Reshuffle Kabinet

Sarlito Wirawan Sarwono

Hari-hari ini media massa maupun obrolan di warung kopi sedang diramaikan oleh isyu reshuffle kabinet. Masyarakat berharap bahwa dengan penggantian menteri-menteri bidang perekonomian, negara akan beres dengan sendirinya. Bahkan ada yang saking gemesnya ocehannya sudah mengarah ke Presien Jokowi sendiri. “Sudah enam bulan harga BBM malah naik, kurs dolar naik, harga Sembako juga naik, Presidennya saja yang turun!”

Yang mengherankan, pandangan publik Indonesia, seakan-akan tidak bergerak dari persepsi negatif dari pemerintahan Jokowi ini. Sebagai contoh, pencalonan Komjen BG, walaupun sudah diselesaikan dengan gaya Jokowi yang penuh kejutan itu, walaupun sudah diterima oleh pihak-pihak terkait (termasuk DPR, Polri dan KPK sendiri), terus saja dianggap sebagai kasus Cicak versus Buaya jilid III. Sepertinya tidak ada selesainya, dan baru mereda setelah mencuat kasus postitusi kelas tinggi, melalui media sosial, yang melibatkan artis AA dan mucikari RA.

Berbeda sekali dengan di masa kampanye. Waktu itu Jokowi belum punya prestasi apapun sebagai presiden. Prestasinya sebagai Walikota Solo pun tidak luput dari gugatan (tidak menyelesaikan masa tugasnya), begitu juga sebagai Gubernur DKI (masalah banjir dan kemacetan lalu-lintas). Bahkan lawan-lawan politiknya menghujat Jokowi dengan isyu-isyu yang berbau SARA (non-muslim, keturunan Tionghoa, dll). Tetapi Jokowi maju terus. Pendukung-pendukungnya pun sangat kreatif, terciptalah ikon “Salam dua jari”, berikut jingle-nya yang sangat memberi semangat. Para relawan, termasuk para artis menggelar konser dadakan di Parkir Timur Senayan, yang menyedot ratusan ribu manusia, walaupun dipersiapkan hanya dalam satu malam! Akhirnya Jokowi memperoleh suara dengan selisih angka yang tipis dari Prabowo, hanya sekitar 8 juta suara, sehingga skor hampir seri 50:50, tetapi Jokowi berhasil memenangkan kontes pemilihan Presiden RI yang fenomenal tersebut.

Dibandingkan dengan Probowo, Jokowi pada waktu itu sebetulnya kalah pamor dari Prabowo yang sosok militer berpengalaman, mantan menantu mantan Presiden Suharto, putra begawan Ekonomi Indonesia, Prof. Dr Sumitro Djojohadikusumo, dan penguaha kelas kakap yang sukses. Jokowi juga pengusaha, tetapi kelasnya beberapa tingkat di bawah Prabowo, dan pengalaman birokrasinya pun baru setingkat lokal. Jokowi belum punya pengalaman nasional, apalagi internasional.

Tetapi Jokowi suka blusukan, dia dekat dengan rakyat, dia ngobrol dengan masyarakat papan paling bawah, dia turun ke gorong-gorong di Jakarta untuk melihat sendiri apa yang membuat macet got sehingga banjir. Inilah yang disukai rakyat, yang dinilai sebagai faktor positif sekaligus kekuatan Jokowi sebagai calon Presiden. Satu faktor positif inilah yang diolah terus-menerus oleh tim relawan Jokowi pada waktu itu, termasuk juga untuk menepis isyu-isyu negatif dari lawan-lawan politik dan berhasil!

Appreciative Inquiry

Pada tahun 1987, dua pakar psikologi dari Universitas Case Western Reserve di Amerika Serikat, yang bernama Daavid Cooperrider dan Suresh Srivastba, meluncurkan sebuah makalah tentang model untuk menganalisis, membuat keputusan dan merencanakan strategi perubahan bagi perusahaan-perusahaan yang mau mencapai kemajuan. Mereka mengritik model analisis Problem Solving yang konvesional, termasuk model amalisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat), karena model problem solving fokus pada mencari kesalahan dan kelainan (“Ada masalah apa, siapa yang salah?), yang pada gilirannya menimbulkan perasaan tak yakin apa yang harus dilakukan, berusaha untuk diperbaiki, tetapi malah makin gagal.

Karena itu Cooperrider dan Srivastba (wafat pada tahun 2010) menawarkan model lain yang dinamakannya Appreciative Inquiry (AI) yaitu bukan menanyakan “Apa yang salah?”, melainkan menanyakan “Apa yang sudah baik?” pada diri kita. Yang baik-baik itu biasanya mudah menimbulkan perasaan berharga atau bangga (apresiatif) dan mendorong semangat untuk berusaha lebih baik dan lebih baik lagi. Model ini telah dicobakan pada berbagai perusahaan dan organisasi sosial dan terbukti jauh lebih berhasil ketimbang model problem solving tradisional.

Perbedaan AI dari model problem solving (PS) tradisional adalah bahwa AI selalu selalu mulai dengan (1) identifikasi apa yang terbaik dari diri kita., (2) membayangkan seperti apa dahsyatnya kekuatan itu, (3) mendiskusikan dengan teman-teman kira-kira apa yang bisa kita lakukan agar kekuatan kita itu bisa lebih dahsyat lagi, dan (4) akhirnya berinovasi untuk merealisasikan mimpi itu. Maka prroses dalam AI itu akan diawali dengan temuan (apa yang hebat), diikuti dengan mimpi (tentang kehebatan itu), perencanaan (bagaimana membuat yang hebat itu lebih dahsyat lagi) dan akhirnya diwujudkan dalam implementasi.

Tetapi juga perlu diperhatikan bahwa ada prinsip-psrinsip tertentu dri AI yang perlu ditaati, yaitu (1) konstruktif (membangun), (2) serentak (biarkan dialog berkembang lintas sektoral, mana yang mengemuka dan berulang-ulang didiskusikan itulah mungkin inti kekuatan kta), (3) puitis (menggunakan narasi, kualitatif, hindari angka atau kuantitatif), (4) antisipatif (dibimbing oleh bayangan kita ke masa depan) dan (5) positif (melibatkan emosi-emosi positif seperti senang, bangga, semangat dan seterusnya yang bisa memicu kreativitas dan inovasi).

Kembali ke reshuffle kabinet.

Bagaimana sekarang dengan Indonesia kita? Merujuk kepada teori AI, yang penting para politisi, pakar, pengamat dan kita semua harus terus bertanya, sampai ketemu jawabannya (discovery) “Apa kehebatan kita?”. Saat ini Indonesia sedang dipimpin oleh Presden Jokowi, maka kita harus cari apa kedahsyatan Jokowi, bukan SBY, Haibie, Suharto (penak jamanku, to…?), atau bahkan Bung Karno. Di jaman kampanye, cepat sekali kita mengpresiasi blusukan-nya Jokowi. Kalau kita mau, sekarangpun mudah kita temukan kedahsyatan Jokowi. Misalnya, menyelenggarakan peringatan Konferensi AA ke 60, menenggelamkan kapal-kepal nelayan asing, menurunkan harga BBM sambil sekaligus menghapus subsidi BBM, memberi amnesti kepada narapidana Papua, membuka Indonesia untuk pers asing, langsung merelokasi pengungsi Gunung Sinabung, dan lainnya.

Top, kan? Minimal itu menurut saya pribadi. Kalau Anda ikut dengan menyumbang ide-ide hebat lainnya, maka kita akan sampai pada gambaran bagaimana luar biasa hebatnya NKRI sehingga bisa kita genjot supaya lebih hebat lagi! Kita remix ucapan Bung Karno, “Kapitalis kita linggis, Cina kita setrika”. Sayangnya, KIH (Koalisi Indonesia Hebat) sendiri malah ikut-ikutan mengritik Jokowi. Artinya meragukan kehebatan Indonesia. Dalam hal ini saya malah lebih suka pada slogan kampanyenya Prabowo, “Kalau bukan kita, siapa lagi! Kalau bukan sekarang, kapan lagi

Advertisements