 150.000
* Praktisi : 200.000

-Facilities-
Seminar kit, Certificate, Lunch and Coffee Break.

CP :
Tessa 085294555699
Melissa 085722145445

Tim Penyunting JPU 2015-2018

SELAMAT TAHUN BARU 2015!!

Memasuki awal tahun 2015, Jurnal Psikologi Ulayat mendapatkan bingkisan spesial Tim Penyunting periode 2015-2018 yang segar dan penuh semangat.

Proses seleksi yang dipimpin oleh Ketua Tim Penyunting 2012-2014 telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan, sejak pengumuman melalui milis JPU. Berikut adalah kandidat tim penyunting yang telah masuk ke meja tim seleksi:

1. Karel Karsten, Univ. Pelita Harapan, Jakarta
2. Kuncono, Univ.YAI Persada, Jakarta
3. Pingkan Rumondor, Univ.Bina Nusantara, Jakarta
4. Raymond Godwin, Univ.Bina Nusantara, Jakarta
5. Sri Wahyuningsih Rahmawati, Univ.Tama Jagakarsa, Jakarta
6. Aisyah, Univ.Pancasila, Jakarta
7. Arliza J.Lubis, Universitas Sumatera Utara, Medan

8. Subhan El Hafiz, UHAMKA, Jakarta

Mempertimbangkan peremajaan/regenerasi, kompetensi dan menghormati kesepakatan kerjasama yang diwujudkan dalam penandatanganan Nota Kesepahaman KPIN oleh Univ.Pancasila, Univ.Yarsi, Univ.YAI Persada, Univ.Tama Jagakarsa, Univ.Bunda Mulia, Univ.Pelita Harapan, UHAMKA, Univ.Al-Azhar Indonesia, dan segera menyusul Univ.Sumatera Utara, Univ.Borobdur dan Univ.Bhayangkara, maka Ketua Tim Editor memutuskan untuk mengajukan:

1.Karel Karsten, Univ.Pelita Harapan, Jakarta
2.Sri Wahyuningsih Rahmawati, Univ.Tama Jagakarsa, Jakarta
3.Aisyah, Univ.Pancasila, Jakarta
4.Arliza J.Lubis, Univ.Sumatera Utara, Medan

5.Subhan El Hafiz, UHAMKA, Jakarta

sebagai Tim Penyunting JPU periode 2015-2018, dengan Ketua Tim Editor: Juneman Abraham, yang telah diputuskan dalam pertemuan KPIN 17 Desember 2014.

Keputusan tersebut telah mendapatkan persetujuan Ketua KPIN, Ardiningtiyas Pitaloka dan mengesahkan nama-nama terpilih sebagai Ketua dan Tim Penyunting JPU periode 2015-2018.

Proses penyuntingan menggunakan metode blind review yang akan diatur bersama oleh Sekretariat JPU dan Ketua Tim Editor JPU. Dalam metode ini, penyunting akan melakukan proses review tanpa mengetahui nama maupun institusi asal naskah.

Sekretariat JPU 2015-2018 kini menjadi tanggung jawab Hanrezi Dhania H., Fapsi, Univ.Tama Jagakarsa. Terima kasih dan apresiasi pada Ade Prita, selaku Sekretariat JPU periode 2012-2014.

Penanggunajawab (PIC) Jurnal, Sdr.Yonathan A.Goei juga akan membantu dalam kelancaran proses JPU, selain mengembangkan potensi jurnal lain.

Selamat dan terima kasih atas kesediaan rekan semua untuk terus bersama mewujudkan cita-cita seluruh anggota KPIN. Selamat Berkarya!

Sejarah Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Pada awal tahun 2012, dua orang kolega yang sama-sama pernah menjadi editor jurnal psikologi di Indonesia, Idhamsyah Eka Putra dan Eko A. Meinarno, bertemu dan berdiskusi mengenai masa depan publikasi ilmiah Indonesia. Fokus utama dan pertama mereka adalah permasalahan dalam publikasi jurnal psikologi, yaitu memikirkan bagaimana caranya bisa ada pengelolaan jurnal secara profesional yang tidak terkendala dengan dana dan keterbatasan jumlah artikel.

Banyak jurnal psikolologi di Indonesia mati, matisuri, ataupun tidak jelas penerbitannya karena permasalahan-permasalahan tersebut di atas. Ada juga jurnal yang sudah bagus, tetapi setelah ditinggal oleh editor (pelaksana), jurnal ini menjadi hilang dan tidak jelas. Dalam diskusi, Idhamsyah Eka Putra dan Eko A. Meinarno menyimpulkan bahwa salah satu penyebab kacaunya pengelolaan jurnal karena tidak adanya penghargaan (di samping permasahan lainnya seperti ketersediaan dana), termasuk penghargaan dalam kepantasan pemberian honorarium/bayaran tim kerja jurnal.

Saat memikirkan bagaimana caranya dapat menghargai pengelola Jurnal dengan pantas, merangkul kebutuhan universitas akan  ketersediaan jurnal, mengatur penerbitan jurnal dengan baik, serta mengatasi permasalahan dana, Idhamsyah Eka Putra  menemukan ide membangun Jurnal yang berasal dari berbagai institusi. Ide ini diterima positif oleh Eko A. Meinarno yang kemudian Dia mengembangkan idenya jauh melampaui produksi jurnal tetapi juga hasil-hasil aktivitas ilmiah lainnya. Mereka sepakat bahwa nantinya bentuk pengelolaan seperti ini akan dapat memiliki proses regenerasi yang baik, jurnal tetap hidup, dan para pendidik dapat tetap aktif memberikan konstribusi yang terpublikasi dengan baik.

Ide tersebut disampaikan ke Prof. Sarlito W. Sarwono dan disambut dengan baik. Kemudian Prof Sarlito W. Sarwono dan Idhamsyah Eka Putra membawa ide ini ke rekan-rekan Universitas Sumatera Utara (USU) yang saat itu sedang ada pertemuan Ilmiah. Niat awal USU akan membangun Jurnal baru, tetapi setelah diberikan pemaparan perihal pengelolaan jurnal oleh berbagai institusi, USU kemudian menyambut baik ide ini. Saat itu USU menyambut baik ide pengelolaan jurnal dari berbagai institusi,

Prof Sarlito W. Sarwono memulai mencari jurnal yang dapat dijadikan proyek awal. Yang dipikirkan oleh Prof Sarlito W. Sawono saat itu adalah menggunakan jurnal yang sudah memiliki nama dan sudah memiliki izin publikasi, yaitu Jurnal Psikologi Ulayat (JPU). JPU awalnya dibangun atas kerjasama antara Himpsi Jaya, Bina Nusantara, dan YAI Persada. Setelah menemukan jurnal yang dijadikan sebagai proyek perdana, Prof sarlito W. Sarwono di bawah institusi Universitas YAI Persada mengundang institusi-institusi lainnya untuk bertemu. Pada tanggal 8 Mei 2012, berkumpullah beberapa institusi dan tercetuslah nama wadah aktivitas ini sebagai konsorsium.

Dalam pertemuan di Universitas Pelita Harapan, tanggal 19 Juni 2012, konsorsium menandatangani Nota Kesepahaman Jurnal Psikologi Ulayat (JPU) serta mengesahkan Eko A.Meinarno sebagai Ketua Editor  JPU. Sebelumnya, Eko A. Meinarno telah memaparkan pandangan ke depan konsorsium sampai 2030 dalam pertemuan di Universitas YAI Persada. Secara singkat, konsorsium merupakan wadah ilmiah dari kegiatan penelitian sampai publikasi jurnal, buku, ataupun modul.

Pada akhir tahun 2014 konsorsium sepakat untuk mengembangkan kerjasama lebih luas dan membentuk nama Konsorsium Ilmiah Psikologi Nusantara (KPIN). Fakultas/Program Studi Psikologi yang tergabung menandatangani Nota Kesepahaman KPIN dan Nota Kesepahaman Ketua KPIN (lihat https://konsorsiumpsikologiilmiahnusantara.wordpress.com/2014/12/27/penandatanganan-nota-kesepahaman-kpin/).